Analis: Demutualisasi BEI Bisa Tingkatkan Kepercayaan Investor Asing
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) menarik sorotan dari kalangan analis pasar modal. Perubahan struktural kepemilikan bursa ini dinilai berpotensi kuat untuk meningkatkan tingkat independensi BEI dan sekaligus memperkuat daya saingnya di kancah global.
Demutualisasi sendiri yakni proses mengubah BEI dari organisasi berbasis keanggotaan (self-regulatory organization/SRO) yang dimiliki oleh para anggota bursa (perusahaan sekuritas) menjadi perusahaan yang dapat dimiliki oleh publik atau entitas lain.
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa memandang perubahan struktur kepemilikan bursa tersebut berpotensi meningkatkan independensi BEI serta memperkuat daya saing di tingkat global.
Menurut Reydi, langkah demutualisasi akan membuat BEI tidak lagi berada di bawah kepentingan para anggota bursa, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara lebih objektif.
“Demutualisasi BEI akan buat BEI jadi independen dari kepentingan anggota-anggota bursa, sehingga keputusan-keputusannya bisa lebih strategis dan objektif untuk ke depan,” kata Reydi kepada media, Jumat, (12/12/2025).
Menurut Reydi, peningkatan tata kelola yang menyertai langkah ini juga dapat meningkatkan kepercayaan dari investor asing. Hal ini selaras dengan praktik yang sudah umum diterapkan oleh bursa-bursa internasional yang telah lebih dahulu melakukan demutualisasi.
Meskipun demikian, Reydi juga menyoroti potensi konsekuensi dari perubahan struktur tersebut. Ia memperingatkan dengan masuknya investor strategis, BEI berpotensi menjadi lebih berorientasi pada profit.
“Daya saing BEI tentu meningkat menyusul bursa negara lain yang sudah lebih dahulu melakukan demutualisasi, akan meningkatkan kepercayaan investor asing juga. Namun perlu diperhatikan bahwa BEI akan mendapatkan investor-investor strategis yang mungkin akan mengharapkan imbal hasil,” ucap dia.
Baca Juga
BEI Siapkan Kajian Komprehensif Soal Rencana Demutualisasi 2026
Terkait dampaknya terhadap pasar, Reydi memperkirakan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam jangka pendek kemungkinan besar tidak akan terpengaruh secara signifikan. Namun, dampak positif diharapkan terasa dalam jangka panjang.
“Dampak ke IHSG dalam jangka pendek mungkin tidak terlalu terdampak, tetapi untuk jangka panjang diharapkan positif karena akan meningkatkan minat asing untuk masuk ke IHSG,” tutur Reydi.
Sebelumnya, BEI tengah mengkaji pro dan kontra terkait rencana demutualisasi yang sebelumnya disampaikan oleh Kementerian Keuangan. Pemerintah melalui Kemenkeu menargetkan proses demutualisasi BEI dapat mulai berjalan pada semester I-2026.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan proses demutualisasi merupakan perubahan struktur kelembagaan yang membutuhkan kajian mendalam.
"Demutualisasi ini ini kan perubahan struktur. Kita menyediakan studi yang komprehensif. Ini modelnya seperti apa? Yang nanti memberikan optimal benefit untuk capital market (pasar modal)," kata Nyoman menjawab pertanyaan investortrust.id di Gedung BEI, Jakarta, Jumat, (12/12/2025).
Ia menegaskan BEI telah menyiapkan kajian komprehensif sebagai bentuk kontribusi kepada pemegang saham yang akan mengambil keputusan akhir.

