Mau Terhindar dari Dividend Trap! Sobat Investor Bisa Terapkan Cara Ini
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini tengah memasuki musim pembagian dividen tahun buku 2023. Bagi investor yang berorientasi dividen, saat ini merupakan waktu panen besar, apalagi jika emiten tersebut mecetak laba dan rasio dividen jumbo.
Namun aksi tunggu dividen ternyata tidak selalu lebih cuan, dibandingkan potensi keuntungan dari kenaikan harga saham saat cum dividen emiten berlangsung. Apabila tidak waspada, investor bisa terkena dividend trap atau perangkap dividen.
Dividend trap bisa diartikan nilai penurunan harga saham lebih tinggi, dibandingkan dividen yang didapatkan. Biasanya harga saham akan turun setelah cum date dividen atau hari terakhir pembelian saham untuk memiliki hak dividen. Namun dividend trap tidak otomatif menggambarkan bahwa fundamental saham emiten tersebut buruk.
Baca Juga
Baru-baru ini, pemodal bisa memperhatikan contoh dividend trap, yaitu saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi dalam mencapai Rp 425 (7,11%) dari level Rp 6.400 (harga saat cum dividend pada 13 Maret 2024) menjadi Rp 5.975 dalam tiga hari perdagangan atau penutupan 15 Maret 2024.
Dengan demikian penurunan harga saham BBRI lebih tinggi, dibandingkan dividen yang akan didapatkan pemegang saham senilai Rp 235 pada 28 Maret 2024.
Contoh lainnya adalah saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun dari level penutupan pasar saat cum dividen senilai Rp 6.150 pada 14 Maret menjadi Rp 5.800 pada 15 Maret. Dengan demikian nilai penurunan saham ini mencapai Rp 350 atau lebih rendah dari dividen yang bakal didapatkan Rp 280,49 per saham pada 2 April 2024.
Kiat Menghindar
Guna menghindari dividend trap tersebut, sobat investor perlu menentukan terlebih dahulu tujuan investasi, apakah berinvestasi untuk mendapatkan dividen atau berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan atau gain saham? Hal ini sangat diperlukan untuk mengoptimalkan potensi keuntungan yang akan diperoleh pemodal.
Bisa saja sobat investor merealisasikan keuntungan terlebih dahulu dengan menjual saham milik saat cum dividen. Kemudian membeli kembali saham tersebut setelah cum dividen, apabila saham tersebut dinilai memiliki fundamental bagus dan valuasi masih rendah.
Baca Juga
Ingin Menghindari Beban Pajak dalam Investasi Saham? Simak Tips Berikut Ini
Selain itu, sobat investor perlu mempelajari rekam jejak pergerakan harga saham suatu emiten saat pembagian dividen. Apabila harga saham emiten tersebut konsisten menunjukkan pola penurunan harga usai cum dividen, sobat investor mungkin bisa merealisasikan keuntungan terlebih dahulu dan kemudian buy kembali setelah dirasa turun dalam. Namun demikian tidak semua emiten menunjukkan pola serupa, yaitu mengalami penurunan harga dalam setelah cum dividen.
Sobat investor juga perlu memantau konsistensi emiten dalam membagikan dividen agar terhindar dari dividend trap. Emiten dengan pertumbuhan imbal hasil dividen yang stabil biasanya akan memiliki jadwal rutin pembagian dividen. Potensi pembagiannya jauh lebih jelas yang tentu lebih mudah diandalkan dengan potensi pembalikan arah bisa lebih cepat. Apalagi didukung dengan analisis fundamental baik.
Baca Juga
Perlu diingat bahwa jebakan dividen ini bisa menjerat siapa saja. Apalagi investor pemula yang masih belum piawai dalam strategi berinvestasi saham. Selain itu usahakan untuk tidak hanya mengejar dividen, karena ini seringkali membuat investor lupa untuk melakukan analisis sebelum mengambil keputusan.
Banyak sekali investor yang terjebak dalam dividen trap, karena mengambil keputusan investasi dengan cepat didorong potensi dividen besar. Akhirnya sobat investor tidak melakukan analisis yang matang dari sisi imbal hasil yang didapatkan, arus kas, nilai utang, ekuitas, serta potensi pertumbuhan kinerja emiten ke depan. Beberapa indicator ini penting untuk karena akan berpengaruh pada nilai dividen nantinya.

