Bukit Asam (PTBA) Lipatgandakan Produksi Batu Bara Menjadi 100 Juta Ton, Ada Apa?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan melipatgandakan volume produksi batu bara dari saat ini sekitar 43 juta ton menjadi 100 juta ton dalam 3-4 tahun ke depan. Langkah itu ditempuh perseroan antara lain untuk mengantisipasi Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
“Kami akan antisipasi NZE dengan cadangan batu bara kami saat ini. Sebelum NZE terealisasi, kami mau optimalkan volume produksi dalam 3-4 tahun ke depan menjadi 100 juta ton,” kata Direktur Utama Bukit Asam, Arsal Ismail menjawab investortrust.id dalam pertemuan dengan pimpinan redaksi media massa di Jakarta, Kamis (7/8/2025) malam.
Baca Juga
Pendapatan Bukit Asam (PTBA) Semester I Naik Menjadi Rp 20,45 Triliun, Bagaimana dengan Labanya?
Tahun ini, menurut Arsal, Bukit Asam menargetkan volume produksi batu bara sekitar 50 juta ton dibanding realisasi tahun lalu sebanyak 43,3 juta ton. Bukit Asam saat ini memiliki cadangan terbukti batu bara sekitar 2,93 miliar ton dengan sumber daya (potensi cadangan) 5,77 miliar ton.
Bukit Asam mengoperasikan sembilan area tambang. Lima di antaranya berlokasi di Tanjung Enim (Sumatra Selatan), sisanya tersebar di Ombilin (Sumatra Barat), Peranap (Riau), Bantuas (Kalimantan Timur), dan Bukit Kendi (Sumatra Selatan).
Menggenjot volume produksi, kata Arsal Ismail, juga merupakan salah satu strategi Bukit Asam meningkatkan pendapatan (revenue) tahun ini yang tertekan pelemahan harga batu bara di pasar internasional. Dengan menggenjot volume produksi, kinerja keuangan Bukit Asam diharapkan membaik.
Tahun ini, harga batu bara cenderung turun. Berdasarkan data yang dihimpun Datatrust, harga batu bara acuan di pelabuhan Newcastle, Australia pada pertengahan 2025 sekitar US$ 112 per ton dibanding tahun lalu US$ 120-140 per ton.
Sementara itu, harga batu bara acuan (HBA) kalori tinggi yang ditetapkan pemerintah sepanjang pertengahan 2025 mencapai US$ 107 per ton dibanding tahun lalu US$ 120 per ton. Sedangkan HBA kalori menengah sekitar US$ 71,5 per ton dibanding pada 2024 di level US$ 80 per ton. Adapun HBA kalori rendah berkisar US$ 49-50 per ton dari sekitar US$ 50 per ton pada 2024.
Arsal Ismail mengakui, untuk mengejar volume produksi batu bara 100 juta ton, Bukit Asam masih menghadapi sejumlah kendala, di antaranya logistik. “Sekitar 90% batu bara kami diangkut menggunakan kereta api. Nah, kamiberencana memperluas moda angkut untuk meningkatkan kapasitas dan menegosiasikan biaya angkut,” tutur dia.
Arsal mengungkapkan, langkah lain yang di tempuh Bukit Asam untuk memperbaiki kinerja keuangan tahun ini adalah melakukan efisiensi untuk menekan beban pokok pendapatan di tengah pelemahan harga batu bara.
Baca Juga
Hingga semester I-2025, beban pokok pendapatan Bukit Asam meningkat dibanding semester I-2024, dari Rp 16,23 triliun menjadi Rp 18,20 triliun meski pendapatan naik menjadi Rp 20,45 triliun dari sebelumnya Rp 19,64 triliun. Akibatnya, laba bruto tergerus dari Rp 3,40 triliun menjadi Rp 2,24 triliun.
Alhasil, laba periode berjalan emiten bersandi saham PTBA ini anjlok 63% dari Rp 2,05 triliun pada semester I-2024 menjadi Rp 839,90 miliar pada semester I-2025.
Direktur Komersial Bukit Asam, Verisca Hutanto menambahkan, untuk menekan beban pokok pendapatan, perseroan berupaya memangkas biaya produksi dan biaya angkut batu bara, baik melalui kereta api maupun kapal.
“Kami juga berusaha menekan biaya dari sisi kontaktor dan vendor. Jadi, kami negosiasi ulang seluruh biaya, termasuk biaya transportasi,” tutur dia.
Melalui upaya-upaya efisiensi itu, Verisca yakin laba bersih Bukit Asam pada semester II-2025 lebih baik dari semester sebelumnya.

