IHSG Diproyeksikan Konsolidatif Hari ini, Sejumlah Saham Ini Layak Dilirik
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat terbatas pada perdagangan Kamis (22/1/2026), seiring pasar masih mencermati dinamika sentimen global dan domestik.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai secara teknikal IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas. Kisaran pergerakan jangka pendek berada di rentang 8.930–9.105.
Baca Juga
OJK Bidik Kenaikan Jumlah Investor Kripto di 2028 Jadi 23 Juta
“Selama indeks mampu bertahan di atas area 8.900, tren naik jangka menengah masih relatif terjaga, meskipun laju penguatannya tidak lagi seagresif sebelumnya,” ujarnya kepada investortrust.id, Rabu (21/1/2026).
Menurut Hendra, pergerakan IHSG ke depan sangat dipengaruhi stabilisasi sentimen global serta respons pasar terhadap pidato Presiden Amerika Serikat di Forum Ekonomi Dunia Davos.
“Apabila ketegangan geopolitik tidak bereskalasi lebih jauh dan wacana perang dagang dapat diredam, maka tekanan terhadap pasar saham Asia, termasuk Indonesia, berpeluang mereda,” jelas dia.
Baca Juga
Sebelumnya, IHSG terkoreksi tajam pada perdagangan Rabu (21/1/2026) dan ditutup melemah 1,36% ke level 9.010, dipicu kombinasi sentimen global dan aksi ambil untung setelah indeks mencetak rekor tertinggi dalam beberapa hari terakhir.
Pasar global kembali dibayangi ketidakpastian imbas meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait isu Greenland, serta munculnya kembali narasi “jual Amerika”. Kondisi tersebut mendorong arus dana global beralih ke aset aman seperti emas yang melesat ke rekor baru.
Di dalam negeri, tekanan turut diperkuat aksi jual bersih asing yang mencapai sekitar Rp 1,3–1,8 triliun, serta pelemahan saham berkapitalisasi besar di sektor industri dan otomotif seperti UNTR dan ASII.
Baca Juga
Pemerintah Bakal Ringkas 27 Ribu Aplikasi Daerah ke SPBE Nasional
“Dengan kondisi tersebut, koreksi hari ini lebih mencerminkan koreksi sehat dan profit taking, bukan pembalikan tren jangka menengah, meskipun dalam jangka pendek volatilitas masih berpotensi berlanjut,” ujar Hendra.
Ia menambahkan pelaku pasar juga menantikan sikap Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang berada dekat level psikologis Rp 17.000 per dolar AS, serta konsistensi kebijakan moneter yang pro-stabilitas.
Saham Pilihan
Dalam kondisi pasar terkoreksi dan volatilitas meningkat, Hendra menyarankan investor bersikap selektif. Investor jangka pendek dinilai dapat memanfaatkan koreksi sebagai peluang trading buy pada saham yang sudah terkoreksi dalam tetapi masih memiliki sentimen dan fundamental pendukung.
Adapun investor jangka menengah dan panjang disarankan tetap disiplin mengelola risiko, menjaga porsi kas, dan fokus pada saham berkinerja solid dengan prospek sektor relevan. Pendekatan bertahap atau akumulasi harga rendah dinilai lebih bijak dibanding mengejar harga saat volatilitas tinggi.
Untuk saham pilihan, Hendra menyebut peluang trading masih terbuka pada beberapa emiten, yaitu JPFA direkomendasikan trading buy dengan target Rp 3.200, INET dengan target Rp 620 memanfaatkan momentum teknikal, RAAM direkomendasikan spekulatif buy dengan target Rp 300, dan COAL dengan target Rp 250.

