Harga Bitcoin Terjun ke US$ 81.000-an, Investor Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Gejolak Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin kembali melemah tajam pada perdagangan Jumat (21/11/2025). Merujuk ConMarketCap, Bitcoin bahkan sempat berada di level US$ 81.000-an pada sore hari ini.
Penurunan terjadi di tengah meningkatnya keraguan pasar terkait peluang pemotongan suku bunga The Fed pada Desember mendatang. Rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu kekhawatiran bahwa bank sentral belum punya cukup alasan untuk melonggarkan kebijakan moneter.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana mengungkapkan, volatilitas global berdampak langsung pada aktivitas pasar di Indonesia. Namun, kondisi domestik dinilai lebih tangguh dibanding pasar internasional.
“Meskipun nilai transaksi turun, jumlah pengguna kripto di Indonesia terus meningkat. Ini menunjukkan kepercayaan dan minat masyarakat terhadap aset digital tetap terjaga, bahkan ketika pasar sedang cooling down,” ujarnya, dalam keterangan pers, Jumat (21/11/2025).
Baca Juga
Dilanda 'Panic Selling' dan Isu Komputasi Kuantum, Harga Bitcoin Anjlok ke US$ 85.000
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, nilai transaksi kripto Januari-Oktober 2025 mencapai Rp 409,56 triliun, turun 13,77% secara year on year (yoy).
Sebaliknya, jumlah pengguna naik menjadi 18,61 juta per September 2025, tumbuh 3,05% dalam satu bulan. Sehingga, rata-rata pertumbuhan investor kripto tercatat stabil di atas 3% per bulan.
Calvin menyatakan, tren tersebut mengindikasikan investor domestik tidak keluar dari pasar, melainkan bersikap lebih hati-hati dalam memasukan modal baru. Kondisi tersebut juga mencerminkan bahwa pasar domestik tetap resilien meski tengah berada dalam tekanan global.
Baca Juga
Bitcoin Anjlok ke Level Terendah 6 Bulan di US$ 86.000-an, Pasar Kripto Rungkad
Ia memperkirakan bahwa perdagangan kripto hingga akhir 2025 akan berada di fase konsolidasi, seiring sikap wait and see pelaku pasar global. Faktor makro seperti kebijakan suku bunga The Fed, stabilitas geopolitik, aliran likuiditas, dan arus modal institusional juga menjadi penentu.
“Saat ini kita belum melihat konfirmasi bahwa pasar memasuki fase bearish struktural. Banyak indikator on chain, adopsi pengguna, dan aktivitas pengembang masih stabil. Kondisinya lebih menggambarkan pendinginan pasar daripada pembaikan tren besar,” kata Calvin.
Sementara untuk tahun depan, Calvin memperkirakan pasar kripto lebih terarah. Skenario penguatan dapat terjadi jika kondisi makro global membaik, termasuk potensi penurunan suku bunga, dan lainnya.
“Investor tetap perlu waspada melakukan analisis, dan memahami risiko. Namun, kita melihat bahwa minat masyarakat Indonesia terus tumbuh, yang menjadi sinyal positif bahwa ekosistem kripto di Indonesia semakin matang dan siap berkembang dalam jangka panjang,” ucap Calvin.

