Prabowo Ingin Bawa Rupiah Jadi 16.800 per Dolar AS, Surya Paloh: Selain Optimisme, Apalagi yang Kita Punya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, merespons mengenai target nilai tukar rupiah yang dipatok Presiden Prabowo Subianto di angka Rp16.800 per dolar Amerika Serikat (AS). Di tengah tren pelemahan mata uang garuda belakangan ini, Surya Paloh menegaskan bahwa menjaga optimisme merupakan modal krusial yang tersisa bagi bangsa Indonesia untuk mencapai target tersebut.
Hal itu disampaikan Surya Paloh usai menghadiri Rapat Paripurna DPR RI dengan agenda penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
"Selain optimisme, apalagi yang kita punya? Itu barangkali yang perlu kita pahami. Modal kita yang terakhir adalah optimisme itu sendiri. Saya pikir kita tidak perlu berargumentasi, ya tinggal optimisme itu. Kalaupun itu selesai, ya kita tidak punya apa-apa lagi. Tapi mudah-mudahan kita masih bisa menjaga optimisme itu," ujar Surya Paloh kepada awak media.
Namun Surya mengingatkan bahwa implementasi di lapangan tidak akan berjalan mudah. Ia meminta pemerintah untuk bersikap realistis dan segera menyiapkan rencana cadangan jika strategi ekonomi yang disusun tidak berjalan sesuai ekspektasi.
Baca Juga
Pemerintah Bidik Pertumbuhan Ekonomi 2027 hingga 6,5%, Rupiah Level Rp 16.800-17.500
"Kita mendukung pikiran-pikiran besar ini, tetapi dengan satu syarat yang tidak bisa terlepaskan dari komitmen kita bersama, pemerintah sendiri harus bisa menjaga, mempunyai reserve bagaimana kalau hal ini tidak teraplikasikan berjalan sesuai dengan rencana. Ini yang saya perlu tekankan," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Surya Paloh juga menanggapi dinamika pasar modal, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi hingga menyentuh level 6.200 menyusul diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) terbaru oleh Presiden.
Tokoh senior korporasi dan politik ini berharap sentimen negatif di lantai bursa tersebut hanya bersifat temporer. Namun, ia mewanti-wanti pemerintah untuk segera melakukan evaluasi mendalam jika kondisi pasar terus memburuk.
"Ya, mungkin kita harapkan itu hanya indikasi sementara saja. Tapi kalau itu semakin turun terus-menerus, nah itu yang seperti saya katakan, ini perlu dievaluasi kembali," pungkas Surya Paloh.

