Bank Neo Commerce (BBYB) Jadi Pemain Utama Ekosistem Bank Digital di Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) berhasil mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam ekosistem perbankan digital di Indonesia. Memasuki awal 2026, emiten berkode saham BBYB ini menunjukkan tren pertumbuhan positif, menandai keberhasilan transformasi dari bank konvensional menjadi bank digital yang inovatif.
Dari sisi kinerja keuangan, BBYB hingga Oktober 2025 mencatatkan total laba bersih Rp 517,20 miliar, melonjak 73 kali alias 7.300% dibandingkan periode sama 2024 atau secara tahunan (year on year/yoy) yang sebesar Rp 6,95 miliar. Pencapaian ini merefleksikan operasional perbankan yang semakin matang serta kemampuan bank dalam menjaga kualitas aset secara berkelanjutan.
Sampai Oktober 2025, total aset Bank Neo Commerce mencapai Rp 18,49 triliun, naik 0,34% dibandingkan September 2025 yang mencapai Rp 18,43 triliun dan tumbuh 3,01% secara tahunan (dari Oktober 2024) yang tercatat Rp 17,95 triliun.
Baca Juga
Laba Bank Neo (BBYB) Melonjak 73 Kali Berkat Efisiensi dan Perbaikan Kualitas Aset
Modal inti juga meningkat 1,52% menjadi Rp 4,00 triliun dibandingkan September 2025 yang sebesar Rp 3,94 triliun, serta melonjak 20,06% (yoy) dibanding Rp 3,33 triliun per Oktober 2024.
Direktur Utama BBYB, Eri Budiono mengatakan, kinerja positif yang ditorehkan perseroan hingga Oktober 2025 merupakan hasil pengendalian risiko yang disiplin, pengelolaan operasional yang makin baik, serta inovasi layanan yang terus diperluas.
“Pencapaian ini menegaskan bahwa transformasi digital BNC telah memasuki fase yang mencerminkan fondasi lebih stabil dan berkelanjutan bagi pertumbuhan bisnis perseroan,” ujar Eri dalam keterangan resmi, baru-baru ini.
Menurut Eri Budiono, kualitas aset BNC juga menunjukkan perbaikan, tercermin pada rasio kredit bermasalah (NPL) gross yang turun signifikan menjadi 2,89% pada Oktober 2025 dibandingkan 3,74% pada Oktober 2024.
Belum lama ini, PT Gozco Capital kembali menambah porsi kepemilikan saham di BNC. Pada pertengahan Januari 2026, Gozco Capital memborong sekitar 207 juta unit saham BBYB dengan harga rata-rata Rp 474 per saham, atau senilai total Rp 98,12 miliar.
Langkah tersebut meningkatkan kepemilikan Gozco Capital dari 7,76% menjadi 9,31% atau setara dengan 1,24 miliar saham. “Dukungan modal ini merupakan sinyal kepercayaan tinggi terhadap masa depan BNC,” tutur Eri Budiono.
Baca Juga
Saham Bank Digital kembali Bergeliat Dipimpin BBHI dan BBYB, Ternyata Labanya Begini
Selain suntikan modal, BBYB memperkenalkan identitas korporasi baru dengan tagline "Satu Bank Banyak Tujuan". Perubahan ini bukan sekadar rebranding, melainkan strategi untuk memperluas ekosistem layanan dari semata transaksi perbankan menjadi platform keuangan terintegrasi.
“Hal ini sejalan dengan ambisi Perusahaan menjadi pemimpin di industri perbankan berbasis digital yang mampu menutup tahun buku dengan laba penuh yang berkelanjutan,” papar Eri.
Berdasarkan data pasar per 24 Januari 2026, pergerakan saham BBYB menunjukkan volatilitas yang terjaga dengan tren bullish. Harga saham sempat menyentuh level Rp 500 setelah aksi borong oleh pemegang saham pengendali.
Dalam rentang 52 minggu terakhir, saham BBYB diperdagangkan pada kisaran Rp 148 hingga Rp 615. Kenaikan harga sepanjang tahun 2025 tercatat sangat signifikan, mencerminkan optimisme investor terhadap fundamental perusahaan yang sudah berbalik dari rugi menjadi laba (turnaround story).
Mengutip metrik dari InvestingPro dan konsensus analis, Sabtu (24/1/2026), nilai wajar (fair value) BBYB saat ini berada di rentang Rp 432 hingga Rp 468. Namun, target harga rata-rata dari analis untuk 12 bulan ke depan berada di angka Rp 598, yang menyiratkan potensi kenaikan (upside) sekitar 35,80% dari harga saat ini.
Estimasi tertinggi bahkan memproyeksikan saham BBYB dapat menyentuh level Rp 1.000 jika ekspansi kredit dan efisiensi BOPO (beban operasional terhadap pendapatan operasional) tetap konsisten di level 82% seperti posisi Oktober 2025.
Profil Usaha dan Struktur Kepemilikan
PT Bank Neo Commerce Tbk didirikan pada 1989 sebagai Bank Yudha Bhakti yang awalnya melayani purnawirawan TNI/Polri. Transformasi digital dimulai sejak masuknya Akulaku sebagai pemegang saham pada 2019.
Baca Juga
Bank Neo Commerce (BBYB) Balikkan Rugi Jadi Laba Rp 19,88 Miliar di 2024
PT Bank Yudha Bhakti Tbk merupakan perusahaan berbasis di Indonesia yang utamanya bergerak di sektor perbankan. Produknya antara lain rekening tabungan, rekening giro, deposito berjangka, deposito sertifikat dengan tenor jangka pendek (negotiable certificate deposit/NCD), dan berbagai produk pembiayaan.
Jaringan kantornya terdiri atas kantor cabang, kantor cabang pembantu, dan kantor kas yang berada di beberapa wilayah di Indonesia, seperti Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, Palembang, Pekan Baru, Jakarta, Tangerang Selatan, Bekasi, dan Depok.
Struktur kepemilikan saham BBYB terbaru menunjukkan kolaborasi antara raksasa teknologi keuangan dan investor strategis:
● PT Akulaku Silvrr Indonesia: Pemegang saham pengendali dengan porsi kepemilikan 34,45%.
● PT Gozco Capital: Pemegang saham utama dengan kepemilikan sekitar 9,31%.
● Rockcore Financial Technology: Memegang porsi sekitar 5,52%.
● Masyarakat: Kepemilikan publik mencapai lebih dari 51,66%, yang memberikan likuiditas cukup tinggi di bursa.

