Ancara Logistics (ALII) Optimistis Pendapatan Tumbuh Berkelanjutan
JAKARTA, Investortrust.id – PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) optimistis membukukan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan pada 2024 dan tahun-tahun berikutnya. Hal itu ditopang bertambahnya jumlah batu bara yang akan diangkut Ancara Logistic tahun ini, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“2022 ke 2023 bicara keuangan semua sangat baik. Bicara growth trade paling fenomenal karena kami angkut dari 1,8 jutaan ton jadi 2,8 jutaan, hampir 3 juta ton. Tahun ini kami akan tumbuh signifikan baik dari sisi pendapatan, laba bersih, cashflow, dan ini akan sustain,” papar Presiden Direktur Ancara Logistics Indonesia Faisal Mohamad Nur di Kantor Investortrust.id, Jumat (1/3/2024).
Dia menambahkan, pada 2023, perusahaan hanya mengangkut batu bara sebanyak hampir 3 juta ton. Sedangkan dua tambang batu bara klien mereka, telah mengantongi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) untuk memproduksi batu bara sebanyak 7 juta ton, 10 juta ton, dan 13 juta ton pada masing-masing 2024, 2025, dan 2026.
Dengan begitu, pada tahun ini saja, jumlah batu bara yang akan diangkut ALII bertambah menjadi lebih dari dua kali lipat.
Baca Juga
Tiga Saham Emiten Bakrie Bangkit, Bahkan VKTR dan ALII Cetak Rekor Baru
“Itulah kenapa saya bilang fundamental bisnis kami sangat baik, karena punya life of mine kontrak dengan RKAB tiga tahun ke depan sudah disetujui Kementerian ESDM. Sekarang saya bilang kami punya establish and sustainability model dengan confirmed volume of take,” tegas Faisal.
Dalam kinerja tahun ini, manajemen memprediksi, mampu meraup pendapatan Rp 2 triliun dengan laba Rp 900 miliar. Sebagai perbandingan, sepanjang Januari-Agustus 2023, Ancara Logistics telah mencatatkan pendapatan Rp 662,88 miliar dengan laba bersih Rp 166,12 miliar.
Pada jangka panjang, Faisal percaya pertumbuhan kinerja keuangan bisa didapat karena kontrak pengangkutan batu bara terus berlaku, sepanjang tambang pelanggan beroperasi. “Mereka punya 300 juta ton reserve, misal per tahun 10 juta ton, berarti 30 tahun ke depan masih bisa berjalan,” imbuhnya.
Emiten dengan bisnis utama pengapalan batu bara di Kalimantan Timur itu mencatatkan sahamnya pada 7 Februari 2024 dengan harga Rp 272 per saham. Perusahaan melepas 3,2 miliar saham atau 20% dari jumlah saham beredar dan meraup total dana Rp 860,9 miliar.
Pada perdagangan Jumat (1/3/2024), harga saham ALII naik menjadi Rp 520 yang ikut mendongkrak kapitalisasi pasar ke level Rp 8,23 triliun, dari semula Rp 4,3 triliun. Jumlah ini menjadi yang terbesar di antara 19 perusahaan lain yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode Januari-Februari 2024. (CR-10)

