Demokrasi Seolah-olah
Oleh: Bambang Intojo
INVESTORTRUST - Pada 1991, ๐๐ผ๐ฟ๐๐บ ๐๐ฒ๐บ๐ผ๐ธ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ merilis pernyataan bertajuk โ๐ฆ๐ฒ๐ธ๐ฎ๐น๐ถ ๐๐ฎ๐ด๐ถ ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ผ๐ฟ๐๐บ ๐๐ฒ๐บ๐ผ๐ธ๐ฟ๐ฎ๐๐ถโ, yang ditandatangani ๐๐ฏ๐ฑ๐๐ฟ๐ฟ๐ฎ๐ต๐บ๐ฎ๐ป ๐ช๐ฎ๐ต๐ถ๐ฑ. Setahun kemudian, ForDem kembali menyuarakan kegelisahan serupa melalui pernyataan โ๐ง๐๐บ๐ฏ๐๐ต๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐น๐ถ ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฟ๐ถ๐๐ถ๐ ๐ ๐ฎ๐๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐โ. Keduanya menandai satu diagnosis yang tajam: masyarakat Indonesia hidup dalam suasana โ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ฎ๐ต-๐ผ๐น๐ฎ๐ตโ - seolah-olah hukum tegak, seolah-olah demokrasi berjalan, seolah-olah kebebasan tersedia.
Lebih dari tiga dekade berlalu, tetapi kegelisahan itu tidak benar-benar usang. Yang berubah bukan gejalanya, melainkan cara kerjanya. Demokrasi tetap hadir sebagai bentuk, tetapi mekanisme yang menopangnya bergeser. Jika pada masa Orde Baru demokrasi dipertahankan melalui penertiban, maka dalam Neo Orde Baru ia dipelihara melalui orkestrasi. Yang satu membatasi ruang politik agar tetap aman bagi kekuasaan; yang lain membiarkan ruang itu tampak terbuka, tetapi mengelola arah, persepsi, dan dampaknya. Di titik inilah โ๐๐๐ข๐ค๐ ๐ง๐๐จ๐ ๐จ๐๐ค๐ก๐๐-๐ค๐ก๐๐โ menemukan dua wajahnya: dulu sebagai ritual yang ditertibkan, kini sebagai pengalaman yang diorkestrasi.
Pada Orba, demokrasi tidak dihapus. Ia dipelihara sebagai bentuk yang tertib, jinak, dan aman bagi kekuasaan. Pemilu tetap diselenggarakan, parlemen tetap bersidang, partai tetap dipertahankan, tetapi semuanya bergerak dalam ruang yang telah diatur. Demokrasi hadir sebagai prosedur, tetapi dibatasi sebagai daya. Ia tidak dirancang untuk membuka kompetisi yang sungguh-sungguh, melainkan untuk meneguhkan keteraturan yang telah ditetapkan.
Arsitektur Orba ditopang oleh empat unsur. Pertama, ๐๐ฒ๐ป๐๐ฟ๐ฎ๐น๐ถ๐๐ฎ๐๐ถ ๐ธ๐ฒ๐ธ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ฎ๐ป. Kekuasaan dipusatkan pada satu poros: Soeharto. ABRI, birokrasi, dan Golkar menjadi instrumen utama untuk memusatkan kontrol, menjangkau masyarakat, dan memastikan loyalitas. Negara tidak bekerja sebagai institusi yang otonom, melainkan sebagai orbit kekuasaan yang berpusat pada figur tunggal.
Kedua, ๐ฟ๐ฒ๐๐ถ๐บ ๐๐๐ฎ๐ฏ๐ถ๐น๐ถ๐๐ฎ๐. Stabilitas bukan sekadar slogan keamanan, melainkan cara mengatur elite. Militer, birokrat, teknokrat, Golkar, dan pengusaha diikat dalam orbit yang sama melalui distribusi jabatan, akses, rente, dan proteksi. Stabilitas bukan hanya ketertiban politik, melainkan mekanisme loyalitas.
