Bitcoin Naik Lagi, Bisa Menuju US$ 160.000 per Koin?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) menembus US$ 115.000-an, seiring pasar kripto menguat dalam 24 jam terakhir. Sentimen positif datang dari rilis CPI Agustus sesuai ekspektasi, menyusul data PPI yang melemah sehari sebelumnya. Harga Bitcoin menyentuh level tertinggi sejak 24 Agustus lalu. Rilis CPI Agustus sesuai ekspektasi pasar, melengkapi tren pelemahan data inflasi produsen (PPI) yang keluar sehari sebelumnya.
Harga Bitcoin (BTC) terus melaju dan pada Jumat (12/9/2025) pagi tercatat di level US$ 115.481 per koin. Angka tersebut menurut Coinmarketcap, merepresentasikan kenaikan 4,33% dalam sepekan terakhir. Lonjakan harga ini mengerek kapitalisasi pasar Bitcoin menjadi US$ 2,3 triliun, naik 1,3% dibanding pekan sebelumnya. Sementara itu, total pasokan beredar mencapai 19,91 juta BTC dari maksimum suplai 21 juta BTC. Adapun volume perdagangan harian justru melemah 17,58% menjadi US$ 46,43 miliar. Dengan demikian, rasio volume terhadap market cap berada di level 2,01%.
Sepanjang tujuh hari terakhir, pergerakan harga BTC menunjukkan tren menguat dari titik terendah sekitar US$ 110.850, hingga akhirnya menembus puncak terbaru di US$ 115.480 pada sesi perdagangan terakhir.
Baca Juga
Pasar Kripto Memanas: Bitcoin, BNB, hingga Memecoin Bergerak Naik
Melansir Cointelegraph, Jumat (12/9/2025) meski inflasi konsumen masih berada di level tertinggi sejak Januari, perhatian investor justru tertuju pada lonjakan klaim pengangguran mingguan AS yang mencapai 263 ribu, tertinggi sejak Oktober 2021 dan lebih buruk dari perkiraan 235 ribu.
Weekly jobless claims just hit 263,000. That's the highest weekly number since October 2021. pic.twitter.com/5hoLBpNCEM
— Josh Schafer (@_JoshSchafer) September 11, 2025
Kondisi itu semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dalam pertemuan 17 September mendatang. Bahkan, pasar melihat peluang 11% terjadinya pemangkasan lebih agresif dari standar 25 basis poin.
“Pasar kini memperhitungkan total pemangkasan 75 basis poin hingga akhir tahun. Meski inflasi terus naik, kondisi pasar tenaga kerja terlalu lemah untuk diabaikan. Pekan depan akan jadi penentu,” tulis analis The Kobeissi Letter.
Sejauh ini, Bitcoin telah menguat sekitar 38% sepanjang tahun 2025, didorong ekspektasi penurunan suku bunga, inflasi tinggi, serta meningkatnya permintaan institusional. Namun, volatilitas jangka pendek masih membayangi seiring tarik-menarik antara data inflasi dan pelemahan pasar tenaga kerja AS.
Baca Juga
Indikator On Chain
Trader populer BitBull mengungkapkan bahwa grafik konvergensi/divergensi rata-rata bergerak (MACD) Bitcoin baru saja mencatat golden cross penting. Pola ini terakhir muncul pada April lalu dan sempat memicu reli hingga 40% dalam sebulan, membawa BTC ke rekor harga baru.
Meskipun secara historis September bukan bulan yang bersahabat bagi Bitcoin, kondisi kali ini dinilai berbeda. Pada Jumat lalu, garis MACD menembus garis sinyal (EMA 9 periode), yang biasanya menandai momentum beli. Uniknya, persilangan bullish ini terjadi di bawah level nol—pertama kali sejak April, yang menandakan potensi pemulihan kuat setelah tren turun lokal.
“Bitcoin baru saja mengalami persilangan emas MACD pada jangka waktu harian. Tapi yang ini sedikit berbeda. Terakhir kali terjadi, BTC reli 40% dalam sebulan dan mencetak all time high (ATH)," jelas BitBull.
Jika pola serupa terulang, BTC/USD diproyeksikan bisa menembus US$ 160.000, sejalan dengan target harga populer yang diperkirakan menjadi puncak tahun 2025.
