Ki Hadjar, Krisis Kepemimpinan, dan Teori Kontemporer
Oleh: Bambang Intojo *)
INVESTORTRUST - Di tengah pernyataan pejabat yang mudah berubah, sikap yang lebih mencerminkan kepatuhan kepada atasan ketimbang tanggung jawab kepada publik, serta kecenderungan menempatkan kritik sebagai gangguan, kita berhadapan dengan gejala yang lebih mendasar daripada sekadar komunikasi yang buruk. Yang sedang kita saksikan hari ini adalah ๐ธ๐ฟ๐ถ๐๐ถ๐๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ถ๐บ๐ฝ๐ถ๐ป๐ฎ๐ป.
Krisis itu tampak ketika pejabat publik lebih sibuk membaca kehendak atasan ketimbang kebutuhan masyarakat, ketika pernyataan berubah bukan karena pertimbangan yang matang melainkan karena garis komando bergeser, dan ketika kritik lebih sering diperlakukan sebagai ancaman ketimbang koreksi. Dalam situasi seperti ini, yang goyah bukan hanya keputusan, tetapi juga etika berkuasa dan cara negara berbicara kepada warganya.
Masalahnya bukan semata kekurangan figur kuat, melainkan kegagalan memahami kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan direduksi menjadi loyalitas ke atas, bukan tanggung jawab ke bawah. Yang dipelihara bukan keteladanan, melainkan kepatuhan; bukan pertimbangan, melainkan penyesuaian. Karena itu, krisis kepemimpinan hari ini tidak cukup dijawab dengan pergantian figur. Yang dibutuhkan adalah koreksi atas cara kita memahami kepemimpinan.
Di sini ๐๐ถ ๐๐ฎ๐ฑ๐ท๐ฎ๐ฟ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ menjadi penting dibaca kembali. Jauh sebelum teori-teori kepemimpinan modern dirumuskan, Ki Hadjar telah menawarkan jawaban yang hari ini justru terasa mendesak: kepemimpinan bukan soal mengendalikan orang, melainkan menuntun pertumbuhan manusia. Tiga semboyan -๐๐ฃ๐๐ฃ๐๐๐ง๐จ๐๐จ๐ช๐ฃ๐๐ฉ๐ช๐ก๐๐๐๐, ๐๐ฃ๐๐ข๐๐๐ฎ๐๐ข๐๐ฃ๐๐ช๐ฃ๐ ๐๐ง๐จ๐, ๐ฉ๐ช๐ฉ๐ฌ๐ช๐ง๐๐๐๐ฃ๐๐๐ฎ๐๐ฃ๐- bukan hanya etika pendidikan, tetapi juga kerangka kepemimpinan yang utuh: lentur dalam posisi, etis dalam orientasi, dan berpusat pada pengembangan manusia.
Menariknya, apa yang hari ini dirumuskan sebagai teori kepemimpinan kontemporer justru bergerak ke arah yang telah lebih dahulu diletakkan Ki Hadjar.
๐๐๐ฉ๐ช๐๐ฉ๐๐ค๐ฃ๐๐ก๐ก๐๐๐๐๐ง๐จ๐๐๐ฅ, yang dikembangkan ๐ฃ๐ฎ๐๐น๐๐ฒ๐ฟ๐๐ฒ๐ dan ๐๐ฒ๐ป๐๐น๐ฎ๐ป๐ฐ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ฑ, menekankan bahwa pemimpin harus menyesuaikan gaya dengan tingkat kesiapan orang yang dipimpin. Gagasan ini dekat dengan trilogi Ki Hadjar: ๐ช๐ฏ๐จ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ๐ด๐ข saat pemimpin memberi arah, ๐ช๐ฏ๐จ๐ฎ๐ข๐ฅ๐บ๐ข saat ia mendampingi, dan ๐ต๐ถ๐ต๐ธ๐ถ๐ณ๐ช saat ia memberi kepercayaan.
