IHSG Anjlok 2,65% Gegara Iran Diserang, Sebaliknya Saham OILS dan ENRG justru ARA
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (2/3/2026), ditutup terjun bebas sebanyak 218 poin (2,65%) menjadi 8.016. Sebaliknya saham OILS dan ENRG justru melesat hingga auto reject atas (ARA).
Penurunan indeks kali ini sejalan dengan kejatuhan seluruh pasar saham Asia, seperti Nikkei, Hang Seng, dan Strait Times. Penurunan dipicu atas serangan AS-Israel ke Iran. Kejatuhan dipicu penurunan seluruh sektor saham, kecuali saham sektor energi dengan kenaikan 1,54%.
Sejumlah sektor saham dengan penurunan paling dalam, yaitu saham sektor consumer primer turun 7,60%, sektor industry 5,95%, sektor property 4,14%, sektor infrastruktur 4,13%, sektor teknologi 3,77%, dan sektor consumer non primer 3,58%.
Baca Juga
Mendag Bongkar Dampak Konflik AS-Israel vs Iran ke Perdagangan dan Ekspor RI
Kejatuhan tersebut juga dipicu atas penurunan dahsyat saham big cap berikut, seperti saham TPIA turun 10,82%, BREN melemah 5,47%, AMMN 4,58%, ASII melemah 5,62%, BBCA 2,09%, PANI 5,25%, dan BRPT anjlok 9,05%.
Meski IHSG melemah, dua saham berikut catatkan kenaikan hingga auto reject atas (ARA), yaitu saham OILS naik 34,69% menjadi Rp 264 dan ENRG naik 25% menjadi Rp 2.200. Kenaikan pesat juga melanda saham ELSA sebanyak 17,65% menjadi Rp 1.000, IFSH naik 17,32% menjadi Rp 2.100, dan MEDC menguat 15,65% menjadi Rp 1.995.
Sepanjang pekan lalu, IHSG catatkan penurunan 36,28 poin (0,44%) menjadi 8.235. Pemodal asing mencatatkan lompatan pembelian bersih (net buy) sebanyak Rp 4,90 triliun. Net buy terbanyak disumbangkan saham BBRI mencapai Rp 1,14 triliun.
Baca Juga
Eskalasi Timur Tengah akan Guncang Pasar Besok, IHSG Terancam ke 8.000
Secara sectoral, penurunan dipicu atas pelemahan saham sektor energi, material dasasr, property, infrastruktur, transportasi, teknologi. Sebaliknya saham sektor industry, material dasar, dan consumer primer catatkan kenaikan.
Penurunan ini menjadikan kinerja IHSG BEI menajdi yang terburuk di Asia Pacifik sepanjang year to date (ytd) dengan pelemahan mencapai 4,76%. Adapun indeks dengan kenaikan tertinggi ytd dicatatkan indeks Kospi dengan penguatan 48,17% disusul indes SET dari Thailand dengan kenaikan 21,23%.

