Proyeksi Sepekan, Gerak IHSG Dibayangi Suku Bunga BI7DDR dan Neraca Dagang
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi menguat untuk menguji target resistance level 6.990-7,022, sepekan ke depan.
“IHSG masih berupaya menguji level EMA 50 atau 6.915 dengan support kuatnya di level 6.900 dan resistance berada di 6.990-7.022,” papar Analis PT KB Valbury Sekuritas, Andrian Alamsyah, dalam riset mingguan yang dikutip, Minggu (15/10/2023).
Namun, kata dia, jika IHSG kembali bergejolak maka berpotensi untuk menuju support berikutnya di level 6.840-6.870.
Baca Juga
Incar 45.750 Unit Rumah, BBTN Sebut Aceh Motor Pertumbuhan KPR Syariah
Dikatakan, ada beberapa rilis data penting untuk diperhatikan pelaku pasar pekan depan. Dari dalam negeri, akan ada rilis neraca dagang beserta perkembangan ekspor-impor periode September dan juga rilis data suku bunga acuan atau BI-7 Days Repo Rate (BI7DDR) yang diperkirakan masih akan tertahan di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, 18-19 Oktober 2023.
“Sementara dari Tiongkok akan ada rilis pertumbuhan PDB kuartal ketiga. Dari Amerika Serikat juga akan dinanti rilis data penjualan ritel yang ditunggu oleh para pelaku pasar,” papar Andrian.
Sebelumnya, IHSG ditutup melemah -0,12% atau 8,37 poin ke 6.926,78 pada Jumat (13/10/2023). IHSG tercatat menguat 0,56% sepanjang pekan lalu, periode 9-13 Oktober 2023.
Baca Juga
Wijaya Karya (WIKA) Kebut Proyek Tol IKN, Progresnya Signifikan
Kinerja IHSG terbilang cukup cemerlang sepekan kemarin, sejalan dengan beberapa bursa global lainnya. Sektor Infrastruktur yang menguat signifikan menopang pergerakan IHSG untuk ditutup di zona hijau.
Pengaruh eksternal masih cukup dominan terhadap pergerakan IHSG pada pekan ini. Mulai dari beberapa rilis data penting dari AS dan Tiongkok, hingga perkembangan situasi konflik Israel-Hamas.
Inflasi AS periode September kembali melaju dan dil uar ekspetasi di mana secara bulanan inflasi tumbuh 0,4% dan secara tahunan 3,7% masih jauh dari target 2%.
Hasil FOMC Minutes pekan lalu menunjukkan ada kemungkinan The Fed tetap hawkish tetapi ada perubahan fokus dimana saat ini akan seberapa lama bank sentral AS tersebut menahan era suku bunga tinggi dibandingkan seberapa besar suku bunga akan naik lagi.
Situasi konflik di Timur Tengah yang juga masih dalam tensi tinggi sempet membuat beberapa harga komoditas menjadi sangat fluktuatif. “Situasi ini menambah ketidakpastian secara global,” tutup Andrian.

