Saham Asia Pramulia (ASPR) Bakal Bangkit, Target Harga Rp 200
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) diprediksi mulai bangkit setelah ditransaksikan di bawah harga IPO saham sejak listing perdana di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli 2025. Saham ini diprediksi bangkit dengan peluang penguatan menuju level Rp 200.
Terbukanya peluang penguatan mulai terlihat dari lompatan volume dan nilai perdagangan saham APSR di BEI kemarin. Berdasarkan data BEI, sebanyak 274,37 juta saham ASPR ditransaksikan diikuti dengan kenaikan harga mencapai 12,36% menjadi Rp 100.
Baca Juga
Dua Emiten Baru Ramaikan Bursa : PSAT Tembus ARA, ASPR Naik 9,6% di Hari Perdana
Seorang sumber dari pasar menyebutkan bahwa sejumlah pihak berkepentingan untuk mengerek naik harga saham ASPR, karena harga saat ini sudah tak mencerminkan kondisi fundamental setelah berada di bawah harga IPO saham. Penguatan juga didukung aksi koleksi sejumlah investor, seiring dengan proyeksi kinerja keuangan emiten tersebut.
Sebelumnya, ASPR menggelar IPO dengan menerbitkan sebanyak 812.000.000 saham dengan harga penawaran sebesar Rp 124 per saham. Dana yang berhasil dihimpun dari IPO mencapai Rp 100,69 miliar, atau mewakili 29,94% dari modal disetor penuh setelah IPO.
“Kami berharap, langkah IPO ini dapat menjadi pijakan strategis dalam memperkuat struktur permodalan dan mempercepat akselerasi pertumbuhan bisnis perseroan ke depan,” kata Direktur Utama ASPR Ricky Winoto di acara yang sama.
Baca Juga
GIIAS 2025 Digelar, Sejumlah Saham Otomotif Ini Layak Dipertimbangkan
Dana hasil IPO akan digunakan untuk dua fokus utama, sekitar Rp 46,6 miliar akan dialokasikan untuk pembelian mesin-mesin baru, guna mendukung segmen makanan, minuman, kosmetik, farmasi, hingga kimia. Sisanya akan digunakan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku seperti PET dan PP, serta biaya operasional pendukung ekspansi kapasitas.
Dengan penambahan mesin tersebut, ASPR menargetkan peningkatan kapasitas produksi secara signifikan dan efisiensi dalam memenuhi permintaan pasar nasional, khususnya di Pulau Jawa yang menjadi pusat distribusi utama.

