Pramono Sukses Bongkar Tiang Monorel dan Kini Menata Ulang Koridor Rasuna Said
Poin Penting
|
Jakarta, investortrust.id – Kemacetan di Jl HR Rasuna Said akan semakin terurai usai dibongkarnya tiang monorel yang mangkrak oleh Gubernur Jakarta, Pramono Anung. Akan, ya akan. Deretan tiang beton kusam dengan batang-batang baja yang mencuat itu telah lenyap. Pembatas antara jalur cepat dan jalur lambat juga ikut dibongkar. Sebelumnya, 109 tugu kelabu (98 di Rasuna Said dan 11 di Jl Asia-Afrika) yang beku selama 20 tahun itu seperti menjadi potret suram proyek yang sempat digadang menjadi simbol kecanggihan transportasi Jakarta.
Tapi itu dulu. Sekarang Jl HR Rasuna Said semakin macet. Bukan karena pembatas, juga bukan karena tiang monorel yang berdiri kaku. Riuh rendah driller yang membongkar beton pembatas dan pekerja yang hilir mudik membuat sebagian ruas jalan menyempit. Kemacetan menjadi. Tapi tidak ada komplain, tidak ada gerutu di media sosial.
Masyarakat pengguna jalan tahu kemacetan ini untuk proses yang lebih baik. Pengguna jalan ini tidak hanya mereka yang memakai ban karet untuk menjejak aspal, tapi juga mereka yang memakai sol karet untuk berjalan kaki. Ya, trotoar di sisi timur koridor Rasuna Said juga diperbaiki.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini tengah menuntaskan penataan ulang kawasan strategis Jakarta Selatan. Koridor bisnis Kuningan akhirnya dirapikan, membuka ruang baru bagi pembangunan infrastruktur yang lebih relevan dengan kebutuhan kota saat ini.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa setelah pembongkaran selesai, Pemprov segera memulai pembangunan trotoar baru, drainase, utilitas bawah tanah, taman kota, dan penataan jalan di sepanjang Rasuna Said. Target penyelesaian penataan tahap awal ditetapkan pada hari jadi Kota Jakarta. Saat menghadiri acara 'Halalbihalal Paguyuban Jawa Tengah 2026' di kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026), Pramono mengatakan Jalan Rasuna Said yang bebas dari tiang monorel akan diresmikan pada 22 Juni 2026.
"Satu lagi yang dari Bang Yos yang disampaikan kepada saya mengenai monorel. Maka kenapa secara khusus ketika kita merapikan, menebang, memotong monorel yang jumlahnya 109 monorel tadi, saya memberikan kepada Bang Yos," ujar Pramono dalam sambutannya seperti dikutip dari Detik.com. Sutiyoso yang hadir memenuhi undangan Pramono Anung memang secara simbolis melakukan pemotongan baja dari tiang monorel pertama yang dibongkar di kawasan Rasuna Said, Setiabudi, Rabu, (14/1/2026).
Di masa pemerintahan Sutiyoso, tiang pancang pertama diresmikan oleh Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri. Sutiyoso mengaku lega dengan dibongkarnya 'monumen kegagalan', demikian ia menjuluki tiang-tiang monorel itu. “Jujur saja, hari ini hati saya lega sekali dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono,” ujar Sutiyoso dalam acara yang juga dihadiri oleh wakil Gubernur DKI, Rano Karno seperti dikutip dari Beritakota.
Dari Proyek Mangkrak Menjadi Ruang yang Layak
Selama 20 tahun, keberadaan tiang monorel tersebut dinilai mengganggu estetika kota, menyempitkan ruang pandang jalan, dan menjadi pengingat buruknya tata kelola proyek infrastruktur masa lalu. Tiang-tiang itu seperti totem muram tanpa nilai seni.
Dengan dibongkarnya struktur tersebut, diharapkan jalur Rasuna Said akan menjadi lebih lega, lebih tertata, cantik, ramah bagi pejalan kaki dan memberikan ruang hidup yang lebih layak bagi warga Jakarta.
