Persaingan FBB Memanas, Penetrasi Tembus 41%: Bagaimana Prospek Saham TLKM, ISAT, EXCL?
JAKARTA, investortrust.id – Persaingan layanan fixed broadband (FBB) di Indonesia memasuki fase baru dengan potensi lonjakan penetrasi mulai tahun 2026. Penetrasi FBB diperkirakan bisa mencapai 41% tahun ini.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset pagi ini menyebutkan bahwa lompatan pesat pangsa pasar FBB nasion ditopang sejumlah faktor, seperti ekspansi agresifnya fixed wireless access (FWA) 1,4GHz oleh internet provider services (ISP), strategi harga agresif dari ISP, serta adopsi model open-access FiberCo.
Baca Juga
Telkom (TLKM) Buka Peluang IPO InfraNexia Usai Spin-Off Aset Fiber
“Setelah pangsa pasar stagnan di kisaran 18–19% selama tiga tahun terakhir, penetrasi FBB, termasuk FWA, diproyeksikan meningkat dari sekitar 24% pada tahun lalu menjadi setinggi 41% pada FY26,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan dalam riset kemarin.
Berikut tiga faktor utama penopang lompatan pangsa pasar internet nasional, yaitu pertama, pembukaan akses melalui implementasi FWA 1,4GHz yang dioperasikan oleh Surge (WIFI) dan MyRepublic. WIFI menargetkan jumlah pelanggan mencapai 5 juta pelanggan pada 2026.
Kedua, strategi harga disruptif yang diterapkan oleh ISP penantang, seperti WIFI dan DATA, di kisaran Rp 100.000–116.000, yang kemudian diikuti oleh INET. Serta Ketiga, adopsi model open-access FiberCo, seperti LINK dan InfraCo milik TLKM, yang secara signifikan menurunkan hambatan masuk industri.
Baca Juga
Wall Street Bertabur Rekor, Dow Melesat Hampir 500 Poin dan Tembus 49.000
“Dalam fase ini, WIFI (Starlite dan IRA), MORA (MyRepublic dan Oxygen), serta DATA (NetHome) dinilai menjadi proksi utama pertumbuhan incremental homeconnect,” tulisnya.
Namun, strategi pertumbuhan agresif ini membuat intensitas belanja modal (capex) dan risiko eksekusi menjadi front-loaded pada ISP penantang. Dengan penawaran harga rendah, keberhasilan akan sangat bergantung pada kemampuan menekan capex per home-pass serta menjaga tingkat adopsi di atas 50–60% untuk mencapai profitabilitas per rumah terhubung.
Di sisi lain, meningkatnya persaingan FBB dan adopsi open-access fiber berpotensi menekan average revenue per user (ARPU) FBB operator seluler (MNO). TLKM dinilai paling terekspos dengan kontribusi pendapatan FBB sekitar 18%, dibandingkan EXCL dan ISAT yang masing-masing sebesar 7% dan 2%.
Baca Juga
Kinerja FTTH Moncer, Samuel Sekuritas Pertahankan Rekomendasi Beli Saham Surge (WIFI)
Meski demikian, prospek MNO dinilai tetap solid. Kinerja mobile yang berkelanjutan pada fase pemulihan harga pascakonsolidasi masih menjadi jangkar utama laba inti. Oleh karena itu, pandangan overweight terhadap saham opterator telekumikasi.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa saham WIFI dan INET dinilai relatif menarik dengan valuasi masing-masing 12,4x dan 18,9x EV/EBITDA 2026, ditopang proyeksi pertumbuhan EBITDA konsensus sekitar 2,2 kali dan 12,0 kali untuk tahun ini.
Sedangkan saham ISAT direkomendasikan beli dengan target harga Rp 3.000. Begitu juga dengan saham TLKM dipertahankan beli dengan target harga Rp 4.000 dan EXCL direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.100.
Grafik Saham Telko

