Saham BUMI Melesat 19% hingga Top Volume Sesi I, Intip kembali Sejumlah Aksi Besar Korporasi Ini
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan lonjakan pada perdagangan intraday sesi I, Rabu (10/12/2025). Bahkan, BUMI menjadi saham teratas top frequency, volume, dan value di BEI.
Berdasarkan data hingga pukul 11.20 WIB, saham BUMI menguat Rp 52 (19,12%) menjadi Rp 324. Rentang pergerakan harga Rp 276-334 dengan nilai transaksi Rp 4,75 triliun. Kenaikan tersebut menjadikan kapitalisasi pasar (market cap) saham ini melesat menjadi Rp 120,31 triliun.
Sedangkan penguatan harga saham BUMI selama sebulan terakhir telah lebih dari 130%. Kenaikan dalam lima hari transaksi telah mencapai 35%. Dengan kenaikan tersebut, saham BUMI telah melampaui target harga yang ditetapkan Samuel Sekuritas dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, beberapa pekan lalu.
Baca Juga
Perkuat Portofolio Non-Batu Bara, Bumi Resources (BUMI) Umumkan Akuisisi Baru Tahun Depan
Saat ini, Bumi Resources (BUMI) menegaskan komitmennya dalam memperluas bisnis ke komoditas non-batu bara. Manajemen mengaku, akan mengumumkan akuisisi baru di luar komoditas batu bara, dalam 6-12 bulan ke depan.
Direktur Bumi Resources Christopher Fong menegaskan, perusahaan sedang menjalankan strategi diversifikasi transformasi yang mengalihkan fokus dari batu bara termal. Sambil tetap menjaga operasional batu bara termal perusahaan agar tetap berjalan dan berkinerja.
“Fokus kami adalah pada logam dan mineral, serta pemrosesan hilir. Kami akan mengumumkan akuisisi lebih lanjut dalam 6-12 bulan ke depan di sektor mineral, berpotensi di area lain di sektor tersebut,” jelas Chris, beberapa waktu lalu.
Baca Juga
Manajemen memperkirakan dalam 5-6 tahun ke depan atau sekira 2031, berdasarkan EBITDA konsolidasi, aset dan pendapatan perusahaan akan mencapai rasio 50:50 antara batu bara dan non-batu bara.
Perusahaan pertambangan Grup Bakrie tersebut mempertegas diversifikasi portofolio, dengan akuisisi Wolfram Limited (WFL) dan memperluas kepemilikan di Jubilee Metals Limited (JML). Keduanya merupakan perusahaan yang memegang izin tambang emas dan tembaga di Australia. “Langkah ini bukan sekadar ekspansi bisnis, tetapi juga strategi untuk memperkuat posisi perusahaan di tengah tren permintaan global akan mineral strategis dan kritis,” tulis Mirae Asset Sekuritas dalam laporan per 11 November 2025.

