IHSG Ditutup Berbalik Melemah 0,18%, Berlawanan dengan Kenaikan Pasar Asia
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (7/8/2025), ditutup berbalik melemah sebanyak 13,57 poin (0,18%) menjadi 7.490, berbanding terbalik dengan pasar saham Asia yang ditutup melesat. Penurunan ini melanjutkan koreksi indeks kemarin.
Penurunan tersebut dipicu atas kejatuhan beberapa saham big cap, seperti saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) anjlok hingga auto reject bawah (ARB). Penurunan juga dipicu atas kejatuhan beberapa saham yang dikendalikan Prajogo Pangestu, seperti CDIA, BRPT, CUAN, dan PTRO.
Baca Juga
Lindungi Pelanggan, Indosat (ISAT) Luncurkan Fitur Canggih untuk Cegah Scam dan Spam
Secara sectoral, penurunan terdalam melanda saham sektor teknologi 4,46%, sektor infrastruktur 1,64%, sektor property 0,15%, sektor konsumer non primer 0,17%, dan sektor energi 0,27%. Sisanya mencatatkan penguatan terbesar sektor materal dasar 1,21%.
Meski IHSG melemah, beberapa saham ini justru catatkan kenaikan mengesankan, seperti saham PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) sebanyak 30% menjadi Rp 104, PT First Media Tbk (KBLV) naik 27,78% menjadi Rp 92, PT Martina Berto Tbk (MBTO) naik 27,17% menjadi Rp 117.
Kenaikan pesat juga melanda saham PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk (SMGA) sebanyak 26,88% menjadi Rp 118, PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS) naik 26,51% menjadi Rp 105, dan PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) naik 24,44% menjadi Rp 336.
Sebaliknya penurunan melanda saham LUCK turun 14,71% menjadi Rp 87, JARR turun 10,07% menjadi Rp 625, DCII melemah 10% menjadi Rp 312.300, MFIN turun 9,43% menjadi Rp 720, dan KARW melemah 9,40% menjadi Rp 675.
Baca Juga
Indonesia Teken Perjanjian Dagang dengan Peru 11 Agustus 2025, Tambah Akses Ekspor Baru
Kemarin, IHSG ditutup turun sebanyak 11,43 poin (0,15%) menjadi 7.504 dengan pembelian bersih (net buy) saham mencapai Rp 432,90 miliar. Net buy terbanyak disumbangkan ANTM Rp 233,59 miliar, BRMS Rp 173,59 miliar, dan FILM Rp 140,45 miliar.
Penurunan tersebut terjadi saat sektor material dasar naik 1,83%, sektor energi 1,29%, sektor industry 1,69%, sektor konsumer primer 1,48%, dan sektor property 0,37%. Penurunan disumbangkan saham sektor keuangan, konsumer non primer, konsumer primer, infrastruktur, dan teknologi.

