Harga Emas Naik Tajam, Bank Sentral di Seluruh Dunia Berlomba Mengakumulasi Logam Kuning
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas terus menunjukkan tren yang sangat positif meskipun ada koreksi yang cukup tajam pada Jumat minggu lalu. Harga logam mulia ini tetap kokoh bertahan di atas angka US$ 4,200 per troy ounce.
Kenaikan harga emas ini tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor, melainkan oleh berbagai kondisi ekonomi dan geopolitik yang mendorong minat terhadap investasi di logam kuning tersebut.
Disampaikan Hasan Zein Mahmud, mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 1991–1996 di akun media sosialnya yang dikutip Senin (20/10/2025), salah satu pendorong utama harga emas adalah peran emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik global. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung melarikan diri ke emas untuk melindungi nilai investasi mereka. Selain itu, diversifikasi devisa menjadi alasan lain mengapa negara-negara di dunia semakin agresif dalam membeli emas, dengan tujuan mengurangi ketergantungan mereka pada aset yang terdenominasi dalam dolar AS.
Selain ketegangan geopolitik, kekhawatiran terhadap inflasi juga menjadi salah satu faktor yang mendorong minat terhadap emas. Inflasi yang tinggi dapat menggerus nilai mata uang, sehingga emas menjadi pilihan investasi yang menarik karena dianggap lebih stabil dalam jangka panjang. Di sisi lain, ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat akan menurunkan suku bunga untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja juga turut mempengaruhi harga emas. Penurunan suku bunga biasanya berimbas pada penurunan imbal hasil obligasi dan melemahnya nilai tukar dolar AS, yang pada akhirnya membuat emas lebih menarik bagi investor.
Keadaan ini semakin diperburuk dengan langkah-langkah agresif yang diambil oleh bank-bank sentral dunia dalam mengakumulasi emas. "Bank Sentral China, atau People's Bank of China (PBOC), misalnya, telah membeli emas selama 11 bulan berturut-turut tanpa henti. Langkah serupa juga diikuti oleh bank-bank sentral dari negara lain, seperti Polandia, Turki, dan India, yang semakin gencar memburu logam kuning ini sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa mereka," tutur Hasan Zein.
Baca Juga
Harga Emas Tembus US$ 4.300 per Ons di Tengah Ketegangan AS–Tiongkok
Menurutnya, kondisi ini mencerminkan perubahan besar dalam lanskap keuangan global. "Bank sentral dari berbagai negara berlomba-lomba membeli emas untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan memperkuat cadangan devisa mereka," ujarnya.
Peningkatan permintaan emas dari sektor institusional ini diikuti oleh lonjakan minat dari investor ritel, yang kini ramai-ramai berinvestasi melalui Exchange Traded Funds (ETF) berbasis emas. ETF emas memberikan kemudahan bagi investor untuk berinvestasi di emas tanpa harus membeli fisik logam mulia tersebut. Hal ini membuat akses ke pasar emas semakin terbuka bagi banyak kalangan.
Tidak mengherankan jika Bank of America memprediksi harga emas akan terus melambung dan dapat mencapai angka US$ 5,000 per troy ounce pada tahun depan. "Jika hanya 1 hingga 2 persen dari investasi yang ada di treasury migrasi ke emas, permintaan akan melonjak tajam, dan harga emas bisa dengan mudah mencapai angka tersebut," tambah Hasan Zein Mahmud.
"Dengan biaya produksi rata-rata yang hanya sekitar US$ 1,500 per ounce, para perusahaan tambang emas berpotensi meraih keuntungan besar. Tentu saja, para pemegang saham perusahaan tambang juga akan menikmati keuntungan yang signifikan seiring dengan kenaikan harga emas yang pesat," tutupnya.

