CEO Investortrust: Pertumbuhan Ekonomi 8% Harus Ditopang Pasar Modal yang Kuat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — CEO Investortrust Primus Dorimulu menegaskan, ambisi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% tidak akan tercapai tanpa dukungan pasar modal yang kuat, modern, dan inklusif.
Primus menekankan bahwa untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%, Indonesia membutuhkan suntikan investasi yang jauh lebih besar. Menurutnya, perbankan tidak bisa menjadi satu-satunya sumber pendanaan karena hanya menyediakan utang, bukan modal segar.
“Lewat pasar modal, perusahaan mendapat fresh money, bukan utang. Ini memperbaiki struktur permodalan dan memungkinkan ekspansi,” jelas Primus dalam acara Investortrust Capital Market Forum 2025 di Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO), menurutnya, memberikan ruang bagi perusahaan untuk tumbuh tanpa bergantung pada pemegang saham lama atau pinjaman bank. Maka dari itu, Primus menekankan bahwa pemerintah harus memberi perhatian lebih besar pada pasar modal sebagai penggerak ekonomi, bukan hanya pada sektor perbankan, UMKM, atau program-program sosial.
“Presiden Prabowo Subianto harus bicara juga tentang pentingnya pasar modal. Ini yang belum kita dengar,” ujar Primus.
Baca Juga
Lebih lanjut dia berharap agar Presiden Prabowo Subianto dapat hadir dalam pembukaan perdagangan awal 2026 dan menyampaikan pesan penguatan pasar modal, terutama dari sisi teknologi dan peningkatan jumlah investor. “Kalau Indonesia mau maju, pasar modal harus diperkuat. Itu pesan untuk pemerintah kita,” tegas Primus.
Dalam acara Investortrust Capital Market Forum 2025, turut menghadirkan tokoh kunci pasar modal India, yakni Managing Director & CEO Bombay Stock Exchange (BSE) Sundararaman Ramamurthy.
Primus menjelaskan, kehadiran langsung pimpinan bursa tertua di Asia itu merupakan upaya Investortrust untuk membawa pembelajaran dari transformasi besar yang terjadi di pasar modal India dalam satu dekade terakhir. “Kita mengundang orang yang paling penting dalam perkembangan pasar modal India. Kita mau mendapatkan pelajaran dari India,” kata Primus.
Dia memaparkan, India menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan pasar modal tercepat di dunia. Retail investor negara tersebut melonjak dari di bawah 30 juta menjadi 200 juta investor hanya dalam lima tahun. Jumlah tersebut setara 85% populasi Indonesia. Sementara itu, Indonesia baru memiliki sekitar 19 juta investor retail.
Tidak hanya dari sisi jumlah investor, India juga unggul jauh dalam skala pasar. BSE kini memiliki 8.500 perusahaan tercatat dengan kapitalisasi pasar mencapai US$ 5 triliun, atau 120% dari produk domestik bruto (PDB) India. Sebaliknya, market cap Indonesia masih sekitar US$ 850 miliar, atau baru 80% dari PDB nasional.
Menurut Primus, salah satu faktor kunci keberhasilan India adalah teknologi pasar modal yang sangat maju. Hampir seluruh aplikasi perdagangan, pembayaran, hingga settlement saham di India menggunakan sistem yang dikembangkan perusahaan teknologi Remiges, market leader yang turut hadir dalam forum.
Baca Juga
Pemerintah Targetkan Kapitalisasi Pasar Modal 120% PDB pada 2045
Teknologi tersebut memungkinkan seluruh lapisan masyarakat—termasuk sopir, buruh, dan pekerja informal—untuk membeli dan menjual saham hanya dengan “one click” melalui handphone mereka.
“Yang penting buat Indonesia adalah investor protection. Nah, teknologi bertumbuh, tapi kalau tak ada teknologi untuk mudah mendeteksi ya, itu tidak ada tindakan preventif dari regulasi. Harus ada teknologi yang bisa mendeteksi dini akan terjadi begini,” ucap Primus.

