IHSG Berpotensi Menguat Terbatas, Analis Soroti Peluang Saham ADRO hingga TLKM
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu, (23/7/2025) diperkirakan bergerak cenderung konsolidatif dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran 7.280-7.400 di tengah kuatnya likuiditas dan prospek emiten berbasis komoditas.
Pada perdagangan Senin, (22/7/2025) IHSG ditutup koreksi 0,72% ke level 7.344,74 setelah mencatatkan reli panjang selama 12 hari beruntun.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan koreksi ini terjadi meski sempat dibuka menguat di awal sesi, seiring dengan aksi profit taking yang mulai marak dan sikap investor yang cenderung wait and see menjelang musim laporan keuangan emiten kuartal II-2025 serta keputusan suku bunga dari beberapa bank sentral global.
Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah tipis ke Rp 16.305 per dolar AS, meskipun pertumbuhan uang beredar M2 yang naik ke level 6,5% secara tahunan menjadi sinyal positif bagi likuiditas domestik.
"Dari sisi global, tekanan datang dari sentimen kekhawatiran tarif dagang antara AS dan Uni Eropa yang berpotensi menekan permintaan minyak, ditambah antisipasi investor menjelang rilis kebijakan moneter dari European Central Bank," kata Hendra kepada investortrust.id Selasa, (22/7/2025).
Pada perdagangan Senin, (22/7/2025) IHSG ditutup koreksi 0,72% ke level 7.344,74 setelah mencatatkan reli panjang selama 12 hari beruntun.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan koreksi ini terjadi meski sempat dibuka menguat di awal sesi, seiring dengan aksi profit taking yang mulai marak dan sikap investor yang cenderung wait and see menjelang musim laporan keuangan emiten kuartal II-2025 serta keputusan suku bunga dari beberapa bank sentral global.
Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah tipis ke Rp 16.305 per dolar AS, meskipun pertumbuhan uang beredar M2 yang naik ke level 6,5% secara tahunan menjadi sinyal positif bagi likuiditas domestik.
"Dari sisi global, tekanan datang dari sentimen kekhawatiran tarif dagang antara AS dan Uni Eropa yang berpotensi menekan permintaan minyak, ditambah antisipasi investor menjelang rilis kebijakan moneter dari European Central Bank," kata Hendra kepada investortrust.id Selasa, (22/7/2025).
Tak hanya itu, harga minyak pun turut terkoreksi, WTI ditutup turun 0,91% ke US$ 65,35 per barel, sedangkan harga emas sedikit terkoreksi namun masih stabil mendekati level tertinggi lima minggu di tengah ketidakpastian menjelang tenggat kebijakan tarif AS pada 1 Agustus 2025.
Oleh karena itu, Hendra menilai beberapa saham yang layak dicermati di antaranya PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang berpotensi rebound dengan target teknikal di Rp 2.150, didorong oleh sentimen positif dari harga batu bara yang stabil dan rencana ekspansi energi terbarukan.
"Kemudian, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga patut diperhatikan dengan target Rp 3.000, seiring dengan ekspektasi kinerja kuartal II yang solid dan valuasi yang mulai menarik," tambah Hendra.
Selain itu, menurunya, saham kontraktor tambang PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) juga menarik untuk posisi spekulatif dengan target harga di Rp454, ditopang oleh peluang kontrak baru dan sentimen positif dari peningkatan aktivitas pertambangan.
Secara keseluruhan, meski koreksi terjadi, kondisi pasar masih tergolong sehat dengan adanya rotasi sektor dan momentum selektif dari investor menjelang musim laporan keuangan.
“Investor disarankan tetap mencermati saham-saham berfundamental kuat dan berbasis komoditas yang masih menawarkan valuasi menarik di tengah dinamika global," pungkasnya.

