Balikkan Rugi Jadi Laba dan Diguyur Duit Danantara, Krakatau Steel (KRAS) Siap 'Come back'?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) memasuki babak baru usai mendapat pendanaan besar dari PT Danantara Asset Management senilai sekitar Rp 4,93 triliun pada Desember 2025. Aksi korporasi ini menjadi angin segar untuk pemulihan operasi baja nasional yang sempat tertekan dalam beberapa tahun terakhir.
Pendanaan tersebut dikemas dalam skema shareholder loan, dengan porsi terbesar dialokasikan untuk modal kerja jangka menengah dan sisanya untuk mendukung program restrukturisasi. Dana ini memungkinkan Krakatau Steel mengurangi ketergantungan pada pembiayaan komersial berbiaya tinggi, khususnya untuk pengadaan bahan baku slab, hot rolled coil (HRC), dan cold rolled coil (CRC).
Dengan struktur pendanaan yang lebih efisien, perseroan mulai meningkatkan utilisasi fasilitas utama seperti hot strip mill (HSM), cold rolling mill, hingga lini pabrik pipa di dalam grup. Manajemen menilai stabilitas pasokan bahan baku dan biaya bunga yang lebih rendah menjadi prasyarat penting untuk memulihkan kinerja operasional yang berkelanjutan.
Dari sisi kinerja, Krakatau Steel mencatat pembalikan laba sepanjang sembilan bulan 2025 dengan laba bersih sekitar USD24 juta, berbalik dari kerugian pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan tumbuh sekitar 7–8% secara tahunan, sementara struktur permodalan ikut membaik seiring penurunan liabilitas dan kenaikan ekuitas.
Namun, pasar mencatat bahwa pemulihan laba tersebut masih ditopang faktor non-operasional, terutama keuntungan satu kali dari restrukturisasi utang. Margin bisnis inti baja masih relatif tipis, mencerminkan tantangan menjaga selisih harga jual dan biaya bahan baku di tengah dinamika harga baja global.
Meski demikian, dukungan Danantara dinilai memberi ruang napas yang lebih panjang. Perseroan memperkirakan peningkatan utilisasi HSM dan efisiensi pembiayaan dapat mendorong perbaikan EBITDA secara bertahap, sekaligus memperkuat fondasi menuju pemulihan operasi penuh pada 2026.
Laporan terbaru menyebut, Krakatau Steel menargetkan penguatan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan proyek strategis nasional dan mendorong substitusi impor. Rencana restart dan optimalisasi fasilitas produksi diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan volume dan pendapatan dalam dua tahun mendatang.
Baca Juga
Krakatau Steel Group Finalisasi Penjualan 26 Ha Lahan untuk Pabrik PET Resin ke Wankai Indonesia
Sekadar informasi, saham KRAS sempat menguat signifikan sepanjang 2025 seiring ekspektasi restrukturisasi dan masuknya Danantara, sebelum bergerak lebih konsolidatif. Dengan valuasi yang masih berada di bawah nilai buku, investor kini menanti bukti lanjutan bahwa pendanaan murah ini mampu diterjemahkan menjadi profitabilitas operasional yang konsisten.
Pendanaan Danantara menjadi titik balik penting bagi Krakatau Steel. Bagi investor, pertanyaan kuncinya kini bukan lagi soal likuiditas, melainkan seberapa cepat dan disiplin perseroan mengubah momentum restrukturisasi menjadi pertumbuhan bisnis yang nyata.
Kinerja keuangan
Pada kuartal III-2025 PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mencatat perbaikan kinerja keuangan yang signifikan jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Mengacu laporan keuangan periode kuartal III-2025, pendapatan perseroan meningkat sebesar Rp869,05 miliar atau sekitar 26,97% secara tahunan, dari Rp3,22 triliun di kuartal III 2024 menjadi Rp4,09 triliun pada kuartal III 2025.
Dari sisi profitabilitas operasional, kendari perseroan masih mencatatkan rugi usaha, namun tingkat kerugian yang dicatatkan pada kuartal III-2025 lebih rendah. Rugi usaha menyempit dari Rp268,19 miliar pada kuartal III 2024 menjadi Rp258,04 miliar pada kuartal III 2025, atau terjadi penurunan rugi operasional sebesar 3,78%.
Kinerja bottom line perseroan mengalami lonjakan paling mencolok, karena berhasil membalikkan posisi rugi menjadi laba. Pada kuartal III 2024, perseroan masih membukukan rugi bersih Rp1,83 triliun. Sementara pada kuartal III 2025 perseroan berhasil mencatat laba bersih Rp2,16 triliun, atau terjadi pertumbuhan laba sekitar 218%.
Sejalan dengan dicatatkannya laba bersih, maka laba per saham terdilusi juga berbalik positif. Dari posisi minus 94,72 pada kuartal III-2024, EPS terdilusi membaik menjadi di kisaran 53,90 pada kuartal III 2025, yang mencerminkan makin membaiknya nilai yang diterima pemegang saham.
Sementara itu, EBITDA Krakatau Steel juga menunjukkan perbaikan meskipun masih berada di zona negatif. EBITDA meningkat dari minus Rp204,12 miliar pada kuartal III 2024, menjadi minus Rp177,20 miliar pada kuartal III 2025.