Ketiga, ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐น๐ฒ๐ด๐ถ๐๐ถ๐บ๐ฎ๐๐ถ. Orba tidak hanya memerintah; ia juga terus memproduksi alasan mengapa ia layak memerintah. Stabilitas, pembangunan, Pancasila, pemilu, dan institusi formal dipelihara sebagai panggung legitimasi. Di saat yang sama, legitimasi diperkuat melalui penciptaan musuh bersama: komunisme, PKI, dan โekstrem kananโ dipelihara sebagai ancaman laten yang harus terus diwaspadai. Dengan cara itu, negara tidak hanya tampil sebagai pengelola ketertiban, tetapi juga sebagai pelindung bangsa dari bahaya yang terus dibayangkan. Demokrasi tetap ada, tetapi lebih berfungsi sebagai konfirmasi daripada kompetisi.
Keempat, ๐ฟ๐ฒ๐๐ถ๐บ ๐ธ๐ฒ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐๐ฟ๐ฎ๐ป. Orba tidak cukup hanya menguasai negara; ia juga membentuk masyarakat yang patuh. Propaganda, sensor, penataran, penertiban, dan keseragaman bekerja untuk membentuk kepatuhan sebagai kebiasaan. Demokrasi dijaga bukan hanya lewat kontrol politik, tetapi juga lewat pembentukan mentalitas sosial.
Jika Orba bekerja dengan menertibkan demokrasi, Neorba bekerja dengan mengorkestrasi demokrasi. Bentuk-bentuk demokrasi tetap hidup -bahkan tampak lebih terbuka, lebih partisipatif, dan lebih ekspresif- tetapi justru karena itu lebih lentur dalam mengelola persepsi. Demokrasi tidak lagi terutama dibatasi, melainkan dikurasi.
Arsitektur Neorba ditopang oleh tiga unsur. Pertama, ๐ผ๐๐ผ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ฎ๐ป๐ถ๐๐บ๐ฒ ๐๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ ๐ฑ๐ถ๐ธ๐๐ฎ๐๐ผ๐ฟ. Kekuasaan tidak lagi bertumpu pada satu figur absolut, tetapi bekerja melalui jejaring elite yang tersebar. Kontrol tidak hilang; ia terdistribusi. Otoritarianisme tidak lagi tampil sebagai komando tunggal, melainkan sebagai koordinasi yang cair.
Kedua, ๐ฟ๐ฒ๐๐ถ๐บ ๐๐ฟ๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ธ๐๐ถ. Stabilitas tidak lagi terutama dijaga melalui komando, melainkan melalui negosiasi, koalisi, dan distribusi akses antar elite. Loyalitas dibangun melalui transaksi, bukan disiplin tunggal. Politik tetap bergerak, tetapi lebih sebagai pengaturan kepentingan daripada pertarungan arah.
Ketiga, ๐ฟ๐ฒ๐๐ถ๐บ ๐ฎ๐น๐ด๐ผ๐ฟ๐ถ๐๐บ๐ฎ. Jika Orba membentuk kepatuhan melalui propaganda, Neorba membentuk persepsi melalui arus informasi. Algoritma, ๐ช๐ฏ๐ง๐ญ๐ถ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ณ, ๐ฃ๐ถ๐ป๐ป๐ฆ๐ณ, dan sirkulasi atensi menggantikan sensor sebagai instrumen utama pengendalian. Informasi tidak lagi dibatasi; ia dilimpahkan, diarahkan, lalu dipercepat hingga kehilangan daya korektifnya.
Gejala ini tampak jelas dalam praktik pemilu. Secara prosedural, demokrasi terlihat berjalan normal: pemilu rutin, partisipasi tinggi, dan kompetisi terbuka. Namun pilihan sering kali menyempit oleh konfigurasi elite. Koalisi besar yang terbentuk sejak awal membuat batas antara kekuasaan dan oposisi menjadi kabur. Kandidat hadir sebagai hasil kompromi, bukan semata artikulasi kehendak publik. Pemilu tetap menjadi arena, tetapi ruang alternatif kian terbatas.
