IHSG Masuk Fase Krusial, Pemodal Diminta Pantau Uji Support Penting Ini
JAKARTA, investrotrust.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah berada pada fase krusial pada perdagangan saham, Kamis (29/1/2026), seiring tekanan jual yang masih membayangi pasar. Meski demikian peluang rebound tetap terbuka.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai area 8.180–8.200 merupakan zona konsolidasi penting sebelum IHSG melanjutkan tren kenaikan. Fakta bahwa indeks sempat menyentuh area tersebut menunjukkan tekanan jual telah mencapai titik ekstrem.
Baca Juga
“Area 8.180 hingga 8.200 merupakan zona konsolidasi penting sebelum IHSG melanjutkan tren naiknya. Fakta bahwa indeks sempat menyentuh area ini menegaskan bahwa tekanan jual telah mencapai titik ekstrem,” ujar Hendra kepada investortrust.id, Rabu (28/1/2026).
Apabila level tersebut mampu dipertahankan, dia mengatakan, peluang stabilisasi masih terbuka melalui aksi akumulasi selektif investor domestik berorientasi jangka panjang. Namun, jika tekanan berlanjut dan level ini ditembus, pasar berisiko menguji area psikologis berikutnya di kisaran 8.000–8.050 yang berpotensi memicu volatilitas lanjutan.
Pada perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG dilanda tekanan tajam dengan penurunan hingga 7,35% dan ditutup di level 8.320,56. Indeks bahkan sempat menyentuh titik terendah harian di 8.187 sebelum akhirnya terkena trading halt selama 30 menit.
Baca Juga
Indeks S&P 500 Sentuh Level 7.000, Reli Wall Street Terhenti Usai Keputusan The Fed
Hendra mengungkapkan, gejolak tersebut dipicu keputusan terbaru MSCI yang menahan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor, tidak menambah bobot saham Indonesia, serta meniadakan rebalancing pada Februari 2026. Keputusan tersebut mematahkan ekspektasi masuknya dana pasif global yang selama ini menopang saham berkapitalisasi besar.
Selain itu, sorotan MSCI terhadap isu transparansi free float dan struktur kepemilikan saham, serta peluang evaluasi lanjutan hingga Mei 2026, turut meningkatkan persepsi risiko Indonesia di mata investor global. Kondisi ini mendorong aksi jual agresif, terutama pada saham-saham indeks utama.
Tekanan pasar tercermin dari lonjakan nilai transaksi hingga mencapai Rp 45 triliun, yang menunjukkan terjadinya distribusi besar-besaran. Arus dana asing kembali keluar setelah sebelumnya relatif stabil, menandakan tekanan yang bersifat sistemik.
Meski demikian, Hendra menilai peluang rebound mulai terbentuk seiring meredanya fase kepanikan dan kembalinya pendekatan rasional pelaku pasar. Dalam kondisi pasar yang emosional, harga saham kerap jatuh di bawah nilai wajarnya.
Ia menambahkan, fundamental ekonomi Indonesia relatif solid, kinerja emiten secara agregat masih terjaga, serta harga komoditas utama seperti emas, tembaga, dan minyak berada pada level tinggi. Faktor-faktor tersebut dinilai dapat menopang perbaikan sentimen ke depan.
Baca Juga
“Rebound berpotensi terjadi ketika pelaku pasar mulai memisahkan dampak jangka pendek keputusan MSCI terhadap arus dana pasif dengan risiko fundamental jangka menengah,” jelas Hendra.
Dalam fase tersebut, investor institusi dan investor jangka panjang diperkirakan akan kembali masuk secara bertahap dengan memanfaatkan valuasi saham yang telah terdiskon signifikan akibat koreksi berlebihan. Perubahan perilaku pasar dari reaktif menjadi lebih reflektif dinilai menjadi kunci awal pemulihan.
“Kenaikan tersebut bukan didorong oleh euforia, melainkan oleh penyesuaian kembali harga saham menuju nilai intrinsiknya,” tutup Hendra.

