Pemilu Bikin Kontrak Baru Konstruksi Melambat, Intip Target Saham Adhi Karya (ADHI) Berikut
JAKARTA, investortrust.id – Emiten konstruksi pelat merah, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) berhasil meraih nilai kontrak baru sebesar Rp 37,4 triliun di 2023, naik 58% year on year (yoy), sekaligus melampaui target perseroan di level Rp28,4 triliun.
Manajemen ADHI mengaku akan berupaya mempertahankan kinerja positif di tahun 2024. Meski begitu, terdapat sentimen dari pemilu diperkirakan dapat memperlambat perolehan kontrak baru tahun ini. Disisi lain, struktur biaya ADHI dinilai masih cukup besar, menandakan margin yang masih tipis.
Analis PT Panin Sekuritas Aqil Triyadi menilai kondisi positif bagi ADHI terutama terkait tingkat utang/net gearing yang baik. Hingga periode September 2023 rasio utang Perseroan tercatat sebesar 0,98 kali atau menjadi paling sehat diantara peers.
Baca Juga
ADHI dan PTPP Garap Proyek Perkeretaapian Filipina, Erick Thohir Bilang Begini
Mencermati dinamika tersebut, saham ADHI direkomendasikan “hold” dengan dengan target price Rp 340 per saham, mengimplementasikan PBV 0,3 kali di 2024. Target price tersebut mencerminkan potential upside sekitar 7% dari harga saham ADHI saat ini.
Sebagaimana diketahui, pada kuartal III-2023 lalu, ADHI mencatatkan pendapatan sebesar Rp 11,4 triliun, tumbuh 25,4% YoY. Sementara itu, laba bersih ADHI hingga tercatat sebesar Rp 23,5 miliar, naik 11,9% YoY.
Kenaikan laba bersih ini disebabkan keberhasilan perseroan menurunkan tingkat beban keuangan Rp 583 miliar, turun 3% YoY. Namun COGS meningkat sebesar 28% yoy ke Rp 10,3 triliun dan beban pajak naik signifikan 472% yoy ke Rp 20,6 miliar, dikarenakan adanya manfaat pajak tangguhan entitas anak sebesar Rp 10 miliar.
Baca Juga
Lampaui Target, Adhi Karya (ADHI) Cetak Kontrak Baru Rp 37,4 Triliun
Sementara di tahujn 2024, kinerja ADHI akan ditopang oleh sejumlah proyek yang tengah berjalan khususnya pada Proyek Strategis Nasional (PSN), termasuk proyek IKN yang akan dipercepat penyelesaiannya dan masih tersisa beberapa proyek yang belum dikontrak di IKN.
‘’Kami memproyeksikan perseroan dapat mempertahankan kinerja kontrak baru dikisaran Rp30 triliun di 2024, sedikit melambat dibandingkan pencapaian positif di 2023,’’ ulas Aqil dalam riset yang diterbitkan akhir pekan lalu.
Sementara itu, perseroan juga akan mengincar kontrak pekerjaan baru yang berpotensi dari tender proyek perkeretaapian yang menjadi salah satu kompetensi perseroan seiring dengan tuntasnya proyek LRT Jabodebek Tahap 1. Hal ini seiring dengan beberapa wacana Pemerintah untuk melanjutkan proyek LRT, MRT tahap berikutnya.
Selain itu, kinerja ADHI juga akan ditopang oleh perolehan kontrak pengerjaan kereta api di Filipina yakni Malolos-Clark Railway Project.
Diketahui, dari 9 kontrak pekerjaan yang dilelang oleh Pemerintah Filipina sebesar US$ 2,75 miliar, Indonesia mendapatkan 2 kontrak paket pengerjaan kereta api Filipina dengan nilai sebesar US$ 560 juta atau sekitar Rp 8,4 triliun.
Dalam kontrak tersebut dibentuk Joint Venture antara ADHI bersama PTPP dengan pembagian porsi sebesar 51% untuk ADHI, sementara PTPP sebesar 49%. Saat ini, pemerintah Filipina tengah melakukan proses pembebasan lahan dengan rencana ground breaking atas proyek ini direncanakan pada Maret 2024.

