Laba Bersih Autopedia Sukses (ASLC) 2025 Diprediksi Turun, Bagaimana Prospek di Tahun 2026?
Poin Penting
|
TANGERANG, investortrust.id – Laba bersih PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) periode 2025 diprediksi turun secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan 2024. Proyeksi ini sejalan dengan penurunan laba bersih sepanjang Januari-September 2025 sebesar 25,47% (yoy) jadi Rp 30 miliar.
“Untuk ASLC benar, (kinerja 2025) masih akan di bawah 2024. Kinerja 2025 dibanding 2024 kurang lebih mirip kalau kuartal ketiga disetahunkan,” jelas Direktur Autopedia Sukses Lestari Armeza Farhansyah Umar di JBA Jakarta Raya, Tangerang, Banteng, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga
Autopedia (ASLC) Optimistis Pendapatan Tumbuh Dua Digit, Meski Laba Tertekan
Dia menjelaskan, beberapa faktor yang menekan jumlah keuntungan perusahaan, terutama pelemahan daya beli. Pasalnya, volume penjualan retail mobil bekas melalui Caroline.id sebenarnya naik 20%, namun menghasilkan margin profit yang lebih rendah.
Rata-rata harga jual mobil bekas sepanjang 2025, tutur manajemen, jadi Rp 170 jutaan dari sebelumnya di kisaran Rp 200 juta. “Sehingga otomatis marginnya secara rupiahnya juga lebih rendah. Alhasil akhirnya dari sisi ke bawahnya juga margin jadi lebih rendah,” sambung Meza.
Namun manajemen tetap optimis menghadapi 2026 meskipun industri mobil bekas masih diwarnai tantangan daya beli dan dinamika pasar. Untuk itu, perseroan menerapkan strategi penguatan ekosistem lelang dan ritel yang dijalankan secara terintegrasi.
Baca Juga
Net Sell Hari Ini Rp 1,61 Triliun, Pemodal Asing Lagi-lagi Lepas BBCA Bernilai Jumbo
“Berbekal ekosistem bisnis yang terdiri dari bisnis lelang di JBA, Caroline.id, pegadaian di MotoGadai, dan Cartalog, ASLC terus membangun ekosistem jual beli kendaraan bekas baik secara online maupun offline untuk semua segmen konsumen,” terang Presiden Direktur Autopedia Sukses Lestari, Jany Candra secara tertulis.
Basis ekosistem kuat milik perseroan membuat manajemen yakin akan mampu meraih kinerja bisnis yang lebih baik tahun ini. Selaras dengan masih terbukanya peluang jangka panjang industri mobil bekas di Indonesia, perseroan optimistis dapat meraih pertumbuhan pendapatan dua digit tahun ini.
Sementara hingga September 2025, perseroan telah membukukan pendapatan Rp 713,0 miliar atau tumbuh 15% (yoy). Dari total pendapatan tersebut, lini bisnis lelang JBA memberikan kontribusi sebesar Rp 201,8 miliar dengan volume mencapai 92 ribu unit lebih.
Baca Juga
ASLC Bidik Pertumbuhan 15% dengan Penggerak Utama Caroline, Bagaimana Sahamnya?
Sedangkan dalam setahun penuh, JBA tercatat menjual 124 ribu unit kendaraan bekas, terdiri atas 59 ribu unit mobil dan 65 ribu unit motor. “Kami melihat bahwa bisnis lelang tumbuh stabil jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Chief Executive Officer JBA Kazuhiro Shioyama dalam kesempatan yang sama.
Sebagai unit bisnis lelang perseroan, JBA merupakan balai lelang mobil bekas terbesar di Indonesia, yang memiliki rekam jejak lebih dari 1 juta transaksi lelang sejak berdiri pada 2011. JBA memiliki jaringan nasional yang mencakup 39 lokasi di seluruh Indonesia, terdiri atas 15 cabang dan 24 hub.
Dukungan jaringan nasional yang besar tersebut memungkinkan ASLC menjangkau pasar yang lebih luas, serta melayani kebutuhan pelanggan di berbagai wilayah. Hal ini membuat JBA mampu mencatatkan 90.000 lebih pembeli lelang yang berpartisipasi.
Adanya keberadaan partisipan pembeli lelang yang besar tersebut, ditambah dukungan jaringan kemitraan dengan lebih dari 400 perusahaan dan 7.000 dealer kendaraan bekas, telah menghasilkan volume transaksi lelang yang kuat dan stabil. "JBA memiliki komitmen yang kuat untuk terus meningkatkan kualitas layanan lelang melalui inovasi digital dan perluasan jaringan. Harapannya, hal itu akan mendukung pertumbuhan ekosistem otomotif nasional yang lebih transparan dan berkelanjutan," tutup Shio.

