Sentimen Konglomerat Dongkrak IHSG, Hati-Hati Risiko Koreksi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa waktu terakhir tak lepas dari kuatnya animo investor terhadap saham-saham emiten yang berada di bawah kendali konglomerat besar di Indonesia.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa secara teknikal, banyak saham milik konglomerat seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), hingga PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) menunjukkan lonjakan transaksi signifikan dan menjadi jajaran top active stocks, yang turut menopang pergerakan indeks secara keseluruhan.
“Hal ini mencerminkan bahwa dominasi emiten-emiten konglomerat dalam struktur kapitalisasi pasar IHSG memang signifikan dan menjadi katalis penting bagi pergerakan indeks,” ujar Hendra kepada investortrust.id, Minggu (3/8/2025).
Secara fundamental, Hendra menilai tidak semua saham milik konglomerat mencerminkan kinerja operasional optimal dalam jangka pendek. Misalnya, BRPT dan PANI masih dalam tahap ekspansi dan akumulasi aset, sedangkan AMMN mencatatkan kinerja keuangan yang kuat karena tingginya harga emas dan volume produksi.
“Namun, investor tampaknya tidak hanya melihat dari sisi kinerja semata, melainkan juga dari rekam jejak dan kekuatan manuver para konglomeratnya, seperti Prajogo Pangestu dan keluarga Hartono, yang dikenal piawai dalam melakukan ekspansi dan akuisisi strategis,” lanjutnya.
Menurut Hendra, investor menaruh kepercayaan tinggi terhadap emiten konglomerasi karena faktor kekuatan jaringan bisnis, akses pendanaan besar, hingga dukungan politis yang kuat. Hal ini menumbuhkan ekspektasi bahwa saham-saham tersebut memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi ke depan, meskipun valuasi saat ini tampak mahal.
Faktor lain yang turut mendorong kenaikan harga saham tersebut adalah sentimen strategis seperti potensi aksi korporasi lanjutan—misalnya akuisisi, IPO anak usaha, maupun rights issue—serta persepsi bahwa konglomerat tengah membuka peluang bagi masuknya dana asing atau institusi besar.
Baca Juga
Saham-Saham Emiten Prajogo Pangestu Bikin IHSG Reli, Investor Perlu Waspada
“Selain itu, efek viral di media sosial dan komunitas saham ikut mendorong animo investor ritel untuk memburu saham-saham tersebut, menciptakan efek domino yang memperkuat kenaikannya,” paparnya.
Meski demikian, Hendra mengingatkan bahwa dominasi saham-saham konglomerat tidak bersifat permanen. Kenaikan harga akan bertahan selama sentimen positif masih berlangsung dan tidak terjadi tekanan besar dari faktor global seperti penguatan dolar AS, kebijakan tarif, atau krisis sektor tertentu.
“Jika tidak didukung oleh perbaikan kinerja riil dan hanya ditopang oleh sentimen semata, maka saham-saham tersebut juga rawan terkoreksi tajam,” imbuhnya.
Untuk perdagangan pada Senin (4/8/2025), Hendra memproyeksikan bahwa secara teknikal, saham ADRO berpotensi mengalami rebound dengan target harga Rp2.000, seiring dengan kenaikan indeks sektor energi (IDXENERGY) dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed.
Saham BRMS juga dinilai menarik secara spekulatif dengan target Rp480 karena masih berada dalam tren akumulasi. Sementara itu, SCMA diperkirakan akan menarik minat jika berhasil breakout ke Rp240, dan PSAB memiliki prospek menuju Rp456.

