Menjawab Dominasi Institusi Global dengan Kekuatan Sendiri
“Sebuah Refleksi Kebangkitan Nasional“
Oleh: Teguh Anantawikrama *)
INVESTORTRUST - Dunia sedang berubah jauh lebih cepat daripada kemampuan banyak negara untuk beradaptasi. Kita hidup di era ketika institusi-institusi global yang selama puluhan tahun menjadi pusat gravitasi ekonomi dunia mulai menghadapi tantangan legitimasi, efektivitas, dan relevansi.
Perang dagang, konflik geopolitik, fragmentasi rantai pasok global, krisis energi, inflasi lintas negara, hingga rivalitas teknologi antara kekuatan besar dunia telah membentuk sebuah realitas baru: dunia tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh satu pusat kekuatan.
Di tengah perubahan tersebut, Indonesia justru menemukan momentum kebangkitannya.
Pertanyaannya sederhana: apakah Indonesia hanya akan menjadi pasar, atau mulai menjadi pemain utama?
Saya percaya, inilah saatnya Indonesia menjawab dominasi institusi global dengan kekuatan sendiri.
Bukan dengan konfrontasi. Tetapi dengan ketahanan nasional, keberanian strategis, dan kepercayaan diri sebagai bangsa besar.
Indonesia telah berkali-kali membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang resilien.
Saat krisis Asia 1998 menghancurkan banyak fondasi ekonomi nasional, Indonesia berhasil bangkit dan membangun kembali demokrasi serta ekonomi modernnya. Ketika krisis finansial global 2008 mengguncang dunia, Indonesia termasuk sedikit negara yang tetap tumbuh positif di atas 4%.
Saat pandemi COVID-19 melumpuhkan ekonomi global, Indonesia mampu kembali pulih dengan cepat melalui penguatan konsumsi domestik, hilirisasi industri, serta transformasi digital nasional.
Hari ini, di tengah ketidakpastian global, IMF kembali menilai ekonomi Indonesia tetap resilien dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 5% di tengah tekanan global yang berat.
Sementara itu, IMF memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi global ke depan menjadi salah satu yang terlemah sejak krisis 2009 akibat proteksionisme, ketegangan geopolitik, dan fragmentasi perdagangan dunia.
Artinya apa? Artinya, dunia sedang kehilangan pusat stabilitas lamanya.
Dan di tengah kekosongan itu, negara-negara middle power seperti Indonesia memiliki kesempatan historis untuk mengambil peran yang lebih besar.
Indonesia bukan lagi sekadar negara berkembang biasa.
Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, bonus demografi, kekayaan sumber daya alam strategis, posisi geopolitik di jalur perdagangan dunia, serta kekuatan pasar domestik yang besar, Indonesia memiliki semua syarat menjadi pusat pertumbuhan baru dunia.
Kita memiliki nikel, tembaga, energi hijau, biodiversitas, kekuatan pangan tropis, hingga ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Tetapi kebangkitan nasional tidak cukup hanya dengan sumber daya.
Kebangkitan membutuhkan arah.
Selama terlalu lama, banyak negara berkembang didorong untuk mengikuti pola pembangunan yang bergantung pada pusat-pusat kekuatan global. Akibatnya, banyak negara hanya menjadi eksportir bahan mentah, pasar konsumsi, dan penyedia tenaga kerja murah.
Indonesia tidak boleh lagi berjalan di jalur itu. Kita harus membangun kekuatan sendiri.
Hilirisasi adalah awalnya. Tetapi nilai tambah nasional harus melampaui sekadar smelter dan industrialisasi dasar.
Indonesia harus mulai membangun penguasaan teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi hijau, pangan masa depan, industri kesehatan, hingga ekosistem digital nasional.
Kita tidak boleh hanya menjadi penonton revolusi teknologi dunia.
Kita harus ikut menentukan arah permainan. Dalam konteks geopolitik global, Indonesia juga memiliki peluang besar memainkan peran sebagai penyeimbang dunia.
Ketika rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok semakin tajam, dunia membutuhkan negara yang mampu menjadi jembatan dialog, pusat stabilitas regional, sekaligus mitra strategis yang independen.
Indonesia memiliki modal moral dan historis untuk itu. Semangat Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 menjadi bukti bahwa Indonesia sejak awal lahir sebagai bangsa yang percaya bahwa negara-negara berkembang memiliki hak menentukan masa depannya sendiri.
Dalam pidato pembukaan Konferensi Asia Afrika, Soekarno mengatakan: “Let a new Asia and a new Africa be born.” Dan dalam pidato yang sama, Bung Karno juga mengingatkan dunia:
“Colonialism is not yet dead.” Kalimat itu hari ini terasa kembali relevan.
Kolonialisme modern tidak selalu hadir dalam bentuk pendudukan militer. Ia bisa hadir dalam bentuk dominasi teknologi, ketergantungan ekonomi, monopoli rantai pasok global, hingga ketimpangan akses terhadap modal dan inovasi.
Karena itu, semangat Bandung bukan sekadar sejarah diplomasi. Bandung adalah simbol keberanian bangsa-bangsa untuk berdiri sejajar dan menentukan jalan sendiri.
Masuknya Indonesia dalam berbagai forum global seperti G20 dan BRICS menunjukkan bahwa suara Indonesia semakin diperhitungkan dalam percaturan internasional.
Namun pengaruh global hanya akan bermakna jika ditopang kekuatan domestik yang kokoh. Karena itu, kebangkitan nasional hari ini harus dimulai dari penguatan UMKM, pendidikan, ketahanan pangan, teknologi nasional, energi, serta kualitas sumber daya manusia.
Negara yang besar bukan hanya negara yang kaya sumber daya. Tetapi negara yang mampu mengonsolidasikan kekuatannya menjadi pengaruh. Saya percaya, Indonesia sedang menuju titik itu.
Dunia sedang memasuki era turbulensi panjang. Institusi global tidak lagi sepenuhnya mampu menjadi penyangga stabilitas dunia. Fragmentasi ekonomi akan terus terjadi. Perebutan sumber daya strategis akan semakin keras. Tetapi justru di tengah ketidakpastian itu, Indonesia memiliki kesempatan menjadi jangkar stabilitas baru.
Kebangkitan nasional bukan sekadar slogan emosional. Ia adalah keberanian sebuah bangsa untuk percaya pada kemampuannya sendiri.
Dan sejarah menunjukkan, bangsa yang mampu bertahan dari berbagai krisis biasanya adalah bangsa yang siap memimpin masa depan. Kini saatnya Indonesia tidak hanya hadir di dunia. Tetapi ikut menentukan arah dunia.
*) Teguh Anantawikrama, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia

