Jumlah Listing Emiten Baru Pecah Rekor, Kinerja IHSG Cuma Naik Tipis-Tipis
JAKARTA, investortrust.id – Jumlah pencatatan saham (listing) perusahaan baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencetak rekor terbanyak sepanjang sejarah pasar modal Indonesia pekan ini.
Sejak awal tahun 2023 hingga 5 Oktober 2023 atau year to date (ytd), terdapat 66 perusahaan telah mencatatkan sahamnya di BEI. Angka tersebut sudah sama dengan jumlah perusahaan tercatat di sepanjang tahun 1990.
Sementara secara total jumlah emiten yang sahamnya tercatat di BEI mencapai 890 perusahaan.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, mengatakan, pada Jumat (6/10?2023) besok, BEI akan kedatangan 2 perusahaan tercatat baru, sehingga total pencatatan saham baru akan mencapai 68 perusahaan di pekan ini.
Kedua saham pendatang baru tersebut adalah PT Kokoh Exa Nusantara Tbk (KOCI) dan PT Sumber Sinergi Makmur Tbk (IOTF). Artinya BEI berhasil memecahkan rekor pencatatan saham baru sepanjang tahun, setelah penantian 33 tahun.
Selain memecahkan rekor, BEI juga berhasil menempatkan diri sebagai bursa dengan jumlah pencatatan saham baru terbanyak kedua se-ASEAN, setelah Bursa Malaysia.
“Untuk skala global, kita nomor 5 terbanyak dunia dari sisi jumlah perusahaan tercatat sepanjang tahun ini,” papar Iman dalam acara Editor in Chief Gathering yang digelar oleh Self Regulatory Organization (SRO) di Jakarta, Rabu malam, (4/10/2023).
BEI menyebut, dari 66 perusahaan tercatat sepanjang tahun ini, berhasil menghimpun dana (fund rise) Rp 494 triliun. “Dari sisi fund rise, pasar modal kita nomor 7 di dunia sementara di tingkat ASEAN kita terbesar,” ujarnya.
Kinerja Indeks
Kinerja BEI dari sisi penambahan jumlah emiten tercatat, tampaknya tidak semengkilap kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Setahun terakhir ini hanya naik kurang dari 2% atau bisa dikatakan stagnan.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyebut, pada 22 September 2022 IHSG sempat menyentuh all time high ke level 7.318. Penguatan IHSG kala itu mampu mendongkrak nilai kapitalisasi pasar di BEI hingga mencapai Rp 10.400 triliun.
Sayangnya, ketidakpastian global akibat lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga memupus optimisme pemodal, membuat IHSG terpaksa mengalami tren penurunan.
Saat ini IHSG tampak masih berupaya menggapai level 6.900, posisi yang terakhir dicapai pada 29 September 2023. Penurunan IHSG yang terjadi membuat nilai kapitalisasi pasar saham juga turun dari posisi tertinggi Rp 10.400 triliun. “Saat ini kapitalisasi pasar kita sekitar Rp 10.000 triliun,” papar Iman.
Diakui Iman, tekanan sentimen global juga berpengaruh pada penurunan aktivitas transaksi pemodal. Dikatakan Iman, BEI pernah mencatat rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sebesar Rp 14,7 triliun “Tapi penurunan ini bukan hanya terjadi di pasar modal kita, tapi juga terjadi di seluruh bursa saham dunia,” terang Iman Rachman.
Kendati begitu, Iman menilai, optimisme pemodal mulai kembali meningkat. Saat ini menurut Iman, RNTH sudah mulai meningkat menjadi Rp 10,5 triliun, bandingkan dengan posisi RNTH di akhir tahun 2022 sebesar Rp 10,3 triliun.
Sementara dari sisi frekuensi dan volume diakui Iman masih mengalami penurunan dibandingkan posisi akhir tahun 2022, di mana di mana secara year to date BEI mencatat frekuensi sebanyak 1,7 juta transaksi perhari dengan volume sebanyak 18,9 miliar saham per hari.