Penataan koridor ini penting karena Rasuna Said merupakan salah satu urat nadi Jakarta yang menghubungkan kawasan bisnis Kuningan, Setiabudi, Menteng, hingga Mampang. Ribuan kendaraan melintas setiap hari, sementara kawasan sekitarnya dipadati perkantoran, apartemen, hotel, pusat diplomatik, dan pusat perdagangan.
Pemerintah provinsi DKI yang telah tuntas membongkar tiang monorel kini fokus pada penataan jalan, trotoar dan drainase. Pemerintah menyebut total anggaran penataan kawasan mencapai sekitar Rp102 miliar, sedangkan biaya pembongkaran tiang monorel hanya sebagian kecil dari angka tersebut. Hanya Rp 254 juta saja.
Dana Rp102 miliar itu juga termasuk untuk pengerjaan trotoar. Dilebarkan dan direvitalisasi. Trotoar ini dirancang memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pejalan kaki termasuk bagi penyandang disabilitas. Penulis sendiri pernah merasakan kemudahan ini sewaktu masih menggunakan kruk untuk naik kendaraan umum dari rumah di Selatan Jakarta menuju kawasan Episentrum.
Selain trotoar, saluran air atau drainase dan utilitas bawah tanah juga diperbarui. Pun demikian dengan tanaman. Penghijauan menjadi salah satu target yang dikejar dalam proyek ini karena beton tanpa taman dan penghijauan seperti sayur tanpa garam. Penataan Rasuna Said akan membuat kualitas jalan dan badan jalan meningkat. Pedestrian akan menjadi tempat yang modern dengan pemasangan lampu penerangan dengan desain terkini. Semua itu menelan biaya terbesar dari anggaran Rp102 miliar. Nilai ini jauh lebih masuk akal dibanding harus 'kekeuh' melanjutkan proyek lama yang jauh panggang dari api.
Bayangkan, dengan anggaran yang jauh lebih kecil, 'hanya' Rp102 miliar, Jakarta akan mendapatkan nilai ekonomi yang lebih besar. Sebelumnya, proyek Jakarta Monorel ini disebut akan menelan investasi hingga Rp 6,9 triliun. Dalam public hearing soal monorel yang disaksikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pada tahun 2013, Direktur PT Jakarta Monorail Sukmawati Syukur menjelaskan nantinya rute Jakarta Monorel sepanjang 30 km akan menghabiskan biaya investasi sebesar Rp 6,9 triliun.
Beberapa bulan kemudian angka ini direvisi oleh Komisaris Utama PT Jakarta Monorail, Edward Soeryadjaya yang mengatakan investasi riil akan mencapai 1,5 miliar dolar AS atau setara Rp 15 triliun dengan kurs tahun 2013. Bujuk buneng! Kalau kata orang sini mah.
Kini dengan biaya 'hanya' seratusan miliar, koridor Rasuna Said akan menjadi lebih tertata, manfaat ekonominya pun juga besar. Kemacetan berkurang dan mendongkrak produktivitas, nilai properti naik di kawasan Kuningan–Setiabudi juga meningkat. Ini menarik investasi. Kemudian pejalan kaki akan lebih nyaman dan risiko genangan yang menurun karena drainase baru akan menjaga koridor ini tetap kering.
Sebagai salah satu kawasan premium Jakarta, peningkatan kualitas koridor ini berpotensi memberi dampak ekonomi bernilai ratusan miliar rupiah per tahun melalui efisiensi mobilitas dan kenaikan nilai kawasan.
Simbol Lokomotif Jakarta yang Bergerak Maju
Pembongkaran tiang monorel bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah simbol bahwa Jakarta mulai meninggalkan beban masa lalu dan memilih solusi yang lebih nyata: integrasi transportasi yang sudah berjalan seperti MRT, LRT, TransJakarta, serta jalan dan ruang publik yang berfungsi.
Warga Jakarta kini menunggu satu hal, apakah Jalan HR Rasuna Said benar-benar akan berubah dari koridor dengan deretan beton mangkrak yang kaku dan kusam menjadi boulevard modern kelas dunia. Jika berhasil, kawasan ini dapat menjadi contoh bagaimana kota memperbaiki kesalahan lama menjadi peluang baru. Jakarta udah move on. Menirukan kredo anak Gen Z.
