IHSG Ditutup Anjlok 1,37% ke 8.280 Dibayangi Sentimen Global, Bagaimana Proyeksi Besok?
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah tajam pada perdagangan Selasa (24/2/2026) di tengah kombinasi sentimen eksternal dan tekanan pada saham berkapitalisasi besar.
Berdasarkan data perdagangan BEI, IHSG ditutup melemah 115,25 poin atau 1,37% ke level 8.280. Pada awal sesi, indeks sempat menguat hingga 8.428 sebelum berbalik arah hingga penutupan. Meski demikian, pemodal asing justru merealisasikan pembelian bersih (net buy) jumbo Rp 1,37 triliun dimotori saham BMRI dan BUVA.
Baca Juga
Rancang Rights Issue Jumbo, Bukit Uluwatu (BUVA) Bersiap Akuisisi Perusahaan
Pelemahan indeks dipicu koreksi signifikan sejumlah saham kapitalisasi besar seperti MORA, DSSA, RATU, PANI, RAJA, dan AMMN. Tekanan juga datang dari penurunan saham emiten yang dikendalikan oleh Prajogo Pangestu dan Happy Hapsoro, sehingga memperdalam koreksi IHSG.
Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama mengatakan, pelemahan IHSG masih dipengaruhi sentimen global, khususnya dari Amerika Serikat.
“Penurunan IHSG yang terjadi hari ini masih salah satunya dikarenakan sentimen terkait Presiden USA Donald Trump yang mengancam akan memberikan tarif yang lebih tinggi terkait banyaknya negara yang dianggap mulai mengajukan negosiasi menyusul keputusan Mahkamah Agung Amerika yang belum lama ini memblokir tarif global di beberapa negara yang sebelumnya telah diberlakukan oleh Presiden Donald Trump,” ujar Elandry.
Baca Juga
Laba Bersih Allo Bank (BBHI) Tumbuh 23% Jadi Rp 574 Miliar di 2025
Selain itu, eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut menjadi sentimen negatif utama bagi pasar global, ditandai dengan merapatnya Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford ke wilayah Iran.
Meski demikian, ia melihat kondisi geopolitik tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi saham komoditas emas. Menurut Elandry, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) masih dapat dicermati untuk jangka pendek dan menengah.
Potensi Rebound
Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai tekanan IHSG lebih disebabkan kombinasi sentimen eksternal dan aksi ambil untung investor.
“Penurunan hari ini menurut saya lebih karena kombinasi sentimen eksternal dan aksi taking profit. Indeks saham US bergerak turun di perdagangan terakhir, biasanya bisa memicu profit taking di big caps kita,” kata Reydi.
Baca Juga
Untuk perdagangan Rabu (25/2/2026), ia memproyeksikan IHSG berpotensi bergerak sideways. Jika tidak ada sentimen negatif baru, pasar berpeluang technical rebound setelah koreksi tajam. Namun, tekanan dapat berlanjut, apabila investor asing masih mencatatkan net sell besar.
Reydi menambahkan saham yang layak dicermati adalah big caps berfundamental kuat yang telah terkoreksi cukup dalam, terutama perbankan besar serta sektor energi jika harga komoditas tetap stabil.

