Harga Emas Turun Tajam ke Level Terendah Sejak Maret, Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas global turun tajam pada perdagangan Selasa (19/5/2026), tertekan penguatan dolar AS dan kekhawatiran inflasi yang bertahan tinggi sehingga memicu ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat dari bank sentral Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini mendorong harga logam mulia ke level terendah dalam hampir 2 bulan..
Harga emas spot turun 2% menjadi US$ 4.474,40 per ons, setelah sempat menyentuh level terendah sejak Minggu (30/3/2026) pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni melemah 1,8% menjadi US$ 4.476,80 per ons.
Baca Juga
“Kita melihat kenaikan suku bunga riil di berbagai negara di seluruh dunia, dan itu benar-benar sangat membebani emas. Dolar juga lebih kuat, itu adalah hal negatif,” kata analis Marex Edward Meir dikutip CNBC.
Tekanan terhadap emas muncul seiring kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun yang mendekati level tertinggi dalam lebih dari setahun. Kenaikan tersebut terjadi karena investor mencermati potensi pergeseran kebijakan Federal Reserve (The Fed) menuju langkah yang lebih agresif guna menahan laju inflasi yang dipicu lonjakan harga energi.
Kondisi itu membuat emas kehilangan sebagian daya tariknya sebagai aset lindung nilai. Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil tetap.
Pada saat bersamaan, dolar AS yang menguat membuat emas dan komoditas berbasis dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Tekanan bertambah setelah harga minyak mentah Brent naik, memicu kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi akan memperburuk inflasi global.
Tekanan Jangka Pendek Masih Membayangi
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen mengatakan fundamental jangka panjang emas masih relatif solid, meski saat ini dibayangi dinamika makroekonomi global.
“Meskipun alasan investasi struktural untuk emas sebagian besar tetap utuh, perkembangan makro jangka pendek telah menciptakan latar belakang yang lebih menantang bagi harga,” tulis Hansen.
Baca Juga
Harga Emas Menguat Terbatas di Tengah Perang Iran dan Lonjakan Imbal Hasil Obligasi
Ia menilai permintaan bank sentral dunia masih berpotensi menopang harga emas apabila tekanan inflasi berbasis energi mulai mereda. “Begitu tekanan terkait energi mulai mereda, permintaan bank sentral mungkin akan kembali muncul sebagai pendorong yang lebih dominan,” kata Hansen.
Pelaku pasar kini menunggu risalah rapat kebijakan moneter terbaru Federal Reserve yang dijadwalkan dirilis Rabu (20/5/2026). Dokumen tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah suku bunga acuan AS dalam beberapa bulan ke depan.
Harga perak spot anjlok 5,7% menjadi US$ 73,25 per ons. Platinum turun 2,8% menjadi US$ 1.923,55 per ons, sedangkan paladium melemah 3,3% ke US$ 1.371,25 per ons.