Secara ekonomi, pembongkaran tiang monorel Jakarta dan penataan ulang koridor Jalan H.R. Rasuna Said sepanjang sekitar 3,5 km ini menciptakan manfaat yang tersebar ke banyak pihak. Jadi bukan hanya satu pihak yang “paling untung”, tetapi ada beberapa kelompok yang berpotensi menerima nilai ekonomi terbesar. Jika nilai properti di koridor naik hanya 1% saja, itu bisa bernilai ratusan miliar hingga triliunan rupiah, karena Rasuna Said adalah kawasan properti sangat mahal.
Kawasan Rasuna Said, Kuningan dan Setiabudi adalah salah satu CBD premium Jakarta yang berisi gedung perkantoran, gedung kedutaan negara sahabat, apartemen dan hotel mewah, ada juga mixed-use development di mana pusat perbelanjaan menjadi satu dengan hunian dan perkantoran termasuk di sepanjang Jalan Casablanca dan Mega Kuningan.
Dengan hilangnya tiang monorel dan tertatanya kawasan menjadi lebih rapi, maka harga sewa kantor akan naik, harga properti meningkat, akses pedestrian lebih baik, view gedung lebih bersih. Landscape koridor Rasuna Said akan menjadi lebih resik, lega dan cantik. Citra kawasan pun akan meningkat.
Sementara sisi barat Rasuna Said kini telah tertata. Gedung-gedung Kedutaan negara sahabat menikmati imbas ini karena trotoar menjadi lebih cantik. Tidak ada lagi pembatas jalur cepat dan lambat. Permukaan jalan menjadi lebih lebar dan lega. Koridor Rasuna Said adalah boulevard sepanjang 4,9 km dan tidak seragam lebarnya dari ujung ke ujung. Namun lebarnya rata-rata, bila diukur untuk badan jalan aktif kendaraan sekitar 12 hingga 15 meter.
Bila diukur keseluruhan, mulai dari trotoar dan verge maka bisa mencapai 18 hingga 25 meter. Di beberapa tempat menjadi lebih lebar karena adanya putaran atau letter U, frontage dan akses gedung. Pembaca dapat memperhatikan kemacetan di jam sibuk akan sering terjadi di belokan menuju kawasan Mega Kuningan, dekat Stasiun LRT Kuningan, di depan gedung Tempo Pavilion dan di tikungan menuju Jl Casablanca.
Namun yang lebih cantik lagi adalah tidak adanya kabel-kabel yang berseliweran di atas kepala. Kabel-kabel itu telah tertanam di bawah tanah. Pemprov DKI memang menekankan utilitas bawah tanah yang tidak hanya mengakomodir drainase tapi juga untuk kabel-kabel sistem kontrol lalu lintas dan CCTV. Pedestrian dibuat menjadi lebih lebar, lebih nyaman dan lebih cantik dengan kombinasi penghijauan dan tata lampu yang modern.
Seperti inilah yang akan terjadi dengan sisi timur koridor Rasuna Said di mana sebelumnya bercokol tiang monorel. Bila penataan ini selesai maka mobilitas warga lebih lancar, pelaku bisnis akan lebih nyaman untuk datang. Sekedar ngopi atau nge-lobi. Area jadi lebih prestisius, banyak orang tertarik mampir dan jadi magnet bagi para tenant.
Pedestrian yang modern dan nyaman akan membuat pengusaha retail dan F&B tergiur karena banyaknya masyarakat yang hadir. Orang akan dengan senang hati membelanjakan uang mereka untuk lebih sering singgah makan dan ngopi. Sektor retail akan lebih hidup. Dari sisi penerimaan Pemprov, NJOP sudah pasti akan naik. Ini potensi meningkatnya pajak bumi dan bangunan (PBB). Lalu ditambah potensi penerimaan pajak hotel/restoran dan berkurangnya anggaran yang tersedot untuk biaya pemeliharaan kawasan kumuh. Ini adalah manfaat fiskal jangka panjang.
Dengan 'beautifikasi' ruas jalan dari Menteng hingga Mampang ini maka pemilik properti akan mendapatkan keuntungan dengan meningkatnya hunian kantor dan tenant. Masyarakat umum juga akan mendapatkan keuntungan karena waktu tempuh menjadi lebih efisien dan nyaman.