Di parlemen, mekanisme berjalan tanpa banyak gangguan. Sidang digelar, undang-undang disahkan, perdebatan berlangsung. Namun keputusan-keputusan penting kerap lahir di luar ruang yang dapat diakses publik. Representasi tetap ada, tetapi daya kritisnya menipis. Demokrasi hadir sebagai prosedur yang rapi, meski tidak selalu sebagai praktik yang hidup.
Perubahan paling mencolok terjadi di ruang digital. Informasi tidak lagi langka, melainkan melimpah. Namun kelimpahan ini tidak serta-merta menghadirkan kejernihan. Algoritma, ๐ช๐ฏ๐ง๐ญ๐ถ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ณ, ๐ฃ๐ถ๐ป๐ป๐ฆ๐ณ, dan jejaring komunikasi membentuk arus perhatian publik. Isu dapat dengan cepat menjadi pusat perbincangan, lalu menghilang tanpa jejak. Kritik muncul dalam gelombang besar, tetapi sering kali tidak berujung pada perubahan yang berarti.
Dalam situasi seperti ini, publik tidak selalu berhadapan langsung dengan realitas, melainkan dengan realitas yang telah dikurasi - bahkan disusun. Sebuah kebijakan dapat memicu mobilisasi opini yang luas di media sosial, lengkap dengan tagar dan tekanan publik. Namun dalam hitungan hari, perhatian bergeser. Isu lain mengambil alih. Yang tersisa bukanlah penyelesaian, melainkan jejak perhatian yang singkat.
Fenomena serupa tampak dalam praktik partisipasi publik. Forum diskusi, survei, uji publik, dan konsultasi dihadirkan sebagai ruang keterlibatan warga. Namun tidak jarang keputusan inti telah ditentukan sebelumnya. Partisipasi menjadi bagian dari prosedur, bukan penentu arah. Ia menghadirkan kesan inklusivitas, tanpa selalu menghadirkan pengaruh yang nyata.
Maka politik semakin bergerak ke wilayah citra. Figur publik dibentuk melalui narasi, visual, dan pengelolaan persepsi. Yang tampil di hadapan publik bukan sekadar individu, melainkan representasi yang telah dikonstruksi. Publik tidak hanya memilih pemimpin, tetapi juga mengkonsumsi gambaran tentang kepemimpinan itu sendiri.
Dalam batas tertentu, kondisi ini dapat dibaca melalui gagasan ๐๐ฒ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐๐ฑ๐ฟ๐ถ๐น๐น๐ฎ๐ฟ๐ฑ tentang bagaimana realitas modern kerap tampil melalui representasi yang lebih dominan daripada kenyataan itu sendiri - sebuah kondisi yang mendekati apa yang ia sebut sebagai ๐จ๐๐ข๐ช๐ก๐๐๐ง๐. Namun tanpa harus masuk terlalu jauh ke wilayah teoretis, yang tampak jelas adalah satu hal: demokrasi hari ini tidak hanya dijalankan, tetapi juga ditampilkan.
Karena itu, persoalan demokrasi hari ini bukan semata apakah prosedur masih berjalan, melainkan apakah daya korektifnya masih hidup. Demokrasi dapat tetap hadir sebagai pemilu, parlemen, partisipasi, dan kebebasan berekspresi - namun kehilangan kapasitas untuk sungguh mengubah arah kekuasaan.
Tiga dekade lalu, โ๐๐ฒ๐ผ๐น๐ฎ๐ต-๐ผ๐น๐ฎ๐ตโ adalah sesuatu yang dipaksakan. Hari ini, ia hadir sebagai pengalaman. Dulu demokrasi dijaga sebagai ๐ฟ๐ถ๐๐๐ฎ๐น ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ถ๐ฏ๐ธ๐ฎ๐ป. Kini ia dipelihara sebagai ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐ผ๐ฟ๐ธ๐ฒ๐๐๐ฟ๐ฎ๐๐ถ. Justru di situlah persoalannya bermula.
*) Bambang Intojo, penulis independen, pengamat transformasi sosial politik era digital.

