IHSG Sempat Terhempas 211 Poin, Ternyata Ini Penyebabnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di zona merah pada perdagangan sesi II Senin (12/1/2026). Berdasarkan data BEI, IHSG berada di level 8.858,21 atau terkoreksi 78,54 poin (0,88%) dengan volume transaksi mencapai 69,84 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 37,27 triliun.
Bahkan indeks sempat menyentuh angka 8.725,17,atau anjlok 211,58 poin pada pukul 14.33 WIB, dibandingkan level pembukaan di awal hari, alias terkoreksi sebesar 2,36%. Kendati segera rebound ke angka 8.850 an beberapa menit kemudian.
Sejak awal perdagangan, IHSG dibuka pada zona hijau di level 8.991,76 dan bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian di 9.000,97. Namun, tekanan jual yang meningkat pada sesi siang membuat indeks berbalik arah dan tertekan cukup dalam, hingga menyentuh level terendah 8.715,41 sebelum akhirnya mengalami rebound terbatas menjelang penutupan.
Tercatat sebanyak 463 saham melemah, sementara 251 saham menguat dan 97 saham bergerak stagnan. Kondisi ini mencerminkan bahwa koreksi IHSG terjadi secara relatif merata di berbagai sektor.
Baca Juga
IHSG Anjlok 0,58% Akibat Saham Emiten Prajogo, Sebaliknya 7 Saham Dipimpin MSKY Cetak ARA
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai, koreksi IHSG yang hampir 2% pada perdagangan hari ini dipicu oleh aksi realisasi keuntungan jangka pendek setelah indeks menyentuh level psikologis 9.000. Menurutnya, untuk mempertahankan momentum di atas level tersebut dibutuhkan katalis lanjutan yang bersifat fundamental.
“Untuk mempertahankan momentum di atas level tersebut, memerlukan katalis lanjutan yang bersifat fundamental,” ujar Reydi saat dihubungi investortrust.id Senin, (12/1/2026).
Tekanan terhadap indeks juga semakin terasa seiring koreksi tajam pada saham-saham berisiko tinggi seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) , yang cenderung mengalami penyesuaian lebih dalam ketika sentimen pasar berubah.
“Meski demikian, pergerakan ini masih dapat dikategorikan sebagai koreksi sehat dalam tren yang sedang berlangsung,” jelas Reydi.
Senada, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia juga menilai pelemahan pasar kali ini berkaitan dengan tekanan pada saham-saham sektor komoditas dan pertambangan.
“Saya merasa ini merupakan koreksi terhadap beberapa saham di sektor komoditas/pertambangan,” kata Rully kepada investortrust.id.

