IHSG Ditutup Perkasa 1,22%, Terdorong Saham EMAS hingga DCII
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/2/2026), ditutup melesat 96,61 poin (1,22%) hingga kembali ke atas level 8.031. Rentang pergerakan 7.865-8.031 dengan nilai transaksi Rp 15,7 triliun.
Penguatan tersebut ditopang kenaikan Sebagian besar saham, khususnya big cap. Di antaranya, EMAS melambung 15,38% ke level tertinggi baru Rp 7.500, DSSA menguat 8,87% menjadi Rp 92.950, DCII naik 3,59% menjadi Rp 226.400, MORA naik 5,86% menjadi Rp 5.876, dan PTRO menguat 5,24% menjadi Rp 6.025.
Baca Juga
Manipulasi Saham Berawal dari IPO, OJK Jatuhkan Sanksi ke REAL dan PIPA
Adapun sektor saham penopang utama penguatan indeks awal pekan ini Adalah sektor material dasar dengan kenaikan 4,41%, sektor energi menguat 2,92%, sektor consumer primer 2,06%, sektor infrastruktur 1,23%, sektor consumer non primer 1,53%, dan sektor teknologi 0,81%. Sebaliknya zona merah melanda saham sektor kesehatan dan keuangan.
Kenaikan harga saham paling pesat sepanjang hari ini, yaitu empat saham naik hingga auto reject atas (ARA), saham PURI menguat 34,50% menjadi Rp 230, YELO menguat 33,82% menjadi Rp 91, IFSH menguat 24,63% menjadi Rp 1.265, dan LINK melesat sebanyak 24,73% menjadi Rp 2.270. Meski tak ARA, BUVA jusga melesat 22,16% menjadi 1.130
Baca Juga
Anindya Bakrie Sebut Proyek Hilirisasi Danantara Dorong Nilai Tambah Ekonomi
Adapun IHSG BEI sepanjang pekan lalu ditutup anjlok sebanyak 394,34 poin (4,73%) menjadi 7.935. Berlanjutnya penurunan menjadikan kinerja IHSG BEI terburuk di dunia sepanjang year to date (ytd).
Penurunan indeks pekan lalu ini dipengaruhi efek pembekuan sementara pasar saham Indonesia dalam perhitungan MSCI global yang dilanjutkan dengan keputusan Moody’s memangkas outlook Indonesia dari stabil menjadi negative.
Tekanan tersebut menjadikan IHSG sepanjang year to date (ytd) tergerus 8,23%. Kinerja indeks tercatat yang terburuk di pasar Asia Pasifik, bahkan terburuk di dunia. Adapun penurunan indeks saham terbesar kedua sepanjang ytd hanya mencapai 1,92% oleh indeks Sensex India.
