Di Tengah Konflik AS-Iran, IHSG Berpeluang Menguat ke 7.323 Pekan Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi menguat ke kisaran 7.323 dalam sepekan atau naik 3,18%, setelah terkoreksi tipis 0,14% pekan lalu.
Dengan empat hari perdagangan sebelum libur Jumat Agung, pergerakan IHSG diperkirakan akan bergerak sideways dalam rentang 6.745-7.323.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, pelaku pasar masih berada dalam bayang-bayang dinamika konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi.
Baca Juga
Pakuwon (PWON) Cetak Kenaikan Laba dan Pendapatan di 2025, Segini Nilainya
Deadlock negosiasi membuat setiap perkembangan, baik pernyataan politik maupun pergerakan militer, berpotensi menjadi market mover utama.
Lonjakan harga energi juga meningkatkan sensitivitas pasar terhadap sentimen geopolitik. Kondisi ini mendorong investor cenderung bersikap wait and see sambil mencermati risiko lanjutan terhadap inflasi global dan stabilitas rantai pasok energi.
Pada awal pekan, perhatian pasar akan tertuju pada pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang dijadwalkan pada 30 Maret 2026. Pernyataan tersebut dinilai krusial untuk membaca arah kebijakan moneter di tengah tekanan harga energi.
Baca Juga
Laba Erajaya (ERAA) Naik Jadi Rp 1,19 Triliun di 2025, Sebaliknya Anak Usaha ERAL Tertekan
Pasar akan mencari sinyal apakah The Fed tetap berhati-hati atau membuka ruang pengetatan lebih lanjut yang berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Selanjutnya, fokus akan bergeser ke data ekonomi China melalui rilis NBS Manufacturing PMI Maret pada 31 Maret. Konsensus memperkirakan perbaikan ke level 50 dari sebelumnya 49, yang menjadi batas antara kontraksi dan ekspansi.
Data ini penting mengingat posisi China sebagai motor utama permintaan global. Jika kembali ke zona ekspansi, hal ini berpotensi menjadi katalis positif bagi harga komoditas dan pasar emerging. Sebaliknya, jika di bawah ekspektasi, kekhawatiran perlambatan ekonomi global dapat meningkat.
Dari dalam negeri, dua data utama yang akan dirilis pada 1 April adalah S&P Global Manufacturing PMI dan inflasi Maret 2025. PMI mencerminkan aktivitas industri manufaktur, sementara inflasi menjadi indikator penting bagi arah kebijakan Bank Indonesia.
Baca Juga
Prabowo Saksikan Penandatanganan MoU Indonesia-Jepang di Tokyo, Fokus Energi hingga Teknologi AI
Dengan potensi tekanan dari imported inflation akibat kenaikan harga energi, pasar akan mencermati apakah inflasi domestik masih berada dalam target atau mulai menunjukkan akselerasi.
Menutup pekan, perhatian global tertuju pada data ketenagakerjaan AS melalui rilis Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran Maret pada 3 April.
Konsensus menunjukkan pemulihan dengan NFP diperkirakan naik ke 48 ribu dari sebelumnya minus 92 ribu, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan meningkat ke 4,5% dari 4,4%.
Data ini akan menjadi indikator kunci kesehatan ekonomi AS sekaligus penentu ekspektasi arah suku bunga The Fed ke depan. Kombinasi pasar tenaga kerja yang kuat dan tekanan inflasi energi berpotensi memperkuat narasi higher for longer yang dapat menekan arus dana ke pasar emerging.

