IHSG Diprediksi Cetak Rekor 8.021 Pekan Depan, Tiga Saham Dipimpin MEDC Jadi Pilihan
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan bergerak tren naik dengan target resistance terdekat 8.021 pada perdagangan pekan depan atau 25-29 Agustus 2025. Peluang penguatan tersebut didukung pola teknikal. Tiga saham pilihan adalah MEDC, PGAS, dan BMRI.
BRI Danaareksa Sekuritas dalam riset hari ini menyebutkan bahwa IHSG masih dalam tren naik dengan harga bertahan di atas SMA200 dan Parabolic SAR berada di bawah candle. “Selama IHSG mampu terjadi pada support Fibonacci 0,382 level 7.802, trend bulliss menuju level resistance terdekat 8.021 terbuka,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
WTO Menangkan Indonesia dalam Sengketa Biodiesel dengan Uni Eropa, Saatnya Saham CPO?
Pergerakan indeks, sebut BRI Danareksa Sekuritas, fokus pada Pidato Jerome Powell di Jackson Hole yang mengindikasikan sinyal dovish The Fed. Dengan inflasi AS turun ke 2,5%, The Fed kemungkinan turun. Pengumuman keputusan The Fed dijadwalkan pada 18 September 2025.
“Jika The Fed menurunkan suku bunga, IHSG berpotensi mendapat sentimen positif, karena aliran modal asing ke pasar berkembang dapat meningkat, sehingga memperkuat tren bullish domestik,” tulis riset tersebut.
Pergerakan indeks pekan ini juga akan disokong penerapan rebalancing MSCI indeks global pada 27 Agustus 2025. MSCI sebelumnya telah memasukkan saham DSSA dan CUAN ke Global Standard Index. Sementara ADRO dipindahkan ke Small Cap bersama AADI, KPIG, PTRO, RATU, dan TAPG. Adapun MBMA dan PNLF dikeluarkan dari indeks.
Baca Juga
Begini Prospek Saham UNVR di Tengah Transformasi hingga Dividen Menggiurkan
“Pergerakan harga saham yang masuk MSCI diproyeksi fluktuatif hingga tanggal efektif, namun investor perlu mencermati potensi aksi sell on news yang sudah mengalami rally sebelum rebalancing berlaku,” tulis BRI Danareksa Sekuritas.
Geraih IHSG juga akan dipengaruhi target pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebanyak 5,4% dengan defisit 2,48% terhadap PDB. Pemerintah fokus delapan agenda: pangan-energi, MBG, pendidikan, kesehatan, desa, koperasi, pertahanan, investasi. Bagi pasar saham, disiplin fiskal dan belanja fokus katalis konsumsi, energi, infrastruktur, akan menopang tren bullish IHSG.
Pergerakan indeks juga didukung keputusan Bank Indonesia (BEI) yang memangkas BI Rate sebanyak 25 bps pekan ini menjadi 5%. Keputusan tersebut akan berdampak positif terhadap saham bank BBCA, BBRI, dan BMRI, apalagi valuasi saham tersebut sudah tergolong murah. BRI Danareksa Sekuritas menetapkan saham BBCA sebagai pilihan teratas.
Saham Pilihan
Di tengah peluang pergerakan tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli sejumlah saham berikut untuk pekan depan. Saham MEDC direkomendasikan beli level Rp 1.200-1.240 dengan targaet resistance I Rp 1.275. Saham PGAS juga direkomendasikan beli dengan target harga masuk Rp 1.700-1.720 dengan potensi penguatan menuju resistance I Rp 1.790 dan tiga Rp 1.860.
BRI Danareksa Sekuritas juga merekomendasikan beli saham BMRI dengan target harga masuk Rp 4.800-4.850. Saham bank pelat merah ini berpeluang menguat menuju resistance I Rp 4.980 dan resistance 2 Rp 5.175.
Sebelumnya, IHSG sepanjang pekan ini ditutup melemah sebanyak 39,52 poin (0,50%) menjadi 7.858,85. Sebaliknya pemodal asing jusrtru agresif memborong saham dengan nilai net buy mencapai Rp 2,73 triliun. Penurunan dipicu atas kejatuhan lima saham big cap pekan ini, seperti DSSA melemah 14,88%, DCII turun 5,53%, BBCA terkoreksi sebanyak 2,87%, TPIA melemah 4,62%, dan BREN turun lebih dari 2,57%.
Penurunan tersebut juga dipengaruhi atas penurunan sejumlah sektor utama indeks pekan inii, seperti sektor infrastruktur turun 1,79%, sektor energi melemah 1,04%. Sebaliknya sektor saham dengan kenaikan paling pesat adalah industry menguat 4,68% dan transportasi naik 3,85%.
Adapun, investor asing mencatatkan pembelian bersih atau net buy saham mencapai Rp 2,73 triliun. Net buy terbanyak melanda saham PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp 1,06 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 559,88 miliar, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 556,37 miliar.

