President Club dan PSAPI Luncurkan Buku Chappy Hakim, Belajar dari Perang Iran-AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - President Club bersama Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia menggelar peluncuran dan diskusi buku terbaru karya Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim berjudul National Air Power: Belajar dari Perang Iran–Amerika. Peluncuran buku National Air Power ini menandai bertambahnya sumbangsih pemikiran bagi dunia dirgantara dan pertahanan Indonesia dari salah satu tokoh senior kedirgantaraan Tanah Air.
Kekuatan udara jadi instrumen strategis negara Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim ialah tokoh militer sekaligus pemikir strategis di bidang kedirgantaraan Indonesia. Ia merupakan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KASAU) periode 2002–2005 dan dikenal luas sebagai penulis aktif di bidang kedirgantaraan, pertahanan, dan keamanan.
Sudah lebih dari 50 buku ia tulis dan buku-bukunya menjadi salah satu rujukan utama dalam literasi militer di Indonesia. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Umum Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) dan aktif mendorong penguatan pemahaman air power dalam konteks geopolitik global.
Dalam buku yang diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia ini, Chappy Hakim membahas bagaimana kekuatan udara saat ini tidak lagi hanya dimaknai sebagai kemampuan militer semata. Tapi juga bagian dari strategi negara dalam menjaga kedaulatannya di tengah dinamika geopolitik global.
“Misi dari (meluncurkan) buku sebenarnya ialah untuk menyadarkan kita semua betapa pentingnya wilayah udara kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya mengajak ‘yuk mari kita kelola dengan baik’," ucap Chappy Hakim usai peluncuran buku di Jakarta, Minggu (10/5/2026).
"Kita buat long term strategic planning untuk membangun sistem pertahanan nasional yang di bawahnya ada subsistem yang bernama Sistem Pertahanan Udara Nasional. Karena pelajaran dari konflik di Timur-Tengah menunjukkan bahwa musuh sangat mudah menyerang sebuah negara melalui udara. Itu yang sangat prinsip,” imbuhnya.
Pandangan tersebut kemudian dituangkan Chappy Hakim secara lebih mendalam melalui buku National Air Power. Lewat buku tersebut, pembaca diajak melihat secara komprehensif konsep national air power atau kekuatan udara nasional. Ia menekankan, kekuatan udara bukan lagi sekadar pelengkap dalam sistem pertahanan, namun salah satu instrumen utama dalam menjaga kedaulatan, keamanan, serta kepentingan nasional suatu negara.
Pembahasan dalam buku ini juga disusun begitu sistematis. Mulai dari landasan pemikiran serta teori kekuatan udara dari masa ke masa. Chappy membedah bagaimana teori-teori ini berkembang sejak awal abad ke-20 – saat teknologi penerbangan pertama kali digunakan untuk tujuan militer – hingga bertransformasi menjadi kekuatan yang sangat dominan di era modern saat ini.
Ketua Yayasan Pustaka Obor Indonesia Kartini Nurdin menilai, Chappy mampu memberikan penjelasan mendalam mengenai hubungan timbal balik antara kekuatan udara dengan pencapaian kepentingan nasional melalui berbagai studi kasus strategis. Sehingga, salah satu nilai jual utama dari buku ini adalah analisis tajam terhadap peristiwa-peristiwa bersejarah yang telah mengubah jalannya dunia.
"Pak Chappy Hakim menggunakan sejumlah studi kasus penting untuk menunjukkan betapa besarnya dampak kekuatan udara terhadap strategi pertahanan dan tatanan keamanan global,” ungkap Kartini.
Baca Juga
Konflik Selat Hormuz Picu Pembatalan Polis Risiko Perang, Industri Asuransi Global Tertekan
Peristiwa-peristiwa yang dibahas, antara lain: serangan ke Pearl Harbor, pemboman Hiroshima dan Nagasaki, serta serangan 11 September 2001 yang menjadi sebuah pengingat modern akan kerentanan ruang udara dan bagaimana ancaman udara dapat mengubah arah kebijakan keamanan dunia.
“Lebih jauh lagi, buku ini secara khusus mengambil pelajaran dari dinamika Perang Iran-Amerika Serikat. Melalui perspektif ini, pembaca diajak untuk memahami bagaimana kekuatan udara diuji dalam konflik kontemporer yang melibatkan persinggungan teknologi, diplomasi, dan taktik militer yang sangat kompleks,” tambah Kartini Nurdin.
Dalam peluncuran buku itu turut hadir pula Menteri Pertahanan RI periode 2009–2014 Purnomo Yusgiantoro. Ia menekankan pentingnya mengedepankan diplomasi dibandingkan pendekatan hard power dalam menjaga kedaulatan negara. Menurutnya, sebagai negara berkembang yang masih membutuhkan banyak kemitraan strategis, Indonesia perlu mengutamakan pendekatan diplomasi atau soft power, sehingga penggunaan kekuatan militer benar-benar menjadi pilihan terakhir.
Purnomo mengatakan, saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan, dirinya selalu membangun koordinasi erat dengan Kementerian Luar Negeri dalam merumuskan kebijakan pertahanan nasional. Meski demikian, ia juga menyoroti adanya sejumlah negara yang memilih pendekatan berbeda dengan mengedepankan strategi “attack first” sebelum diplomasi dilakukan.
“Jadi posisinya, Kementerian Luar Negeri berada di depan, sementara Kementerian Pertahanan mengikuti,” ujar Purnomo.
Menurut Chappy, Indonesia perlu belajar membangun industri pertahanan udara yang lebih mandiri, adaptif, dan berbasis teknologi, dengan mengambil pelajaran dari pengalaman Iran menghadapi tekanan geopolitik global. Seperti diketahui, Iran tetap bisa membangun teknologi pertahanan meski bertahun-tahun terkena embargo dan sanksi internasional.
“Konflik Iran dan Amerika telah menciptakan sejarah baru dalam taktik dan strategi perang udara. Kedua negara menunjukkan dominasi kekuatan udara yang kini berkembang ke arah perang siber, mulai dari pemanfaatan artificial intelligence (AI) hingga drone. Saat ini, perang bukan lagi sekadar kekuatan senjata, melainkan telah berubah menjadi perang sistem melawan sistem,” beber Chappy.
Adapun, Founder and Chairman Jababeka Group sekaligus founder President University dan President Club, Setyono Djuandi (SD) Darmono, mengatakan buku ini penting untuk memperluas wawasan tak hanya bagi kalangan militer, tapi juga akademisi, pembuat kebijakan dan masyarakat luas.
“Saya kira buku ini memang sangat penting, terutama untuk pembuat kebijakan, dalam arti polisi atau tentara yang menjaga udara Indonesia. Buku ini membuka wawasan kita bahwa konflik modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan negara besar. Iran menunjukkan bagaimana pertahanan udara yang kuat dan penggunaan drone berbiaya rendah mampu menghadapi sistem persenjataan modern yang jauh lebih mahal,” terang Darmono.

