Indonesia Catat Kenaikan Skor GCG Tertinggi di ASEAN, Pasar Modal Tetap Perkasa
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia mencatat kenaikan skor rata-rata praktik tata kelola perusahaan atau Good Corporate Governance (GCG) tertinggi di ASEAN. Capaian ini diungkapkan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dalam perayaan 48 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia.
Dalam ajang ASEAN Corporate Governance Conference and Awards 2025 di Malaysia pada Juli 2025, Indonesia membukukan kenaikan skor rata-rata nasional untuk ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) sebesar 9%.
Baca Juga
48 Tahun Dihidupkan Kembali, Pasar Modal Indonesia Makin Kompetitif di Kancah Global
“Ini merupakan kenaikan tertinggi di kawasan Asia. Capaian yang patut kita syukuri karena menjadi pengakuan internasional terhadap reputasi tata kelola emiten Indonesia,” ujar Mahendra di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 11 Agustus 2025.
Mahendra menambahkan, empat emiten Indonesia berhasil masuk dalam daftar 50 perusahaan terbaik ASEAN, termasuk dua bank yang menembus 10 besar. Jumlah perusahaan nasional yang masuk kategori ASEAN Asset Class juga melonjak signifikan, dari 9 menjadi 23 perusahaan.
Menurutnya, prestasi tersebut mencerminkan hasil nyata inisiatif pembinaan dan pengawasan berkelanjutan oleh OJK yang mendorong tata kelola transparan, akuntabel, dan berkesinambungan, sekaligus memperkuat posisi pasar modal Indonesia di kancah internasional.
Hingga 8 Agustus 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 6,41% secara year to date (ytd) menjadi 7.533,39. Kapitalisasi pasar juga naik 9,88% (ytd) mencapai Rp 13.555 triliun.
Baca Juga
BEI Incar Top 10 Market Cap di Dunia di 2029, Sejumlah Aksi Ini Disiapkan
Pasar surat utang mencatat tren positif dengan Indonesia Composite Bond Index ditutup di level 421,81 atau naik 7,42%. Aktivitas penghimpunan dana dari pasar modal membukukan Rp 144,78 triliun, dengan 16 emiten baru, sementara 13 perusahaan lainnya tengah dalam pipeline penawaran umum dengan nilai indikatif Rp 16,65 triliun.
Di sektor bursa karbon, Indonesia mencatat nilai transaksi Rp 77,95 miliar per 8 Agustus 2025, dengan volume lebih dari 1,59 juta ton CO2 equivalent dalam setahun terakhir.
“Dengan diluncurkannya perdagangan karbon internasional melalui bursa karbon Indonesia, diharapkan nilai transaksi akan terus meningkat,” kata Mahendra.
Baca Juga
BEI: 7 Calon IPO, 4 Perusahaan Masuk Kategori Aset Rp 50–250 Miliar
Ia menambahkan, 2025 menjadi tonggak penting bagi industri jasa keuangan nasional dengan dimulainya pengalihan peraturan dan pengawasan keuangan derivatif ke OJK. Langkah ini diharapkan menyempurnakan integrasi pengawasan sektor jasa keuangan yang lebih terkoordinasi, holistik, dan responsif.
“Pengalihan ini bukan sekadar perubahan kelembagaan, tetapi bagian dari strategi nasional untuk mendorong inovasi produk derivatif, memperkuat perlindungan investor, dan meningkatkan tata kelola guna menjawab kebutuhan pelaku industri yang kian modern dan dinamis,” ujarnya.

