48 Tahun Dihidupkan Kembali, Pasar Modal Indonesia Makin Kompetitif di Kancah Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar Modal Indonesia memperingati 48 tahun sejak diaktifkan kembali, menjadi wadah investasi terintegrasi yang menopang pembangunan ekonomi nasional. Direktur Utama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia Iding Pardi menegaskan, peran pasar modal terus berkembang dari papan perdagangan sederhana menjadi ekosistem modern yang tangguh.
Tahun ini, KPEI menjadi koordinator perayaan HUT ke-48 Pasar Modal Indonesia, yang setiap tahun bergilir di antara Self-Regulatory Organization (SRO) lain seperti Bursa Efek Indonesia dan Kustodian Sentral Efek Indonesia. Mengangkat tema Mewujudkan Ekonomi Mandiri, Berdaulat, dan Maju Bersama, perayaan ini menegaskan tekad seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan pasar modal motor pembiayaan nasional yang berkelanjutan.
Baca Juga
Dua Emiten Jumbo Antre IPO, BEI Siap Lampaui Target Lighthouse 2025
Iding mengungkapkan, sejarah pasar modal di Indonesia penuh dinamika sejak era Hindia-Belanda. Pada masa itu, pasar modal berdiri demi kepentingan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kemudian tutup saat Perang Dunia I, dibuka kembali, lalu kembali vakum di Perang Dunia II. Baru pada 1977, pemerintah menghidupkan kembali pasar modal demi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Sejak itu, berbagai tonggak bersejarah tercapai, mulai dari lahirnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, pendirian KPEI dan KSEI, hingga modernisasi perdagangan melalui scripless trading. Penyelesaian transaksi dipercepat dari T+4 menjadi T+2, dan penggabungan Bursa Efek Jakarta serta Surabaya menjadi Bursa Efek Indonesia. Belakangan, Otoritas Jasa Keuangan dibentuk, diikuti peluncuran instrumen baru seperti bursa karbon dan sistem perdagangan untuk transaksi repo.
Menurut Iding, kemajuan ini tidak lepas dari kolaborasi erat antara regulator, SRO, pelaku pasar, investor, dan masyarakat. Kini, Pasar Modal Indonesia menawarkan beragam instrumen seperti saham, obligasi, reksa dana, ETF, warrant terstruktur, derivatif, hingga instrumen berbasis keberlanjutan seperti IDX karbon. Infrastruktur yang semakin modern membuat pasar modal nasional kompetitif, tidak hanya di tingkat regional tetapi juga global.
Baca Juga
Siapkan Strategi Ini, BEI Bidik 1.200 Emiten dan Market Cap Rp 20.000 Triliun di 2029
“Capaian kinerja pasar modal patut kita syukuri dan banggakan,” ujar Iding. Ia menyoroti indikator yang terus membaik, termasuk nilai kapitalisasi pasar, Indeks Harga Saham Gabungan, jumlah emiten yang hampir menyentuh seribu, dan investor yang menembus 17 juta Single Investor Identification (SID). Nilai transaksi harian rata-rata telah melampaui Rp 13 triliun.
KSEI, KPEI, dan BEI juga mencatat lonjakan nilai aset kelolaan, agunan, serta dana jaminan. Iding optimistis potensi pertumbuhan investor masih besar berkat stabilitas ekonomi domestik, kemajuan teknologi digital, inovasi instrumen, dan pemanfaatan big data untuk pengawasan. Namun, ia mengakui adanya tantangan, mulai dari ketidakpastian global, kedalaman pasar yang masih terbatas, tata kelola emiten, ancaman siber, hingga perlindungan investor.
Baca Juga
BEI Incar Top 10 Market Cap di Dunia di 2029, Sejumlah Aksi Ini Disiapkan
Untuk menjawab tantangan tersebut, agenda strategis pasar modal mencakup peningkatan jumlah dan kualitas emiten, literasi dan inklusi investor, diversifikasi instrumen, pengembangan pasar modal syariah, pembaruan sistem pendukung, penguatan keamanan siber, perluasan keanggotaan, dan optimalisasi big data untuk pengawasan.
“Apresiasi setinggi-tingginya saya sampaikan kepada OJK, SRO, pelaku industri, investor, akademisi, media, serta seluruh pemangku kepentingan yang telah mendukung perkembangan pasar modal Indonesia,” pungkas Iding.
Promo:
Analisis pasar modal kini bisa dilakukan lebih cepat dan akurat dengan InvestingPro — dapatkan diskon eksklusif untuk pembaca Investortrust di tautan berikut:
Klik di sini untuk penawaran spesial InvestingPro

