Harga Emas Kembali Terkoreksi Menanti Pidato Jerome Powell
CHICAGO, investortrust.id- Harga emas akhirnya tekoreksi pada penutupan transaksi Kamis waktu AS atau Jumat pagi WIB. Penurunan ini mengakhir kenaikan empat beruntun. Koreksi harga emas dipicu dolar yang perkasa dan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. Penurunan juga terjadi saat para trader menanti pidato Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell pada Jumat atau Sabtu WIB.
Mengacu pada data perdagangan, kontrak emas untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, turun 1,00 dolar AS atau 0,05% ke posisi 1.947,10 dolar AS per ounce. Harga emas sesungguhnya sempat mencapai posisi tertinggi sesi tepatnya 1.951,30 dolar AS, sedangkan posisi terendah di 1.939,20 dolar AS.
Sebelumnya, pada Rabu, harga emas emas berjangka naik 22,10 dolar AS atau 1,15% menjadi 1.948,10 dolar AS. Kenaikan ini melanjutkan kenaikan hari Selasa sebesar 3,00 dolar AS atau 0,16% menjadi 1.926,00 dolar AS.
Baca Juga
BI Tahan Bunga, Saham BBNI, ERAA, ADRO, dan ESSA Berpeluang Cuan
Ketika harga emas turun, imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun naik 4,1 basis poin menjadi 4,224% pada Kamis (24/8/2023). Indeks dolar AS yang jadi indicator kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,5% menjadi 103,93.
Penurunan terjadi karena para trader cenderung wait and see. Gubernur The Federal Reserve, Jerome Powell dijadwalkan berpidato Jumat pagi waktu setempat di Simposium Ekonomi tahunan Jackson Hole. Momen itu dinantikan karena bisa menjadi petunjuk arah kebijakan moneter Paman Sam.
"Jalur suku bunga global di masa depan benar-benar masuk dalam agenda" pada simposium tersebut setelah berbulan-bulan kenaikan suku bunga yang agresif,” tutur analis pasar Stuart O'Reilly dari The Royal Mint melalui email yang dikutip Matket Watch.
Baca Juga
Wall Sreet di Zona Merah Jelang Pertemuan Jackson Hole, Dow Terpangkas 1,08%
"Banyak pedagang emas…menahan napas untuk mengantisipasi sinyal potensial dari para pemimpin ekonomi dunia. “(Powell) menawarkan pemeriksaan suhu pada perekonomian dan suku bunga," lanjut Stuart seperti dikutip Antara.
Ia menambahkan, meski pelaku pasar cenderung wait and see, bisa diperkirakan bahwa Jerome Powell akan menekankan komitmenterhadap data (ekonomi). "Jika Powell mengindikasikan bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lama, meskipun tekanan upah baru-baru ini mereda, maka harga emas bisa terkena dampaknya," ujar Stuart seperti dikutip Xinhua.
Jika prospek ekonomi AS berdasarkan pendekatan Powell bisa lebih cerah dalam jangka menengah, harga emas kembali berpeluang untuk rebound. Sebab, pasar melihat sinyal penurunan suku bunga. "Pada akhirnya, para pedagang akan mendengarkan dengan cermat nada bicara Powell mengenai kenaikan suku bunga di masa depan, dan apakah suku bunga yang lebih tinggi harus diperhitungkan dalam jangka panjang," demikian Stuart O’Reilly.
Pada sisi lain, Kementerian tenaga Kerja AS melaporkan angka pengangguran awal AS turun 10,000 menjadi 230,000 dalam sepekan sampai dengan 19 Agustus. Namun perkiraan moderat para ekonom, posis angka pengangguran sekitar 240,000.

