IHSG Cetak Rekor Baru 8.125, Penguatan Berlanjut atau Mulai Terbatas?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Keberhasilan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin ke tertinggi baru sepanjang masa level 8.125,20 didorong oleh penguatan sektor consumer staples dan keuangan. Lalu, bagaimana peluang pergerakan selanjutnya?
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan sentimen positif datang dari penyelesaian perjanjian dagang Indonesia-Uni Eropa yang dinilai mampu meningkatkan ekspor nasional serta menjaga optimisme investor di tengah pelemahan rupiah yang masih menekan ke Rp 16.660 per dolar AS.
Baca Juga
Dua Sekuritas Ini Pangkas Turun Target Harga BMRI, Sahamnya masih Layak Dilirik?
“Tambahan tenaga juga datang dari aksi beli asing yang pada perdagangan kemarin tercatat melakukan net buy sebesar Rp 451 miliar, ini menandakan mulai adanya aliran dana masuk kembali ke pasar domestik,” ujarnya kepada investortrust.id Selasa, (23/9/2025)
Meski rupiah cenderung melemah, menurutnya, pasar modal justru mendapatkan dorongan dari ekspektasi stimulus fiskal lewat konferensi pers APBN September 2025 serta rotasi investor asing ke saham-saham defensif dan berbasis konsumsi.
“Ke depan, peluang penguatan IHSG masih terbuka dengan potensi menguji area resistance di level 8.200. Namun secara teknikal, investor juga perlu mencermati area support terdekat di MA5 pada 8.049 sebagai batas bawah penguatan jangka pendek,” jelas Hendra.
Sementara dari sisi eksternal, pasar masih menanti kejelasan arah kebijakan The Fed terkait pemangkasan suku bunga, sementara harga komoditas global seperti minyak dan CPO justru melemah yang bisa menjadi tantangan bagi saham-saham energi dan perkebunan. Sebaliknya, emas yang mencetak harga tertinggi baru berpotensi mengerek saham-saham tambang emas.
Baca Juga
Jelang Pengendali Baru Masuk, Saham LAPD Disebut Menuju Level Rp 350
“Dengan kondisi tersebut, meski ruang kenaikan mulai terbatas karena IHSG berada di area jenuh beli, peluang reli lanjutan tetap ada selama sentimen domestik dan global mendukung,” ucapnya.
Hendra menyarankan investor untuk mencermati saham-saham dengan katalis positif jangka pendek, seperti SCMA dengan target harga Rp 380 didukung sentimen akumulasi oleh EMTK bersamaan dengan rumor rencana IPO anak usaha digitalnya. Saham ADMR juga berpotensi rebound di level Rp 1.125 seiring prospek batubara, CARS dengan target Rp 159 yang menarik dari sisi valuasi, serta TOTL yang berpeluang menguat hingga Rp 825 berkat dukungan proyek konstruksi.

