Industri Kripto Berada di Persimpangan, Antara Pertumbuhan Pesat dan Ancaman Kejahatan Digital
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Industri kripto di dalam negeri tengah memasuki fase krusial dalam perkembangannya. Di satu sisi, industri ini tumbuh pesat, namun di lain sisi juga dibayangi kejahatan digital seperti pencucian uang.
Data teranyar Otoritas jasa Keuangan (OJK) mencatat, nilai transaksi kripto secara nasional tembus Rp 409,56 triliun hingga Oktober 2025. Capaian ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan dan antusiasme publik terhadap aset digital, sekaligus menandakan pentingnya kripto bagi ekonomi digital nasional.
CEO Tokorypto Calvin Kizana mengungkapkan, tren pertumbuhan ini menandakan kematangan ekosistem kripto di Indonesia. Tak hanya peningkatan nilai transaksi, jumlah pengguna juga terus bertambah seiring hadirnya regulasi yang jelas.
“Ekosistem kripto saat ini tak hanya didorong oleh spekulasi jangka pendek, tapi juga oleh peningkatan literasi dan minat terhadap inovasi teknologi berbasis blockchain,” ujarnya, dalam keterangan pers, Jumat (28/11/2025).
Baca Juga
Di lain sisi, pertumbuhan ini dibarengi dengan risiko kejahatan digital seperti pencucian uang. Salah satu modus yang menjadi perhatian adalah penggunaan identitas palsu dalam pembukaan akun kripto, sebuah celah yang memudahkan kejahatan finansial mengambil bentuk baru.
“Praktik jual beli KTP di marketplace ilegal semakin menambah kompleksitas tantangan tersebut. Identitas palsu memungkinkan pelaku kejahatan melakukan pengalihan dana hasil tindak pidana melalui platform aset digital tanpa mudah dilacak,” kata Calvin.
Pelaku industri, lanjut dia, telah meningkatkan standar know your customer (KYC) dan anti money laundering (AML), tapi evolusi modus kejahatan menuntut pendekatan keamanan yang jauh lebih berlapis.
Untuk mengatasi risiko itu, bursa kripto kini mengadopsi teknologi verifikasi identitas yang lebih canggih. Pencocokan NIK dengan data Dukcapil diperketat, disertai penerapan liveness detection untuk memastikan keaslian wajah pengguna.
Pengguna berisiko tinggi diwajibkan menjalani enhanced due diligence yang mencakup pemeriksaan dokumen lebih mendalam. Selain itu, pemantauan on-chain secara real-time telah menjadi standar industri.
Baca Juga
Di Tengah "Outflow" Besar ETF, "Whale" Kripto Justru Serap Bitcoin
Melalui analitik blockchain, aktivitas mencurigakan seperti transaksi dari alamat berisiko tinggi, penggunaan mixing services, atau pola transfer abnormal dapat terdeteksi lebih cepat.
“Pendekatan berbasis risiko dan analisis blockchain real-time memungkinkan kami mendeteksi indikasi kejahatan lebih awal dan memutus rantai penyalahgunaan identitas palsu,” kata Calvin.
Investasi pada teknologi jangka panjang juga menjadi prioritas. Big data analytics dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai dimanfaatkan untuk mendeteksi anomali transaksi dalam skala besar dan real time.
AI dapat memetakan pola perilaku pengguna serta mengidentifikasi penyimpangan yang tidak terdeteksi oleh sistem tradisional.
“AI akan menjadi tulang punggung dalam memperkuat kepatuhan industri dan menjaga kepercayaan publik. Dengan teknologi ini, risiko dapat diprediksi, bukan hanya ditanggapi,” tegas Calvin.

