Bagikan

Tenang! Meski Dibanting Tiba-tiba, Data Ini Tunjukkan Bitcoin Masih Tangguh

Poin Penting

Bitcoin Anjlok Tajam ke US$ 105.000 Akibat Gelombang Likuidasi di Pasar Derivatif.
Tekanan Pasar Diperparah oleh Gangguan Teknis dan Sentimen Negatif Global.
Tren Penurunan Berlanjut, Kapitalisasi Pasar Kripto Susut Drastis.

JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) sempat terjun ke US$ 105.000 menghapus 13% dari total open interest berjangka pada Sabtu (11/10/2025) dini hari waktu Asia. Meskipun mengalami kerugian besar dan likuidasi berjenjang, angka-angka ini bukanlah hal yang aneh dalam sejarah Bitcoin.

Koreksi tajam ini menjadi salah satu penurunan harian terbesar Bitcoin dalam setahun terakhir. Meski demikian, pergerakan ekstrem semacam ini bukan hal baru dalam sejarah Bitcoin. Tercatat ada 48 kali koreksi lebih dalam sejak 2016, termasuk kejatuhan legendaris pada 12 Maret 2020 ketika harga turun 41,1% akibat likuidasi masif di bursa BitMEX, dan penurunan 16,1% pada November 2022 bersamaan dengan skandal FTX.

Dilansir dari Cointelegraph, Minggu (12/10/2025) sejak peluncuran ETF Bitcoin spot di AS pada Januari 2024, frekuensi penurunan intraday lebih dari 10% memang menurun. Namun, analis menilai volatilitas masih menjadi ciri khas utama pasar kripto, terutama di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan di bursa terdesentralisasi (DEX).

Beberapa peristiwa besar pasca-ETF masih mencatat koreksi tajam, antara lain penurunan 15,4% pada Agustus 2024 dan 13,3% pada Maret 2024. “Pasar Bitcoin masih mencari keseimbangan baru pasca masuknya instrumen ETF dan lonjakan perdagangan DEX,” ujar seorang analis yang dikutip dari laporan Hyperliquid.

 

Baca Juga

Pasar Kripto 'Crash', Bitcoin Sempat Jatuh ke Level Terendah Sejak Juni 2025

Bursa terdesentralisasi Hyperliquid melaporkan bahwa posisi bullish senilai US$ 2,6 miliar dilikuidasi secara paksa. Di sisi lain, sejumlah pedagang di platform besar seperti Binance mengeluhkan gangguan perhitungan margin portofolio, sementara pengguna DEX melaporkan kasus auto deleveraging akibat gagal memenuhi persyaratan margin.

Situasi ini menyebabkan posisi sejumlah trader ditutup sepihak, bahkan bagi mereka yang sebelumnya mencatat keuntungan. Kondisi tersebut, menurut para analis, bukan akibat kesalahan bursa, melainkan konsekuensi dari penggunaan leverage tinggi di pasar dengan likuiditas tipis. Beberapa altcoin bahkan anjlok hingga 40%, memperburuk tekanan pada agunan para pedagang.

 

Baca Juga

Studi UI Ungkap Perdagangan Aset Kripto di 'Exchange' Ilegal 2,66 Kali Lebih Besar dari yang Legal

Selama gejolak berlangsung, kontrak berjangka Bitcoin/USDT diperdagangkan sekitar 5% di bawah harga spot, menunjukkan adanya ketegangan antara pasar derivatif dan pasar tunai. Biasanya kondisi ini menciptakan peluang arbitrase, namun kali ini pasar tampak berhati-hati untuk kembali masuk.

Penurunan harga juga diperparah oleh likuiditas pasar yang menipis menjelang akhir pekan, sementara pasar obligasi AS tutup pada Senin (13/10) karena hari libur nasional. Rumor mengenai potensi kebangkrutan salah satu entitas kripto besar turut memperburuk sentimen dan mendorong pelaku pasar menghindari risiko tambahan.

Hingga kini, para pelaku pasar masih menunggu konfirmasi apakah level US$ 105.000 akan bertahan sebagai support baru atau justru menjadi awal dari fase koreksi lebih dalam di siklus harga Bitcoin berikutnya.

Tren Penurunan

Adapun pada perdagangan akhir pekan ini, harga BTC masih dalam tren penurunan. Berdasarkan data CoinMarketCap pada Minggu (12/10/2025) pagi waktu Indonesia, harga Bitcoin turun ke level US$ 110.425,13, melemah 9,71% dalam tujuh hari terakhir. Kapitalisasi pasar Bitcoin kini tercatat sebesar US$ 2,2 triliun, turun 2,11% dibanding pekan sebelumnya. Volume perdagangan harian juga menyusut signifikan hingga 29,45% menjadi US$ 108,3 miliar, menandakan aktivitas pasar yang melambat di tengah tekanan jual.

Grafik pergerakan harga menunjukkan Bitcoin sempat bertahan di kisaran US$ 122.000–124.000 pada awal pekan (6–8 Oktober 2025), sebelum akhirnya jatuh tajam pada 10–11 Oktober, menembus level psikologis US$ 115.000 dan terus meluncur hingga US$ 110.000 pada Sabtu pagi.

Penurunan tajam ini turut menyeret market cap global kripto yang turun ke bawah US$ 4,15 triliun, seiring meningkatnya aksi likuidasi di pasar derivatif dan penurunan volume di bursa spot utama seperti Binance dan Coinbase.

Menurut analis pasar, koreksi ini mencerminkan sentimen risk off di kalangan investor kripto setelah lonjakan harga Bitcoin ke rekor tertinggi di atas US$ 125.000 awal Oktober. “Likuiditas yang menurun di akhir pekan memperparah tekanan jual dan memicu pelepasan posisi leverage besar-besaran,” ujar seorang analis di CoinGlass.

Saat ini, jumlah Bitcoin yang beredar mencapai 19,93 juta BTC dari total pasokan maksimum 21 juta BTC. Meski harga masih berada jauh di atas level awal tahun 2025, volatilitas jangka pendek diperkirakan akan tetap tinggi hingga pasar menemukan titik keseimbangan baru.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024