CIMB Niaga (BNGA) Perkuat Posisi di 2026: Aksi 'Spin Off' Syariah dan Proyeksi Dividen Jumbo Jadi Sorotan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) memulai tahun 2026 dengan pijakan fundamental yang solid. Sebagai bank swasta terbesar kedua di Indonesia berdasarkan aset, BNGA terus menunjukkan konsistensi dalam mencatatkan pertumbuhan laba yang sehat dan efisiensi operasional.
Fokus strategis perusahaan tahun ini tertuju pada penyelesaian aksi korporasi besar serta upaya mempertahankan rasio pembayaran dividen yang tinggi bagi para pemegang sahamnya.
Langkah strategis paling signifikan yang tengah dijalankan BNGA adalah proses pemisahan atau spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) untuk menjadi Bank Umum Syariah (BUS) mandiri. Sesuai dengan mandat regulasi dan keputusan RUPSLB sebelumnya, Bank CIMB Niaga Syariah ditargetkan akan mulai beroperasi secara efektif pada Mei 2026.
Baca Juga
Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P Djajanegara menjelaskan bahwa proses spin-off UUS harus melalui sejumlah tahapan, baik eksternal maupun internal.
“Eksternal itu sekarang tahapan kami di mana? Jadi rencananya kami mau spin off pada Mei 2026. Saya sih maunya tanggal 1 Mei,” ujar Pandji saat membuka Journalist Class & Workshop CIMB Niaga di Jakarta dan Bogor.
Selain spin off, di awal Januari 2026, perseroan juga melakukan aksi korporasi berupa pengalihan saham hasil pembelian kembali (buyback). Sebanyak 168.000 lembar saham dialihkan sebagai bagian dari program pemberian bonus dan insentif bagi direksi dan karyawan (Management and Employee Stock Option Plan). Transaksi ini dilakukan pada harga rata-rata Rp 2.120 per saham, yang mencerminkan kepercayaan manajemen terhadap nilai intrinsik perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, CIMB Niaga berhasil membukukan laba sebelum pajak konsolidasi sebesar Rp 6,7 triliun hingga akhir kuartal III 2025, atau tumbuh 1,7% secara tahunan (YoY). Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi kredit yang mencapai Rp 228,7 triliun atau naik 4,6% YoY, serta peningkatan dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) sebesar 10,6% YoY menjadi Rp 188,8 triliun.
Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio CASA yang kokoh di level 69,0%, memberikan keunggulan biaya dana (cost of fund) yang kompetitif. Mengutip data dari InvestingPro, Jumat (23/1/2026), BNGA memiliki margin laba bersih sebesar 38,40%, yang menunjukkan efisiensi operasional yang sangat baik dibandingkan rata-rata industri perbankan di Asia Tenggara.
Sebagai informasi tambahan, per 30 September 2025, CIMB Niaga tercatat sebagai bank swasta terbesar kedua di Indonesia dengan total aset mencapai Rp 369,5 triliun.
Baca Juga
Ditopang 3 Segmen Ini, Kredit CIMB Niaga (BNGA) Tumbuh 6,8% Jadi Rp 231,8 Triliun per Juni 2025
Profil Usaha dan Struktur Kepemilikan Saham
PT Bank CIMB Niaga Tbk didirikan pada tahun 1955. CIMB Niaga merupakan perusahaan yang berbasis di Indonesia yang utamanya bergerak dalam sektor perbankan.
Selain perbankan konvensional, perusahaan ini juga menawarkan layanan perbankan syariah. Jaringan kantornya terdiri atas cabang, cabang pembantu, dan kantor pembayaran yang berada di seluruh Indonesia. Perusahaan ini juga bergerak dalam sektor pembiayaan melalui anak perusahaannya, PT CIMB Niaga Auto Finance dan PT Kencana Internusa Artha Finance
Dalam hal struktur kepemilikan, CIMB Group Sdn Bhd tetap menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan dominan sebesar 91,44%. Sementara itu, PT Commerce Kapital memegang sekitar 1,01%, dan sisanya sebesar 7,5% dimiliki oleh masyarakat. Struktur kepemilikan yang terkonsentrasi di bawah raksasa perbankan Malaysia ini memberikan stabilitas dukungan modal dan sinergi lintas negara di kawasan ASEAN.
Hingga 22 Januari 2026, saham BNGA diperdagangkan di kisaran Rp 1.865 per saham. Sepanjang 52 pekan terakhir, saham ini bergerak dalam rentang Rp 1.550 hingga Rp 1.895.
Lebih lanjut, salah satu daya tarik utama BNGA di mata investor adalah komitmennya terhadap dividen. Pada tahun 2025, perusahaan membagikan dividen dengan rasio pembayaran (payout ratio) mencapai 60% dari laba bersih. Untuk tahun buku 2025 yang akan dibayarkan pada Mei 2026, pasar memproyeksikan dividen sekitar Rp 155,7 per saham, yang memberikan dividend yield menggiurkan di kisaran 8,37%.
Dalam lima tahun terakhir, dividen BNGA menunjukkan pola pertumbuhan sebagai berikut:
2024: Rp 122,67 per saham
2023: Rp 115,16 per saham
2022: Rp 94,07 per saham
2021: Rp 44,06 per saham
2020: Rp 55,39 per saham
Kenaikan signifikan terlihat terutama pada periode 2021 hingga 2024. Asal tahu saja, ketika suatu perusahaan telah menaikkan dividen selama berturut-turut, ini menunjukkan komitmen konsisten untuk mengembalikan modal kepada pemegang saham.
Kenaikan dividen yang konsisten adalah tanda kesehatan finansial dan stabilitas perusahaan. Ini juga menunjukkan perusahaan punya keyakinan pada pertumbuhan pendapatannya di masa depan. Ini bisa dilihat sebagai sinyal positif atau bullish bagi investor, terutama mereka yang mencari pemasukan reguler dari investasinya.

