Transaksi BEI Turun Tajam, OJK: Sinyal Positif Stabilisasi Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Volume dan nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi tersebut sebagai sinyal positif bagi stabilitas pasar.
Sepanjang Februari 2026, total volume transaksi turun 32,58% secara bulanan (MoM) menjadi 838,3 miliar saham, sementara nilai transaksi merosot 33,95% (MoM) menjadi Rp 461,15 triliun.
Baca Juga
Enam Saham Prajogo Pangestu Ambles, Market Cap Menguap Ratusan Triliun hingga Picu Kejatuhan IHSG
Menjelang libur Nyepi dan Idul Fitri, aktivitas perdagangan kembali melemah, dengan volume turun 17% dan nilai transaksi turun 16,64% dibandingkan pekan sebelumnya menjadi 42,34 miliar saham dan Rp 24,96 triliun.
Sementara itu, pada perdagangan hari ini, volume tercatat 25,58 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 12,79 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan bahwa moderasi transaksi ini mencerminkan kondisi pasar yang lebih stabil. “Meskipun terjadi moderasi nilai transaksi, ini boleh jadi sinyal positif,” ujarnya di BEI, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga
Net Sell Berlanjut Rp 812,83 Miliar, Asing Obral Saham BBRI dan BMRI
Menurut Hasan, kondisi tersebut menunjukkan tidak adanya reaksi berlebihan dari investor, dengan kecenderungan pasar berada pada fase wait and see terhadap arah pergerakan ke depan.
Likuiditas Terjaga
Dari sisi likuiditas, OJK menilai kondisi pasar tetap terjaga. Hal ini tercermin dari rata-rata spread bid-ask pada Maret 2026 yang berada di level rendah, yakni 1,55 kali. “Tidak ada kepanikan, tidak one-sided market saat naik maupun turun,” jelasnya.
Di sisi lain, industri pengelolaan investasi masih mencatatkan kinerja positif. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana mencapai Rp 695,71 triliun per akhir Maret 2026 atau tumbuh 3,02% secara year to date (YTD).
Baca Juga
Pipeline IPO BEI Didominasi Perusahaan Aset Jumbo, 11 dari 12 Emiten Skala Besar
Selain itu, pasar modal tetap menjalankan fungsinya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang, dengan nilai penghimpunan dana (fundraising) korporasi mencapai Rp 51,96 triliun hingga 31 Maret 2026.
Pada kuartal I-2026, tercatat satu perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO), disertai 6 emisi penawaran umum efek bersifat utang dan 36 emisi penawaran umum berkelanjutan.
OJK menilai tekanan pasar saat ini lebih dipengaruhi faktor domestik dan eksternal di luar kondisi fundamental pasar modal Indonesia.

