Harga Bitcoin Melejit 11% Sepekan, Trader Muda Ini Proyeksi BTC Bisa Tembus US$ 200.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Optimisme terhadap masa depan aset kripto, khususnya Bitcoin, kian menguat seiring meningkatnya adopsi dari institusi global. Trader muda kripto, Sulianto Indria Putra, menilai ke depan bukan hanya perusahaan besar, tetapi juga negara-negara akan mulai menjadikan Bitcoin sebagai bagian dari cadangan devisa.
“Sekarang atau ke depannya negara-negara bakalan mulai FOMO (fear of missing out) beli Bitcoin. Jadi kan sekarang itu perusahaan-perusahaan sudah mulai beli Bitcoin ya, misal kita ngomong Michael Saylor dengan Micro Strategy-nya, terus Trump kemarin baru aja ada patung emas pegang Bitcoin,” ujarnya, dalam sebuah podcast, dikutip Sabtu (4/10/2025).
Ia mencontohkan fenomena legalisasi Bitcoin di Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi pemicu bagi negara-negara lain untuk mengikuti langkah serupa. Seperti ketika AS menaikkan suku bunga, negara lain ikut menyesuaikan. Kalau Bitcoin sudah jelas dilegalkan di sana, negara lain tidak bakal mau ketinggalan.
Baca Juga
Morgan Stanley Siap Kenalkan Bitcoin untuk Klien Ritel di Tahun 2026
Menurut Sulianto, meski pasar kripto masih bergerak dalam siklus bull dan bear market, tingkat penurunan (retracement) Bitcoin dari tahun ke tahun cenderung semakin kecil.
“Karena sekarang sudah ada institusi dan sebagainya, kalau kita cek di 2021 itu kan turunnya 60%-70%, 2017 itu 80%-90%. Jadi kalau kita cek 2017, 2021, dan sekarang ini lama-lama penurunannya ini semakin kecil karena aset kelasnya semakin mature,” katanya.
Ia bahkan menyebut skenario harga Bitcoin di level US$ 200.000 bukan hal mustahil dalam beberapa tahun mendatang. Jika dari jumlah tersebut turun, maka penurunannya paling jauh ke level US$ 100.000 dan sangat kecil sekali kemungkinan Bitcoin jatuh sampai US$ 50.000. Karena sekarang Bitcoin sudah masuk ke sistem keuangan resmi, berbeda dengan sebelumnya.
Baca Juga
Sulianto menyatakan bahwa Bitcoin berpotensi menjadi ‘emas digital’ modern yang dimiliki negara, mirip dengan cadangan emas di abad ke-19. “Kalau dulu negara punya gold reserve, ke depan bisa saja ada Bitcoin reserve. Altcoin (alternative coin) hanya saya lihat sebagai sarana trading untuk menambah Bitcoin. Benchmark utamanya tetap Bitcoin,” kata Sulianto.
Lebih jauh, ia memprediksi return Bitcoin akan semakin mendekati indeks saham global seperti S&P 500 seiring maturitasnya. Sekarang CAGR Bitcoin 10 tahun terakhir masih tumbuh 40%-50%, dan masih ada ruang besar untuk pertumbuhan ke depan.
Reli Bitcoin
Di sisi lain, harga Bitcoin (BTC) terus melesat dan berhasil menembus level US$ 121.947 pada perdagangan Sabtu (4/10/2025) pagi. Dalam sepekan terakhir, aset kripto terbesar di dunia ini mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 11,42%, mencerminkan optimisme investor yang kian menguat.
Berdasarkan data CoinMarketCap, kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini mencapai US$ 2,43 triliun, naik 1,46% dalam 24 jam terakhir. Sementara itu, volume perdagangan harian melonjak 22,16% menjadi US$ 82,89 miliar, menandakan aktivitas pasar yang semakin tinggi.
Total suplai Bitcoin tercatat sebanyak 19,92 juta BTC dari maksimum suplai 21 juta BTC, dengan rasio volume terhadap kapitalisasi pasar di level 3,44%.
Lonjakan harga ini melanjutkan tren penguatan sejak akhir September 2025, ketika Bitcoin masih diperdagangkan di kisaran US$ 109.000. Kini, pergerakan bullish mendorong aset digital tersebut menembus rentang psikologis US$ 120.000, memperkuat posisinya sebagai aset kripto paling dominan di pasar global.

