IHSG Bakal Digoyang Isu AS - Venezuela, Tapi Peluang 'Rebound' Tetap Terbuka
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan tetap berada dalam jalur uptrend yang solid dan berpotensi kembali menguji rekor tertinggi sepanjang masa di area 8.777.
Meski peluang tersebut terbuka lebar, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan memanasnya konflik Amerika Serikat dan Venezuela juga turut berpotensi meningkatkan aversi risiko investor global dalam jangka pendek.
“Kondisi ini membuat IHSG pada awal pekan, Senin 5 Januari 2026, berpeluang bergerak melemah terbatas untuk menguji area support di kisaran 8.642 hingga 8.672. Area tersebut menjadi level krusial untuk mengukur kekuatan pasar, sementara resistance terdekat tetap berada di level puncak historis 8.777,” kata Hendra kepada investortrust.id Minggu (4/1/2026).
Menurutnya, sentimen global kembali menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan pada awal 2026, khususnya setelah memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Venezuela.
“Isu penangkapan Presiden Venezuela oleh otoritas AS meningkatkan ketegangan geopolitik dan langsung berdampak pada persepsi risiko global,” ucap Hendra.
Baca Juga
IHSG 2026 Bisa 'Dibungkus' di 9.100, 'Conglo Stocks' Masih Prospektif
Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sehingga setiap eskalasi konflik berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global. Kondisi ini mendorong harga minyak bergerak volatil dan cenderung menguat dalam jangka pendek.
“Di satu sisi, hal ini menjadi sentimen positif bagi saham-saham energi dan komoditas, namun di sisi lain meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi dan ketidakpastian global, sehingga mendorong sikap wait and see, khususnya dari investor asing,” terang dia.
Selain faktor Venezuela, pergerakan IHSG pada pekan ini juga dipengaruhi oleh ekspektasi arah kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta dinamika arus dana asing di pasar emerging markets.
Dari dalam negeri, ujar Hendra, pelaku pasar mencermati kesinambungan kebijakan ekonomi pemerintah yang pro-pasar, stabilitas makroekonomi, serta realisasi kinerja awal tahun emiten-emiten berkapitalisasi besar.
Kombinasi sentimen global dan domestik ini membuat pergerakan IHSG cenderung fluktuatif, namun masih berada dalam fase konsolidasi yang sehat selama support utama mampu dipertahankan.
“Dalam konteks jangka menengah hingga panjang, proyeksi IHSG menembus level 10.000 pada akhir 2026 memang terkesan ambisius, namun masih berada dalam koridor realistis jika dikaitkan dengan fondasi pasar modal Indonesia saat ini,” tuturnya.
Baca Juga
Awal Tahun Hijau, IHSG Tembus 8.748 Meski 'Big Banks' Tertekan
Sepanjang 2025, IHSG mencetak rekor tertinggi baru dengan kapitalisasi pasar yang telah menembus kisaran Rp16.000 triliun, didukung oleh pertumbuhan investor domestik yang konsisten, likuiditas pasar yang terjaga, serta ketahanan indeks di tengah tekanan global.
Awal 2026 pun dibuka dengan sentimen positif, tercermin dari penguatan IHSG lebih dari 1 pada hari perdagangan pertama dengan nilai transaksi yang besar, menandakan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional masih cukup solid.
“Untuk mencapai level psikologis 10.000, penguatan IHSG tetap membutuhkan dukungan fundamental yang berkelanjutan. Pertumbuhan laba emiten, terutama saham-saham berkapitalisasi besar, menjadi motor utama indeks,” ungkap Hendra.
Selain itu, peluang kembalinya arus dana asing seiring meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga global, stabilitas inflasi, nilai tukar rupiah yang terkendali, serta keberlanjutan IPO berkualitas akan memperkuat struktur pasar modal secara jangka panjang.
Di tengah volatilitas jangka pendek akibat sentimen geopolitik, Hendra merekomendasikan saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) trading buy dengan target Rp 1.595, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) trading buy target Rp 1.325.
Sementara itu, saham PT Elnusa Tbk (ELSA) trading buy dengan target Rp 555, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) trading buy dengan target Rp 3.410, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) buy dengan target Rp 1.300.

