Di Tengah Tekanan IHSG, Reksa Dana Cipta Saham Unggulan Tampil Perkasa
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah dinamika pasar modal yang sering kali membuat investor "galau", sebuah produk reksa dana saham berhasil mencuri perhatian melalui performanya yang kokoh dan pengakuan berupa penghargaan bergengsi. Bukan sekadar keberuntungan sesaat, ketangguhan Cipta Saham Unggulan ternyata berakar pada sebuah filosofi klasik yang diterapkan tanpa kompromi oleh sang Fund Manager, Andrian Winoto.
Dalam sebuah sesi wawancara eksklusif, Andrian membedah "dapur" strateginya, mulai dari pemilihan saham hingga cara ia menjaga psikologi investor di tengah volatilitas pasar 2026.
Secret Sauce: Melawan Arus dengan Value Investing
Banyak manajer investasi terjebak dalam keriuhan pasar atau Fear of Missing Out (FOMO). Namun, Andrian memilih jalan yang berbeda dengan tetap setia pada prinsip fundamental. Fokus utamanya bukanlah mengikuti tren sesaat, melainkan mencari perusahaan yang harganya jauh di bawah nilai wajar (fair value) namun memiliki fundamental yang sehat.
"Kunci kami adalah konsistensi pada filosofi investasi kami, yaitu value investing, dan menerapkannya dengan sangat benar dan tanpa kompromi," ungkap Andrian dalam siaran pers, Rabu (4/3/2026).
Strategi ini terbukti ampuh. Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada dalam tekanan pada awal tahun 2026, sektor-sektor seperti IT, Perbankan, serta Oil & Gas menjadi "jangkar" yang menyelamatkan performa portofolio.
Baca Juga
Infovesta: AUM Reksa Dana Tembus All Time High Rp 675 Triliun pada Januari 2026
Pendekatan Bottom-Up dan Keberanian High Conviction
Meski tetap memantau kondisi makroekonomi dan kebijakan moneter global seperti The Fed, Andrian tidak menjadikan isu tersebut sebagai penentu utama keputusan investasinya. Ia lebih percaya pada pendekatan bottom-up, yaitu membedah kekuatan perusahaan satu per satu melalui laporan keuangan yang mendalam.
Dalam menyusun portofolio, Cipta Saham Unggulan cenderung memegang 17 hingga 25 saham. Menariknya, Andrian tidak ragu untuk mengambil posisi besar jika sudah meyakini fundamental suatu emiten. "Jika kita memiliki conviction pada saham tersebut, maka kami akan melakukan investasi hingga batas maksimal yang dibolehkan (10%)," jelasnya. Saat ini, terdapat sekitar 5 hingga 7 saham dalam portofolionya yang memiliki bobot di atas 9% (high conviction).
Beberapa contoh saham yang masuk dalam radar Andrian mencakup kombinasi antara old economy seperti BDMN, BBRI, BMRI, hingga perusahaan IT Services seperti ASGR.
Manajemen Risiko: Kapan Harus Exit?
Ketangguhan Cipta Saham Unggulan juga diuji dari kedisiplinan dalam mengelola risiko. Andrian menjelaskan ada momen-momen krusial di mana ia harus segera keluar dari suatu posisi:
● Saat fundamental bisnis emiten menunjukkan penurunan sekuler (bukan sementara) yang signifikan.
● Saat terjadi krisis ekonomi besar, di mana ia akan mengurangi bobot pada saham-saham yang paling rapuh atau terdampak krisis.
Untuk menjaga likuiditas, Andrian selalu menyiapkan posisi kas di kisaran 3-5% untuk kebutuhan penarikan dana investor, sembari terus memonitor likuiditas setiap saham di portofolio agar proses penjualan tidak mengalami kesulitan.
Baca Juga
Manajer Investasi Bahas Strategi Dongkrak AUM Industri Reksa Dana, Ada Konsep SIP hingga Literasi
Pesan untuk Investor: Jangan Tunggu "Cerah"
Bagi investor ritel yang sering khawatir saat pasar terkoreksi, Andrian Winoto memberikan resep ketenangan: pahamilah fundamental nya. Jika berinvestasi pada perusahaan yang solid, koreksi harga hanyalah fluktuasi yang kinerjanya akan pulih seiring waktu.
Untuk proyeksi ke depan, ia melihat sektor Perbankan dan Ritel High-End sebagai kandidat kuat untuk menjadi star performer dalam dua tahun ke depan. Bagi Anda yang baru ingin masuk namun merasa harga sudah tinggi, saran Andrian sangat sederhana: gunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) atau mencicil secara bertahap.
"Kesalahan terbesar investor adalah masuk saat kondisi sedang cerah dan harga sedang tinggi-tingginya, namun tidak berani masuk saat kondisi buruk padahal harga saham sedang murah-murahnya," pungkasnya.

