Sinarmas AM Bidik AUM Rp 70 Triliun di 2026, Tiga Produk Baru Ini Disiapkan
JAKARTA, investortrust.id – Sinarmas Asset Management (AM) menargetkan dana kelolaan atau assets under management (AUM) meningkat menjadi Rp 70 triliun pada 2026. Saat ini, total dana kelolaan yang telah dicatatkan sudah mencapai Rp 65 triliun.
Direktur Utama Sinarmas Asset Management Alex Setyawan mengatakan, pertumbuhan dana kelolaan tersebut akan didorong oleh pengembangan produk investasi baru serta perluasan kanal distribusi.
“Saat ini, kami mengelola dana investasi, total dana kelolaan mencapai Rp 65 triliun dan menargetkan pertumbuhan dana kelolaan hingga mencapai Rp70 triliun,” kata Alex dalam agenda Market Outlook-The Art of Harmony 2026 di Jakarta, Selasa (11/3/2026).
Baca Juga
Sinarmas Asset Luncurkan Reksa Dana Global Berbasis S&P 500 ESG Syariah, Intip Potensi Return Ini
Menurut Alex, peningkatan dana kelolaan juga didukung oleh penguatan kapabilitas investasi melalui berbagai pendekatan, termasuk pemanfaatan teknologi dan data analitik dalam pengelolaan portofolio. “Pemanfaatan teknologi artificial intelligence atau AI dalam proses investasi terbukti mampu menghasilkan kinerja yang sangat kompetitif,” ujarnya.
Penggunaan AI tersebut menghasilkan kinerja yang positif dengan tingkat return lebih dari 20% secara tahunan pada beberapa strategi investasi. Bahkan secara historis mencatat return satu tahun sebesar 53% dan tiga tahun sebesar 64% per 31 Desember 2025.
Produk Baru
Pada 2026, Sinarmas AM berencana meluncurkan tiga produk investasi baru. Setelah menghadirkan produk berbasis S&P 500 ESG Syariah, perusahaan juga menyiapkan global fund syariah untuk pasar China serta ETF emas.
Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management Genta Wira Anjalu mengatakan, peluncuran produk baru tersebut dilakukan untuk merespons kondisi pasar yang saat ini cukup bergejolak.
Baca Juga
Manajer Investasi Bahas Strategi Dongkrak AUM Industri Reksa Dana, Ada Konsep SIP hingga Literasi
“Kita melihat market saat ini cukup volatile dan setiap aset punya siklusnya masing-masing,” kata Genta.
Menurut Genta, pasar syariah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Namun, penetrasi pasar syariah di Indonesia masih relatif rendah meskipun Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. “Sementara Indonesia itu merupakan negara muslim terbesar di dunia,” ujarnya.
Dengan kondisi pasar modal saat ini dan imbal hasil surat utang yang meningkat, Sinarmas AM akan terus menyesuaikan komposisi portofolio melalui strategi diversifikasi investasi.
“Diversifikasi itu nggak sembarang untuk menaruh aset di seluruh tempat, tapi bagaimana memetakan mana yang baik diversifikasi untuk tujuan investasi,” kata Genta.
ETF Emas
Genta menjelaskan produk ETF emas yang tengah disiapkan akan bekerja sama dengan bank kustodian, bullion bank, serta perusahaan sekuritas. Infrastruktur untuk produk tersebut saat ini masih dalam tahap persiapan dan ditargetkan meluncur pada Juni 2026.
“ETF emas kita masih pertimbangkan antara syariah atau konvensional. Jadi belum bisa memutuskan, kita targetkan ETF emas itu dana kelolaan sekitar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun setahun ke depan,” kata dia.
Baca Juga
Infovesta: AUM Reksa Dana Tembus All Time High Rp 675 Triliun pada Januari 2026
Sementara itu, produk China Equity Syariah juga tengah dipersiapkan untuk memberikan alternatif diversifikasi investasi bagi investor.
Menurut Genta, meskipun terdapat potensi perlambatan ekonomi di China, pasar tersebut masih menarik sebagai opsi diversifikasi portofolio. “Jadi kalau para investor sudah memiliki reksadana yang berbasis di Indonesia dan Amerika Serikat, nah China based bisa menjadi salah satu pilihan,” ujarnya.
Produk China Equity Syariah tersebut direncanakan meluncur pada semester II-2026 dengan target dana kelolaan sekitar Rp200 miliar hingga Rp500 miliar.

