Saham-Saham Emiten Prajogo Pangestu Bikin IHSG Reli, Investor Perlu Waspada
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam tren reli, antara lain karena terdorong oleh ekspektasi bahwa emiten-emiten grup Prajogo Pangestu bakal masuk indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Namun, investor perlu waspada. IHSG bisa terjungkal jika ekspektasi itu tidak terealisasi.
Chief Economist and Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menilai sentimen saham-saham emiten Prajogo Pangestu memberi efek signifikan terhadap reli pasar belakangan ini.
Baca Juga
IHSG Sepekan: Turun Tipis hinggga Investor Asing Obral Saham BBCA dan BMRI
“Kalau saya lihat, salah satu yang membuat market kemarin reli yaituspekulasi bahwasaham-saham emiten grup Prajogo Pangestu akan masuk MSCI,” ujar Rully saat menjawab pertanyaan investortrust.id di Bogor, Sabtu, (2/8/2025).
IHSG telah melesat 9,8% dalam sebulan terakhir. Bahkan, sepanjang Juli 2025, indeks sempat menyentuh rekor tertinggi tahun ini di level 7.617,90.
Kendati demikian, Rully mengingatkan, spekulasi tersebut belum tentu terealisasi. Bahkan jika tidak terwujud, ekspektasi itu berpotensi menjadi bumerang bagi IHSG. “Kalau spekulasi itu tidak terbukti, IHSG bisa terkoreksi lagi,” imbuh dia.
Ketika ditanya seberapa besar pengaruh sentimen MSCI terhadap pergerakan indeks, Rully mengungkapkan, IHSG akan bergerak di kisaran 7.800-7.900.
MSCI baru-baru ini mencabut perlakuan khusus (exceptional treatment) terhadap tiga saham yang terafiliasi dengan taipan energi Prajogo Pangestu, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Petrosea Tbk (PTRO).
PTRO baru saja menandatangani conditional share sale and purchase agreement untuk mengakuisisi seluruh saham HBS (PNG) Limited beserta anak usahanya (Grup HBS), senilai AU$ 40 juta atau sekitar US$ 25,76 juta.
Baca Juga
Net Sell Berlanjut, Meski IHSG Ditutup Melesat Terdorong Saham Emiten Prajogo
Akuisisi ini akan efektif setelah seluruh persyaratan dalam perjanjian itu terpenuhi. Grup HBS yang berbasis di Papua Nugini merupakan perusahaan penyedia jasa pertambangan dan konstruksi, serta solusi alat berat yang berdiri sejak 2006.