๐๐ง๐๐ฃ๐จ๐๐ค๐ง๐ข๐๐ฉ๐๐ค๐ฃ๐๐ก๐ก๐๐๐๐๐ง๐จ๐๐๐ฅ, yang dirumuskan ๐๐ฎ๐บ๐ฒ๐๐ ๐ฎ๐ฐ๐๐ฟ๐ฒ๐ด๐ผ๐ฟ๐๐๐ฟ๐ป๐ dan dikembangkan ๐๐ฒ๐ฟ๐ป๐ฎ๐ฟ๐ฑ๐๐ฎ๐๐,melihat tugas pemimpin bukan sekadar mengatur kerja, tetapi membangkitkan motivasi dan mengembangkan kapasitas manusia. Di sini, ๐ช๐ฏ๐จ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ๐ด๐ข๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ฅ๐ฉ๐ข sejalan dengan gagasan pemimpin sebagai teladan moral, sementara ing madya mangun karsa dekat dengan peran pemimpin sebagai penggerak semangat kolektif.
๐๐๐ง๐ซ๐๐ฃ๐ฉ๐ก๐๐๐๐๐ง๐จ๐๐๐ฅ, yang dipopulerkan ๐ฅ๐ผ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐๐ฟ๐ฒ๐ฒ๐ป๐น๐ฒ๐ฎ๐ณ, membalik logika klasik kepemimpinan: pemimpin bukan pertama-tama penguasa, melainkan pelayan bagi pertumbuhan orang lain. Ukurannya bukan seberapa besar kuasa yang ia pegang, tetapi seberapa jauh orang yang dipimpinnya tumbuh menjadi lebih mampu dan mandiri. Gagasan ini paling dekat dengan ๐ต๐ถ๐ต๐ธ๐ถ๐ณ๐ช๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐ช: pemimpin menopang dari belakang agar orang lain dapat berkembang.
Ketiga teori ini lahir dari konteks berbeda, tetapi bergerak ke arah yang sama: kepemimpinan bukan lagi soal dominasi, melainkan pembinaan; bukan terutama soal kuasa, melainkan pertumbuhan. Di sinilah letak kekuatan Ki Hadjar. Jauh sebelum teori-teori itu dirumuskan dalam bahasa manajemen modern, ia telah memahami kepemimpinan sebagai relasi pedagogis: hubungan yang bertujuan menumbuhkan, bukan menaklukkan.
Karena itu, tiga semboyan Ki Hadjar tidak cukup diperingati sebagai warisan pendidikan, apalagi sekadar diulang sebagai slogan seremonial. Dalam situasi krisis kepemimpinan hari ini, ia justru perlu dibaca sebagai jalan keluar.
๐๐ฏ๐จ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ๐ด๐ข๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ฅ๐ฉ๐ข mengingatkan bahwa jabatan tidak memberi wibawa tanpa keteladanan. ๐๐ฏ๐จ๐ฎ๐ข๐ฅ๐บ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐ฌ๐ข๐ณ๐ด๐ข mengingatkan bahwa memimpin bukan hanya memberi perintah, tetapi membangun kehendak bersama. ๐๐ถ๐ต๐ธ๐ถ๐ณ๐ช๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐ช mengingatkan bahwa kuasa yang matang bukan yang terus mengendalikan, melainkan yang mampu memberi ruang tumbuh.
Di tengah krisis kepemimpinan hari ini, mungkin inilah yang paling perlu kita pulihkan: bukan sekadar otoritas untuk ditaati, melainkan keteladanan untuk dipercaya; bukan sekadar kuasa untuk mengatur, melainkan kewibawaan untuk menumbuhkan. Sebab yang paling hilang dari kepemimpinan kita hari ini bukan hanya arah, melainkan ๐ธ๐ฒ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ป.
*) Bambang Intojo, penulis independen, pengamat transformasi sosial politik era digital

