Asing Catat Net Sell Rp 54 Triliun Ytd Saat IHSG Cetak Rekor Baru, Apa Pemicunya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemodal asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 11,02 triliun di pasar regular dalam sebulan terakhir. Sedangkan net sell saham di seluruh pasar dalam sebulan terakhir mencapai Rp 4,85 triliun. Net sell tersebut berlanjut saat indeks harga saham gabungan (IHSG) catatkan level tertinggi pada September ini hingga menembus level di atas 8.100.
Sedangkan sepanjang tahun 2025 berjalan, pemodal asing telah membukukan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 54,18 triliun atau setara dengan US$ 3,23 miliar. Net sell saham jumbo ternyata tak hanya melanda Indonesia, bursa saham emerging market lain mencatatkan kondisi serupa. Di antaranya, net sell bursa saham Malaysia mencapai US$ 3,68 miliar sepanjang ytd, Vietnam mencapai US$ 3,37 miliar, Thailand mencapai US$ 2,71 miliar, dan Filipina US$ 721 juta,
Baca Juga
IHSG Cetak Rekor Baru 8.125, Penguatan Berlanjut atau Mulai Terbatas?
Data BEI mengungkap net sell terbesar di pasar regular dalam sebulan terakhir, yaitu saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 9,89 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 4,85 triliun, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp 777,52 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 604,26 miliar, dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp 494,05 miliar.
VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengatakan, berlanjutnya arus keluar modal asing (capital outflow) dipicu sejumlah faktor. Pertama, pelemahan rupiah akibat ketatnya interest differential setelah Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%, dibandingkan dengan Federal Funds Rate (FFR). “Kondisi ini mendorong investor asing mengurangi kepemilikan saham,” ujarnya kepada Investortrust.id di Jakarta, Jumat (26/9/2025).
Kedua, terang dia, perubahan kebijakan seperti burden sharing BI dan kekhawatiran pelebaran defisit anggaran turut menimbulkan ketidakpastian. Ketiga, pemulihan kinerja ekonomi yang berjalan lambat, meski suku bunga BI terus dipangkas, belum diikuti peningkatan demand secara signifikan.
Baca Juga
Harga Wajar Saham Merdeka Gold (EMAS) Rp 7.900! Begini Perhitungannya
Selain itu, dia mengatakan, berlanjutnya net sell saham dipengaruhi instabilitas politik dan sosial pasca demonstrasi yang memengaruhi kepercayaan investor asing. Investor juga cenderung lebih konservatif dengan mengalihkan dana ke aset safe havens, seperti emas yang mencatat rekor harga tertinggi (all time high).
Di sisi lain, dia mengatakan, penguatan IHSG BEI ke level tertinggi baru sepanjang masa pada bulan ini lebih ditopang oleh saham emiten konglomerasi, khususnya dari sektor teknologi dan energi, seiring rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE. Adapun sektor keuangan masih menjadi pemberat terbesar pada indeks LQ45 akibat tekanan harga saham.
Meski demikian, prospek emiten big caps di LQ45 tetap dipandang stabil hingga positif. Hal ini ditopang sentimen pelonggaran kebijakan moneter yang berpotensi menekan biaya dana sekaligus mendorong aktivitas ekspansi. Selain itu, perbaikan kinerja keuangan di kuartal III dan IV-2025 dapat menjadi momentum realokasi sektoral melalui window dressing.

