Investortrust Capital Market Outlook 2026: Dubes India Dorong Integrasi Pasar Keuangan India–Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Duta Besar (Dubes) India untuk Indonesia, Shri Sandeep Chakravorty, menegaskan pentingnya percepatan integrasi pasar keuangan antara India dan Indonesia. Hal itu ia sampaikan dalam agenda Investortrust Capital Market Outlook 2026 di JW Marriott Hote, Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Ia meyakini hal ini menjadi momentum penting untuk menutup “air gap” antara industri finansial kedua negara.
Dalam sambutannya, Chakravorty menyoroti bahwa hubungan ekonomi kedua negara sejatinya sudah kuat. Ia membeberkan nilai perdagangan bilateral mencapai US$30–40 miliar selama empat tahun terakhir, menjadikan India sebagai pasar ekspor terbesar ke-3 atau ke-4 bagi Indonesia. Sementara itu, Indonesia juga tercatat sebagai mitra dagang terbesar ke-5 bagi India.
“Namun satu area yang masih memiliki celah besar adalah integrasi pasar uang dan pasar modal,” kata dia.
Chakravorty juga mengungkapkan kedua negara telah menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) mengenai local currency settlement (LCS) antara Bank Indonesia dan Reserve Bank of India. Ia menyebut proses finalisasi pedoman teknis LCS sedang berlangsung.
“Ketika LCS diterapkan, biaya transaksi antara India dan Indonesia bisa turun hingga 5%,” tegasnya.
Baca Juga
Dubes India Sebut Indonesia Bisa Adopsi Model 225 Juta Investor Ritel India
Selain itu, kedua negara juga sedang mendorong integrasi sistem pembayaran UPI India dengan QRIS Indonesia. Ia mengungkap prosesnya tidak sederhana karena perbedaan infrastruktur teknis, namun ia optimistis implementasi dapat dimulai pada tahun depan.
Peluang Berbagi Pengalaman India-Indonesia
Chakravorty juga menyinggung kunjungan Wakil Menteri Keuangan RI Thomas Djiwandono ke India baru-baru ini. Dalam kunjungan tersebut, Thomas Djiwandono bertemu BSE, regulator pasar modal SEBI, serta sejumlah manajer investasi India.
“Beliau kembali dengan banyak ide, dan saya yakin beberapa akan segera diterapkan di Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, pelajaran yang diambil oleh Thomas Djiwandono dari India relevan bagi Indonesia karena dua negara memiliki karakteristik serupa sebagai negara berkembang. India, dengan kapitalisasi pasar US$5 triliun dan lebih dari 225 juta investor ritel, menjadi salah satu pasar modal paling dinamis di Asia.
“IPO di India sering oversubscribed berkali-kali lipat. Energi seperti itu juga perlu dibangun di Indonesia,” kata Chakravorty.
Ia menegaskan, India siap mendukung perkembangan pasar modal Indonesia dan mendorong kerja sama lebih erat antara regulator, pelaku pasar, dan para investor.

